Apakah Bank Holiday Selalu Buruk untuk Trading?
Banyak trader pemula — bahkan sebagian trader berpengalaman — sering menganggap bank holiday sebagai “hari terlarang” untuk trading. Pasar terasa sepi, pergerakan harga lambat, likuiditas menipis, dan spread terkadang melebar. Akibatnya, muncul anggapan bahwa bank holiday selalu buruk, berisiko tinggi, dan sebaiknya dihindari sepenuhnya.
Namun, apakah anggapan tersebut selalu benar?
Apakah setiap bank holiday otomatis berarti tidak ada peluang sama sekali?
Jawabannya: tidak selalu.
Bank holiday memang membawa perubahan pada dinamika pasar, tetapi perubahan itu tidak selalu berarti buruk — selama trader memahami karakteristiknya, risiko yang menyertainya, serta strategi yang tepat untuk menghadapinya.
Mari kita bahas lebih dalam.
Apa Itu Bank Holiday dan Mengapa Berpengaruh?
Bank holiday adalah hari libur resmi bagi lembaga keuangan di suatu negara. Pada hari tersebut:
-
Bank tutup
-
Beberapa institusi keuangan besar tidak beroperasi
-
Volume transaksi berkurang
-
Aktivitas pasar dari negara tersebut melemah
Dalam pasar global seperti forex, saham indeks internasional, maupun komoditas, bank holiday di negara tertentu tetap dapat memengaruhi pasar dunia.
Contohnya:
-
Bank holiday di Amerika Serikat
biasanya memengaruhi USD, indeks saham, emas, dan komoditas lain.
-
Bank holiday di Jepang
dapat mempengaruhi pasangan mata uang ber-denominasi JPY.
-
Bank holiday di Inggris
sering berdampak pada GBP dan pasar London sebagai salah satu pusat keuangan terbesar dunia.
Karena bank-bank besar tidak aktif, pasar kehilangan sebagian sumber likuiditas. Ini yang membuat trader merasa “pasar mati” — padahal kenyataannya, pasar masih bergerak, hanya berbeda karakter.
Risiko Utama Saat Trading di Bank Holiday
Sebelum membahas peluang, kita perlu jujur: bank holiday memang membawa risiko.
Berikut beberapa risiko utamanya.
1. Likuiditas Menipis
Saat pelaku pasar besar beristirahat, jumlah transaksi menurun.
Akibatnya:
-
Order besar sulit tereksekusi
-
Harga bisa bergerak loncat (slippage)
-
Reaksi pasar menjadi tidak konsisten
Trader yang terbiasa scalping atau membuka banyak posisi sangat mungkin merasa frustasi.
2. Spread Bisa Melebar
Broker biasanya menyesuaikan spread ketika volume rendah.
Spread melebar berarti:
-
Biaya masuk pasar lebih besar
-
Profit kecil bisa habis karena biaya transaksi
-
Strategi jangka pendek jadi kurang efektif
3. Pergerakan Harga Sering “Palsu”
Pada hari normal, pasar digerakkan oleh:
-
Institusi besar
-
Bank sentral
-
Hedge fund
-
Investor besar
Namun pada bank holiday, pasar lebih banyak diisi:
Akibatnya:
-
Signal teknikal sering gagal
-
Breakout palsu lebih sering terjadi
-
Harga bergerak acak tanpa arah jelas
Bagi trader yang tidak sabar, kondisi ini bisa memicu overtrading.
Tapi, Apakah Selalu Buruk? Tidak Juga.
Inilah poin utamanya:
bank holiday tidak selalu buruk — yang buruk adalah trading tanpa memahami konteksnya.
Mari kita lihat beberapa hal yang sebenarnya bisa menjadi keuntungan.
1. Pasar Cenderung Lebih Tenang
Untuk trader tertentu — terutama swing trader — kondisi pasar yang lebih tenang justru membantu:
Alih-alih masuk posisi, banyak trader memanfaatkan momen ini untuk:
Jadi, bank holiday dapat menjadi momen observasi, bukan spekulasi.
2. Momentum Besar Sering Terjadi Setelah Bank Holiday
Ketika pasar kembali aktif, sering muncul:
-
Gap pembukaan
-
Lonjakan volume
-
Breakout signifikan
Trader yang sudah melakukan persiapan sebelumnya lebih siap dibanding mereka yang asal masuk.
Dengan kata lain:
Bank holiday bukan tentang mengejar profit saat pasar sepi,
tetapi mempersiapkan strategi ketika pasar kembali normal.
3. Cocok untuk Evaluasi dan Manajemen Risiko
Di hari biasa, trader sering terjebak:
-
Emosi
-
FOMO
-
Keinginan balas kerugian
Bank holiday memberi ruang untuk:
Banyak trader profesional justru mengatakan:
“Hari libur pasar adalah hari terbaik untuk memperbaiki mindset.”
Kapan Bank Holiday Benar-Benar Berisiko?
Walaupun tidak selalu buruk, ada situasi di mana lebih baik benar-benar menghindari trading.
-
Saat ada news besar menunggu setelah libur
Pasar bisa melonjak tanpa arah jelas.
-
Saat spread broker terlalu lebar
Biaya trading tidak sebanding dengan peluang.
-
Ketika tidak ada rencana trading
Trading karena bosan adalah kesalahan klasik.
Jika tiga kondisi ini muncul, berhenti trading adalah pilihan bijak.
Jadi, Apa Sikap Terbaik Saat Bank Holiday?
Bukan berhenti total tanpa alasan.
Bukan juga memaksa trading hanya karena ingin profit.
Sikap terbaik:
-
Kenali jenis trader dirimu
-
Scalper → sebaiknya hindari
-
Day trader → pilih pair yang tetap aktif
-
Swing trader → gunakan untuk analisis
-
Kurangi lot
Jika tetap trading, lebih aman mengecilkan risiko.
-
Fokus pada edukasi
Bank holiday adalah waktu emas untuk belajar lebih dalam tentang:
Trader yang bertahan lama bukan yang paling sering trading —
melainkan yang paling banyak belajar dan mampu mengontrol risiko.
Pasar memang menarik, tetapi disiplin jauh lebih penting daripada sekadar mengejar profit sesaat. Bank holiday bukan musuh, melainkan momen yang bisa digunakan untuk berkembang.
Di sinilah edukasi berperan besar. Tanpa pemahaman yang benar, trader mudah salah langkah, terutama di kondisi pasar yang tidak ideal.
Jika kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana membaca kondisi pasar, menyusun strategi yang tepat di berbagai situasi — termasuk saat bank holiday — kamu bisa mengikuti program edukasi trading yang komprehensif, terstruktur, dan dibimbing langsung oleh mentor berpengalaman melalui platform resmi Didimax. Materinya disusun agar mudah dipahami, bahkan untuk pemula, namun tetap relevan bagi trader yang sudah lebih lama berkecimpung.
Kamu bisa belajar mulai dari dasar, manajemen risiko, analisis teknikal, hingga cara membangun trading plan yang realistis — semuanya tanpa biaya edukasi. Kunjungi langsung situs resminya di www.didimax.co.id dan manfaatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas trading kamu sebelum kembali aktif di pasar.