Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Apa yang Harus Dihindari Saat Trading Saat Rilis Data Unemployment Rate

Apa yang Harus Dihindari Saat Trading Saat Rilis Data Unemployment Rate

by Rizka

Apa yang Harus Dihindari Saat Trading Saat Rilis Data Unemployment Rate

Rilis data unemployment rate atau tingkat pengangguran selalu jadi salah satu momen paling ditunggu di kalender ekonomi. Bukan cuma karena sifatnya yang sangat fundamental dan berkaitan langsung dengan kesehatan ekonomi suatu negara, tetapi juga karena dampak volatilitasnya yang bisa bikin market melonjak dalam hitungan detik. Banyak trader pemula maupun berpengalaman yang justru terjebak dalam kegaduhan pasar saat momen ini, sehingga membuat keputusan emosional yang akhirnya berujung pada kerugian besar. Oleh karena itu, memahami apa saja yang perlu dihindari ketika trading pada saat rilis data unemployment rate adalah langkah penting untuk menjaga kualitas trading, disiplin, dan tentunya akun trading itu sendiri.

Dalam artikel panjang ini, kita akan membahas secara mendalam kebiasaan buruk apa saja yang sering dilakukan trader saat momen NFP atau rilis unemployment rate, faktor psikologis yang memengaruhi keputusan, hingga risiko-risiko teknis yang kadang diabaikan. Dengan memahami apa yang harus dihindari, Mas Rizka bakal lebih siap mengelola risiko dan mengambil keputusan yang lebih objektif di tengah kondisi market yang super dinamis.


1. Menghindari Overtrading Menjelang dan Sesudah Rilis Data

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan trader saat menunggu rilis angka unemployment rate adalah overtrading. Banyak yang terjebak pada euforia atau spekulasi sebelum rilis data keluar, sehingga masuk posisi secara agresif tanpa analisis yang jelas. Padahal menjelang rilis data besar, likuiditas pasar biasanya menurun karena pelaku pasar besar mengambil posisi defensif. Ini menyebabkan spread melebar, pergerakan harga jadi erratic, dan eksekusi order mudah tergelincir.

Overtrading juga sering terjadi setelah data dirilis, terutama ketika harga bergerak cepat. Trader yang tidak disiplin suka mengejar harga (chasing the market), berpikir bahwa momentum akan terus berlanjut. Faktanya, pergerakan market setelah rilis data sering kali penuh dengan whipsaw — naik tajam lalu turun tajam atau sebaliknya. Masuk berkali-kali tanpa strategi yang jelas hanya akan membuat risiko meningkat drastis. Yang seharusnya dilakukan adalah menunggu volatilitas mereda sedikit sebelum mengambil keputusan.


2. Jangan Menebak-nebak Angka Unemployment Rate Tanpa Dasar yang Jelas

Banyak trader terjebak pada kesalahan fatal: menebak-nebak hasil rilis data. Spekulasi buta seperti ini sangat berbahaya karena membuat trader masuk market dengan bias emosional. Mereka cenderung hanya melihat satu aspek yaitu “angka diprediksi turun atau naik” tanpa mempertimbangkan komponen lain seperti partisipasi tenaga kerja, pembacaan revisi, data payroll, dan konteks ekonomi makro yang lebih luas.

Unemployment rate tidak bisa dianalisis secara tunggal. Bahkan jika angka aktual berbeda dari prediksi, dampak pergerakan harga bisa berbeda jika data pendukung lainnya menunjukkan arah yang berlawanan. Jadi, menebak angka tanpa memahami keseluruhan narasi ekonomi hanya akan membawa trader ke jebakan emosional.


3. Hindari Masuk Posisi Saat Spread Sedang Melebar

Saat data unemployment rate dirilis, spread sering melonjak tajam. Banyak trader pemula mengabaikan fakta ini dan tetap masuk posisi, padahal spread yang lebar dapat langsung “memotong” margin mereka. Spread yang melebar bukan hanya mengurangi potensi profit, tetapi juga bisa membuat stop loss tersentuh lebih cepat meski arah market sebenarnya belum jelas.

Broker yang berkualitas biasanya memberikan transparansi terkait kondisi spread saat news, namun trader tetap harus bijak. Cara terbaik adalah menghindari entry pada detik-detik sebelum data rilis, atau setidaknya menunggu 3–5 menit setelah berita keluar untuk melihat stabilisasi harga.


4. Jangan Menggunakan Leverage Terlalu Besar

Leverage yang tinggi memang menggoda, apalagi saat data besar seperti unemployment rate rilis dan pergerakan market sangat cepat. Banyak trader berharap posisi kecil bisa menghasilkan profit besar dalam waktu singkat. Tapi di balik peluang itu, ada risiko besar yang sering tidak disadari: dengan leverage tinggi, akun bisa hancur dalam hitungan detik.

Di saat volatilitas ekstrem, harga bisa naik-turun ratusan poin dengan sangat cepat. Dengan leverage besar, floating loss akan membengkak secara brutal, dan margin call bisa terjadi lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Jadi, gunakan leverage dengan bijak dan tetap prioritaskan risiko yang terkendali.


5. Menghindari Trading Tanpa Stop Loss

Ini mungkin sudah terdengar klise, tapi saat news besar seperti unemployment rate rilis, banyak trader yang sengaja tidak memasang stop loss “karena takut kejebak spread.” Padahal justru ketika news rilis, stop loss adalah satu-satunya pelindung akun dari kerugian besar. Tidak memasang stop loss hanya membuat kerugian berpotensi menjadi jauh lebih besar dan bahkan fatal.

Stop loss berfungsi sebagai pagar pengaman, bukan musuh trader. Meski dalam kondisi ekstrem stop loss bisa kena slippage, tetap jauh lebih aman daripada tidak memasangnya sama sekali. Trader profesional tahu bahwa kunci bertahan adalah disiplin risk management, bukan keberanian masuk tanpa batasan.


6. Jangan Bergantung 100% Pada Satu Indikator Teknikal

Saat news besar rilis, indikator teknikal sering tidak akurat. Moving average, RSI, MACD, dan indikator klasik lainnya bisa memberikan sinyal yang menyesatkan karena semuanya adalah lagging indicator — artinya mereka bereaksi setelah harga bergerak. Di momen rilis data unemployment rate, harga bergerak sangat cepat sehingga indikator tidak bisa mengikuti.

Kesalahan besar trader adalah memaksakan analisis teknikal biasa untuk menghadapi kondisi volatil ekstrem. Yang lebih relevan adalah fokus pada price action jangka pendek, struktur market, dan level-level penting seperti support–resistance.


7. Jangan Trading Jika Kondisi Mental Tidak Stabil

Ini bagian yang sering diabaikan. Data unemployment rate menimbulkan volatilitas besar, dan keputusan trading pada kondisi seperti ini sangat dipengaruhi oleh psikologi. Trader yang sedang emosional, stress, overthinking, atau sedang mengalami tekanan hidup biasanya membuat keputusan buruk.

Trading saat mental sedang tidak fit hanya meningkatkan peluang mengulangi kesalahan yang sama: mengejar harga, panik, mengubah stop loss, atau menutup posisi terlalu cepat. Pastikan kondisi mental stabil sebelum memutuskan trading pada event penting seperti unemployment rate.


8. Hindari Memaksakan Profit Target yang Terlalu Besar

Banyak trader berharap bisa mendapat profit besar dalam waktu singkat saat news rilis. Padahal market tidak selalu bergerak sesuai yang dibayangkan. Memasang target profit yang terlalu ambisius dalam kondisi volatil bisa membuat trader melewatkan kesempatan keluar dengan profit yang masuk akal.

Pada rilis news, yang perlu dikejar adalah keamanan dan efisiensi, bukan heroisme. Ambil profit ketika market sudah memberikan kesempatan, dan jangan terlalu tamak.


9. Jangan Masuk Pasar Tanpa Rencana yang Jelas

Trading tanpa rencana adalah seperti masuk hutan tanpa kompas. Trader harus tahu:

  • Entry di mana

  • Exit di mana

  • Stop loss berapa

  • Risiko berapa persen

  • Posisi buy atau sell berdasar analisis apa

  • Apa yang harus dilakukan jika market berbalik arah

Jika semua ini tidak disiapkan sebelum news rilis, trader akan mudah panik dan mengambil keputusan impulsif. Perencanaan adalah kunci utama untuk bertahan di tengah volatilitas tinggi.


10. Hindari Menentang Arah Market

Saat data rilis, banyak trader terlalu percaya pada analisis pribadi dan berusaha melawan arah market. Padahal pasar saat itu digerakkan oleh institusi besar, algoritma, dan jutaan pelaku pasar global. Melawan arus besar hanya akan membuat trader kelelahan dan terkena floating loss besar.

Lebih baik ikut arah yang sedang dominan setelah volatilitas mulai mereda. Trading mengikuti momentum jauh lebih aman dibanding melawan sentimen besar.


Penutup

Memahami apa yang harus dihindari saat rilis data unemployment rate adalah fondasi penting untuk menguasai trading berbasis news. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan trader, Mas Rizka bisa meningkatkan akurasi keputusan, mengontrol risiko, dan menjaga kesehatan akun dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, keberhasilan trading bukan hanya soal mencari peluang profit, tapi juga soal menghindari jebakan besar yang bisa merusak performa. Disiplin, kesabaran, dan edukasi yang tepat adalah kunci untuk menjadi trader yang konsisten.

Jika Mas Rizka ingin belajar lebih dalam mengenai teknik membaca news, strategi menghadapi volatilitas, serta memahami fundamental dengan cara yang lebih praktis dan terstruktur, ayo gabung bersama program edukasi trading resmi di www.didimax.co.id. Didimax menyediakan pembelajaran lengkap dari basic hingga advanced, plus bimbingan langsung dari mentor berpengalaman.

Selain itu, dengan mengikuti edukasi di Didimax, Mas Rizka bisa mendapatkan akses kelas offline, konsultasi pribadi, analisis harian, hingga komunitas trader aktif yang saling support. Ini kesempatan bagus untuk meningkatkan skill dan membangun fondasi trading yang jauh lebih kuat. Yuk, mulai perjalanan trading yang lebih profesional bersama Didimax!