Apakah USD di Ambang Penurunan Besar? Ketika Trump Justru Menyambut Dolar yang Melemah

Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat (USD) selalu dipandang sebagai simbol kekuatan ekonomi global. Ketika dunia bergejolak, investor berlari ke USD. Ketika krisis melanda, dolar sering kali justru menguat. Namun memasuki periode politik dan ekonomi yang semakin kompleks, muncul satu pertanyaan besar yang mulai sering dibahas di ruang-ruang diskusi global: apakah USD sedang berada di ambang penurunan besar?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan sikap Donald Trump—figur politik yang berpotensi kembali memegang kekuasaan—yang justru terlihat tidak alergi, bahkan cenderung menyambut, dolar yang melemah. Di mata banyak orang, ini terdengar kontradiktif. Bukankah negara adidaya seharusnya menginginkan mata uang yang kuat?
Faktanya, realitas ekonomi tidak sesederhana itu.
Dolar Kuat: Kebanggaan atau Beban?
Dolar yang kuat memang mencerminkan kepercayaan global terhadap ekonomi Amerika Serikat. Namun di sisi lain, dolar yang terlalu kuat justru bisa menjadi beban bagi perekonomian domestik AS, terutama sektor manufaktur dan ekspor.
Ketika USD menguat:
-
Produk Amerika menjadi lebih mahal di pasar global
-
Ekspor melemah
-
Neraca perdagangan memburuk
-
Industri dalam negeri kehilangan daya saing
Inilah salah satu alasan mengapa Trump, sejak masa kepresidenannya, kerap melontarkan kritik terhadap dolar yang terlalu kuat. Ia berulang kali menuding bahwa kekuatan dolar membuat Amerika kalah bersaing dengan China, Eropa, dan negara-negara berkembang yang mata uangnya relatif lebih lemah.
Dalam perspektif Trump, dolar yang melemah bukanlah ancaman, melainkan alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Trump dan Strategi “America First”
Slogan “America First” bukan sekadar jargon politik. Ia mencerminkan cara pandang ekonomi yang sangat pragmatis: apa pun yang menguntungkan industri dan tenaga kerja Amerika akan dianggap benar, termasuk soal nilai tukar.
Trump secara terbuka pernah menyatakan bahwa:
-
Kebijakan The Fed yang membuat dolar terlalu kuat merugikan AS
-
Negara lain sengaja melemahkan mata uang mereka demi ekspor
-
AS seharusnya tidak selalu bermain “fair” jika ingin menang dalam persaingan global
Pernyataan-pernyataan ini mengirimkan sinyal jelas ke market bahwa pemerintahan Trump tidak keberatan jika USD melemah, selama itu mendukung agenda ekonomi nasional.
Dan market selalu sensitif terhadap sinyal semacam ini.
The Fed, Suku Bunga, dan Tekanan terhadap USD
Salah satu faktor utama kekuatan dolar adalah kebijakan moneter The Federal Reserve. Suku bunga tinggi membuat USD menarik, karena investor global mencari imbal hasil yang lebih besar. Namun kondisi ekonomi global 2025–2026 mulai menunjukkan tantangan baru:
-
Perlambatan ekonomi global
-
Tekanan utang pemerintah AS yang semakin besar
-
Risiko resesi ringan hingga menengah
-
Kebutuhan stimulus untuk menjaga pertumbuhan
Jika The Fed mulai lebih dovish—misalnya dengan menurunkan suku bunga atau menghentikan kebijakan pengetatan—maka daya tarik USD bisa berkurang. Ditambah tekanan politik dari tokoh seperti Trump, independensi kebijakan moneter bisa berada di bawah sorotan tajam.
Market tidak menunggu kebijakan benar-benar terjadi. Ekspektasi saja sudah cukup untuk menggerakkan harga.
Defisit Kembar: Bom Waktu Dolar?
AS saat ini menghadapi apa yang sering disebut sebagai twin deficits:
-
Defisit anggaran
-
Defisit neraca perdagangan
Kombinasi ini dalam jangka panjang berpotensi menekan nilai tukar mata uang. Ketika pemerintah terus mencetak utang untuk membiayai pengeluaran, sementara impor lebih besar dari ekspor, kepercayaan terhadap mata uang bisa perlahan terkikis.
Selama ini, status USD sebagai reserve currency dunia menahan dampak tersebut. Namun dunia mulai berubah:
-
BRICS membahas perdagangan non-dolar
-
China dan Rusia memperluas penggunaan mata uang lokal
-
Bank sentral mulai melakukan diversifikasi cadangan
Apakah ini berarti kejatuhan dolar akan terjadi besok? Tentu tidak. Namun dominasi USD tidak lagi absolut, dan ini membuka ruang bagi pelemahan struktural dalam jangka panjang.
Ketika Dolar Melemah, Siapa yang Diuntungkan?
Pelemahan USD tidak selalu berarti kekacauan. Justru ada pihak-pihak yang diuntungkan, antara lain:
-
Eksportir Amerika
-
Pasar saham AS (karena pendapatan luar negeri meningkat dalam USD)
-
Negara berkembang dengan utang dolar (jika pelemahan terkendali)
-
Komoditas seperti emas dan minyak
Inilah sebabnya banyak investor global tidak serta-merta panik ketika melihat dolar melemah. Yang menjadi masalah adalah pelemahan yang tidak terkontrol, bukan pelemahan yang terarah dan strategis.
Trump tampaknya lebih menyukai skenario kedua.
Dampaknya bagi Trader Forex dan Komoditas
Bagi trader, isu ini adalah ladang peluang sekaligus risiko besar. Ketika USD berada dalam fase ketidakpastian:
-
Volatilitas meningkat
-
Pergerakan harga menjadi lebih liar
-
False breakout sering terjadi
-
Sentimen politik lebih dominan dari data ekonomi
Trader yang hanya mengandalkan indikator teknikal tanpa memahami konteks fundamental berisiko besar salah membaca market. Sebaliknya, trader yang memahami narasi besar di balik pergerakan USD bisa lebih siap menghadapi perubahan arah market.
Di fase seperti ini, manajemen risiko dan pengaturan lot jauh lebih penting dibanding sekadar mencari entry terbaik.
Apakah Ini Awal Tren Turun Jangka Panjang USD?
Jawaban jujurnya: belum ada kepastian mutlak. Namun tanda-tandanya layak diperhatikan:
-
Tekanan politik terhadap kebijakan moneter
-
Ketegangan geopolitik yang menggerus dominasi dolar
-
Perubahan struktur ekonomi global
-
Narasi politik yang tidak lagi memuja dolar kuat
Bagi trader dan investor, yang terpenting bukan menebak masa depan dengan pasti, melainkan bersiap menghadapi berbagai skenario.
Market tidak menghukum mereka yang salah arah. Market menghukum mereka yang tidak siap.
Kesimpulan: Waspada, Bukan Panik
USD mungkin tidak sedang menuju kehancuran, tetapi era kenyamanan bisa jadi telah berakhir. Ketika tokoh sekelas Trump secara terbuka menyambut dolar yang melemah, itu adalah sinyal bahwa paradigma lama sedang diuji.
Bagi trader, ini bukan waktu untuk spekulasi liar, melainkan waktu untuk:
-
Memperdalam pemahaman fundamental
-
Menyesuaikan strategi dengan kondisi market
-
Mengelola risiko secara lebih disiplin
Dalam dunia trading, perubahan besar selalu diawali oleh perubahan narasi. Dan narasi tentang USD saat ini sedang bergerak ke arah yang sangat menarik—sekaligus menantang.
Memahami dinamika dolar, kebijakan global, dan sentimen politik bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi siapa pun yang serius di dunia trading. Tanpa bekal edukasi yang tepat, trader akan mudah terjebak dalam euforia atau kepanikan sesaat yang justru menggerus akun secara perlahan.
Jika kamu ingin belajar membaca market secara lebih utuh—menggabungkan analisis fundamental, teknikal, dan manajemen risiko yang relevan dengan kondisi global saat ini—mengikuti program edukasi trading yang tepat bisa menjadi langkah awal yang sangat menentukan. Program edukasi dari broker berpengalaman seperti yang tersedia di www.didimax.co.id dirancang untuk membantu trader memahami market secara realistis, bukan sekadar teori.
Di tengah ketidakpastian arah USD dan meningkatnya volatilitas global, keputusan terbaik adalah membekali diri dengan ilmu dan strategi yang teruji. Melalui program edukasi trading di www.didimax.co.id, kamu bisa belajar langsung bagaimana menghadapi market yang berubah, mengelola risiko dengan lebih bijak, dan membangun fondasi trading yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar profit sesaat.