Ancaman Tarif Greenland Trump Picu Lonjakan, Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi

Dalam pekan perdagangan global yang penuh gejolak pada 19 Januari 2026, pasar komoditas menyaksikan pergerakan harga emas yang spektakuler. Logam kuning yang selama ini dipandang sebagai aset safe-haven — instrumen yang dicari oleh investor di masa ketidakpastian — melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high) di atas US$ 4.680 per ons troi. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif perdagangan baru yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, terhadap beberapa negara Eropa terkait isu Greenland.
Fenomena ini bukan sekadar kenaikan harga biasa. Ini adalah refleksi kuat dari bagaimana pasar keuangan merespons risiko sistemik yang semakin nyata — baik dari aspek geopolitik, kebijakan perdagangan, maupun kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Harga emas yang tembus rekor menggarisbawahi satu kenyataan: ketika ekspektasi terhadap masa depan ragu dan investor mencari perlindungan, emas selalu berada di garis depan pilihan investasi.
Apa yang Terjadi dengan Greenland dan Kebijakan Trump?
Isu ini bermula dari pernyataan Presiden AS Donald Trump pada pertengahan Januari 2026 bahwa Washington berencana memberlakukan tarif impor baru kepada negara-negara yang menolak atau tidak mendukung rencana AS untuk mendapatkan kendali atas Greenland — sebuah wilayah luas di bawah Kerajaan Denmark yang memiliki posisi strategis di Kutub Utara.
Trump menyatakan bahwa mulai 1 Februari 2026, tarif impor 10 % akan dikenakan pada barang-barang dari delapan negara Eropa termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan Finlandia apabila mereka terus menolak keinginannya untuk menguasai Greenland. Tarif ini siap dinaikkan menjadi 25 % pada 1 Juni 2026 jika persetujuan penuh tidak tercapai.
Pernyataan ini memicu reaksi keras dari negara-negara Eropa. Para pemimpin di Brussels — termasuk Presiden Komisi dan Dewan Eropa — mengeluarkan peringatan bahwa langkah AS tersebut bisa merusak hubungan Transatlantik dan menciptakan spiral penurunan yang berbahaya dalam kerja sama strategis antara Amerika Serikat dan sekutunya.
Ketegangan ini secara efektif memperkuat sentimen risiko dalam pasar global — terutama pada aset-aset yang berkaitan langsung dengan arus modal global seperti saham, mata uang, dan komoditas. Ketika risiko meningkat, investor sering kali memindahkan modalnya ke instrumen yang dianggap lebih aman, dan emas merupakan salah satu instrumen perlindungan risiko yang paling klasik dan populer.
Bagaimana Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi
Lonjakan harga emas ini merupakan hasil dari gabungan faktor-faktor yang menciptakan tekanan positif pada logam mulia:
1. Permintaan Aset Safe-Haven Meningkat Tajam
Harga emas dan perak naik secara substansial setelah ancaman tarif baru ini diumumkan. Menurut data pasar, spot gold melesat lebih dari 1 % dan mencapai puncak tertinggi di sekitar US$ 4.690 per ons troi pada sesi perdagangan awal di Asia, sebelum sedikit terkoreksi namun tetap berada di level rekor.
Selain itu, perak sebagai logam mulia lain juga melonjak tajam, mencatat level tertinggi di kisaran US$ 93-94 per ons di pasar spot. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya mengincar emas, tetapi juga logam lainnya sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian pasar.
2. Geopolitik yang Meningkatkan Ketidakpastian Pasar
Tarif yang diumumkan Trump terkait Greenland bukan hanya soal perdagangan; hal itu secara tidak langsung menyiratkan potensi perang dagang dan konflik geopolitik yang lebih luas, terutama antara AS dan sekutu Eropa. Ketidakpastian ini menghasilkan arus modal keluar dari aset berisiko seperti saham dan masuk ke aset safe-haven seperti emas.
Pergerakan ini juga membuat angka volatilitas di pasar meningkat dan mendorong dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang safe-haven seperti franc Swiss dan yen Jepang — yang juga ikut mendukung kenaikan harga logam mulia karena emas sering dipandang sebagai aset yang berkinerja baik saat mata uang utama melemah.
3. Pangkas Suku Bunga dan Ekspektasi Moneter Longgar
Selain faktor geopolitik, ada juga sentimen moneter global yang turut memainkan peran. Ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve AS mungkin akan menurunkan suku bunga di kemudian hari juga memberikan dorongan bagi emas. Ketika suku bunga turun atau diperkirakan akan turun, biaya peluang memegang emas (yang tidak memberikan bunga / dividen) menjadi lebih rendah, sehingga menarik lebih banyak pembeli ke pasar logam.
Dampak Lebih Luas terhadap Pasar Global
Kenaikan harga emas bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ini mencerminkan bagaimana pasar global bereaksi terhadap risiko. Pergerakan harga juga berdampak pada berbagai instrumen dan sektor lain, termasuk:
Saham Global Turun dan Volatilitas Meningkat
Indeks saham utama di Eropa dan Asia mencatat koreksi karena investor menilai ketegangan perdagangan dapat berdampak negatif pada aktivitas ekonomi dan perdagangan global. Kinerja indeks seperti FTSE 100, DAX, dan indeks Asia mengalami tekanan jual setelah pengumuman tarif tersebut.
Pasar Mata Uang dan Kripto Terpengaruh
Selain emas, pasar mata uang juga menunjukkan reaksi signifikan. Dolar AS melemah terhadap mata uang safe-haven dan perdagangan mata uang global menjadi lebih volatil. Bahkan pasar kripto ikut terkena dampak — Bitcoin sempat anjlok signifikan seribuan dolar AS dalam waktu singkat akibat gejolak pasar.
Perak, Platinum, dan Logam Industri Lainnya Naik Signifikan
Permintaan terhadap logam industri lain seperti perak juga meningkat tak hanya sebagai safe-haven tetapi juga sebagai komoditas industri yang dibutuhkan di berbagai sektor teknologi dan manufaktur.
Mengapa Investor Memilih Emas di Tengah Ketidakpastian?
Emas mempunyai sejarah panjang sebagai alat lindung nilai dari risiko ekonomi dan geopolitik. Ketika ketidakpastian meningkat — entah karena perang, krisis ekonomi, atau kebijakan perdagangan yang memicu konflik global — emas sering kali dianggap sebagai “surga aman” oleh investor.
Selain itu, emas memiliki sifat yang tidak berkorelasi langsung dengan imbal hasil pasar saham atau obligasi. Ini membuatnya sangat berguna dalam mengurangi volatilitas portofolio investasi. Meski emas tidak memberikan dividen atau bunga, persepsi stabilitas nilainya di masa krisis menjadikannya pilihan utama ketika pasar lain menunjukkan gejolak.
Menghadapi dinamika pasar seperti saat ini, penting bagi setiap investor, baik pemula maupun yang berpengalaman, untuk memahami bagaimana reaksi pasar terhadap berita geopolitik atau kebijakan moneter bisa menciptakan peluang — sekaligus risiko — yang signifikan.
Jika kamu ingin lebih memahami bagaimana perilaku pasar seperti reaksi harga emas terhadap berita geopolitik bisa dimanfaatkan untuk peluang trading yang menguntungkan, penting untuk memperkuat dasar pengetahuan dan strategi trading kamu. Pelajari teknik analisis pasar yang matang, manajemen risiko yang efektif, dan cara membaca sentimen pasar melalui program edukasi trading di [www.didimax.co.id]. Di sana, kamu akan dipandu dari pemula hingga siap memasuki pasar dengan percaya diri dan strategi yang tepat.
Jangan biarkan gejolak pasar membuat kamu kebingungan. Dengan panduan yang tepat, volatilitas seperti yang terjadi akibat ancaman tarif Greenland justru bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan tumbuh sebagai trader yang lebih cerdas. Kunjungi www.didimax.co.id sekarang juga dan mulai perjalanan edukasi trading kamu untuk meraih peluang pasar dengan cara yang lebih profesional dan terukur.