AS Tidak Lagi Shutdown! Inilah Dampaknya bagi EUR/USD, GBP/USD, dan Gold
Berakhirnya government shutdown di Amerika Serikat selalu menjadi momen penting yang langsung disorot oleh pelaku pasar global. Tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi domestik AS, tetapi juga memberikan efek luas terhadap sentimen risiko, arus modal, hingga volatilitas major pairs seperti EUR/USD, GBP/USD, serta komoditas utama seperti emas. Pada Jumat, 21 November 2025, pemerintah AS secara resmi kembali beroperasi setelah kebuntuan anggaran yang berlangsung selama beberapa hari. Bagi trader forex dan komoditas, kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pasar akan kembali stabil atau justru memasuki fase pergerakan ekstrem?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bagaimana berakhirnya shutdown dapat mengubah persepsi investor, menggerakkan indeks dolar AS (DXY), serta memicu penyesuaian posisi besar-besaran pada pasangan mata uang dan aset safe haven. Shutdown pada dasarnya menimbulkan ketidakpastian fiskal—dan ketika ketidakpastian itu berakhir, reaksi pasar biasanya terjadi secara cepat dan signifikan. Hal inilah yang membuat periode pasca-shutdown sering menjadi momen volatil yang menghasilkan berbagai peluang trading.
1. Dampak Langsung pada Sentimen Pasar Global
Ketika shutdown berakhir, pelaku pasar langsung menilai dua hal: stabilitas anggaran pemerintah dan kemampuan ekonomi AS untuk tetap tumbuh. Pasar biasanya merespons positif karena kembalinya aktivitas pemerintahan berarti data-data ekonomi—yang sebelumnya tertunda—bisa kembali dirilis, program-program federal berjalan, dan ketidakpastian fiskal mereda.
Sentimen risiko (risk sentiment) juga biasanya mengalami perubahan cepat: aset berisiko cenderung menguat, sedangkan safe haven seperti emas bisa mengalami koreksi. Namun respons ini tidak selalu linear, sebab investor tetap memperhitungkan potensi konsekuensi jangka panjang seperti defisit anggaran, kebijakan moneter The Fed, serta kemungkinan shutdown kembali terjadi jika masalah politik belum sepenuhnya selesai.
2. Pengaruh pada Dolar AS dan Indeks DXY
Dolar AS hampir selalu menjadi fokus utama setelah shutdown berakhir. DXY (US Dollar Index) sering menunjukkan penguatan karena:
-
pasar menilai stabilitas pemerintahan sebagai faktor pendukung ekonomi,
-
kembalinya publikasi data ekonomi membuka jalan bagi spekulasi kebijakan suku bunga,
-
meningkatnya permintaan dolar akibat aliran modal kembali ke AS.
Namun, dalam beberapa kasus, dolar justru melemah sesaat setelah shutdown usai. Mengapa? Karena investor mengambil peluang untuk melepas posisi dolar yang sudah menguat selama masa ketidakpastian. Jadi, arah DXY pada periode seperti ini sangat bergantung pada ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed, terutama terkait perang suku bunga dan inflasi.
Dengan memahami dinamika ini, trader dapat memperkirakan bagaimana perubahan pada dolar akan menciptakan peluang pada EUR/USD, GBP/USD, maupun emas.
Dampaknya bagi EUR/USD
EUR/USD adalah pasangan mata uang paling likuid dan paling dipengaruhi oleh perubahan sentimen global. Setelah shutdown AS berakhir, ada beberapa skenario yang biasanya muncul:
Skenario 1: Dolar Menguat → EUR/USD Turun
Ini terjadi ketika:
-
Pasar menilai pemulihan pemerintahan sebagai tanda stabilitas.
-
Data ekonomi AS yang tertunda berpotensi menunjukkan hasil positif.
-
Spekulasi The Fed menahan suku bunga lebih lama meningkat.
Dalam kondisi ini, EUR/USD biasanya menghadapi tekanan bearish, terutama jika data Eropa seperti PMI atau inflasi menunjukkan pelemahan.
Skenario 2: Dolar Melemah → EUR/USD Naik
Ini mungkin terjadi jika:
-
Investor melakukan profit-taking massal pada dolar.
-
Data ekonomi AS yang dirilis setelah shutdown ternyata lebih buruk dari perkiraan.
-
ECB mengeluarkan pernyataan hawkish atau menunjukkan optimisme ekonomi Zona Euro.
Trader perlu memperhatikan level-level teknikal penting, karena periode pasca-shutdown sering memicu breakout palsu (fake breakout) akibat volatilitas yang meningkat.
Dampaknya bagi GBP/USD
Poundsterling memiliki karakter unik karena sensitif terhadap isu domestik Inggris seperti inflasi, kebijakan Bank of England (BoE), serta perkembangan ekonomi pasca-Brexit. Namun, berakhirnya shutdown AS tetap memberikan dampak besar, terutama melalui perubahan kekuatan dolar.
GBP/USD Bisa Menguat Jika Sterlin Lebih Solid daripada Dolar
Hal ini terjadi ketika:
-
BoE memberikan sinyal hawkish terkait inflasi Inggris,
-
Data ekonomi Inggris lebih stabil dibanding AS,
-
Pelaku pasar menilai dolar akan melemah pasca-shutdown.
Jika kondisi-kondisi tersebut terpenuhi, GBP/USD bisa mengalami bullish rally.
GBP/USD Bisa Tertekan Jika Dolar Mendominasi
Jika shutdown berakhir dan pasar langsung merespons dengan “risk-off reversal”, dolar akan menguat seketika. Pound sering kali tertekan dalam situasi seperti ini, terutama jika Inggris sedang menghadapi tekanan ekonomi internal seperti:
Tidak jarang GBP/USD mengalami pergerakan ratusan pip dalam 1–2 hari setelah shutdown berakhir, menjadikannya pasangan yang penuh peluang bagi trader berpengalaman.
Dampaknya bagi Gold (XAU/USD)
Emas adalah aset yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen pasar, imbal hasil obligasi AS (Treasury yields), dan kekuatan dolar. Ketika shutdown berakhir, emas sering kali mengalami reaksi yang cukup agresif.
1. Emas Bisa Turun Jika Risiko Mereda
Ketika kepercayaan pasar meningkat, investor cenderung keluar dari aset aman seperti emas dan kembali ke aset berisiko. Hal ini menciptakan tekanan bearish pada XAU/USD.
2. Namun Emas Bisa Naik Jika Pasar Menilai Shutdown Memicu Risiko Jangka Panjang
Contohnya:
-
Kekhawatiran defisit anggaran AS meningkat.
-
Ketidakpastian politik dianggap belum selesai.
-
The Fed berpotensi melakukan kebijakan dovish setelah terganggu oleh shutdown.
Dalam situasi ini, emas justru bisa menarik minat beli baru sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian jangka panjang.
3. Peran Yield dan Dolar Sangat Penting
Dampak shutdown terhadap emas sangat terkait dengan arah Treasury yield:
Karena itu, trader emas perlu memperhatikan dinamika yield AS yang biasanya bergerak cepat setelah shutdown berakhir.
Strategi Trading Setelah Shutdown AS Berakhir
1. Gunakan Pendekatan “Wait and See” dalam 24–48 Jam Pertama
Karena volatilitas sangat tinggi, entry yang tergesa-gesa bisa berisiko besar.
2. Fokus pada Level Teknis Kunci
Pasangan seperti EUR/USD dan GBP/USD sering melakukan retest sebelum bergerak ke arah utama.
3. Pantau Jadwal Rilis Data AS
Data ekonomi yang tertunda akibat shutdown bisa dirilis secara beruntun, memicu pergerakan besar.
4. Prioritaskan Manajemen Risiko
Shutdown berakhir bukan berarti volatilitas mereda; justru dalam banyak kasus, pasar masih “mencari arah”.
Berakhirnya shutdown AS memang membuka peluang baru di pasar forex dan emas, tetapi peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan dengan baik jika Anda memahami dinamika fundamental, mampu membaca arah pasar secara teknikal, dan bergerak berdasarkan strategi yang terarah. Banyak trader melakukan kesalahan karena terburu-buru masuk pasar tanpa analisis mendalam, padahal periode setelah shutdown biasanya penuh pergerakan tak terduga.
Jika Anda serius ingin meningkatkan skill trading, memahami perilaku pasar di momen penting seperti ini adalah sebuah keharusan. Anda bisa belajar lebih dalam tentang analisis fundamental, membaca candlestick, strategi entry, manajemen risiko, hingga cara memprediksi pergerakan major pairs bersama mentor profesional.
Untuk membantu Anda berkembang sebagai trader yang lebih matang, Anda dapat mengikuti program edukasi trading gratis di Didimax melalui www.didimax.co.id. Di sana Anda bisa berdiskusi langsung dengan mentor berpengalaman dan mendapatkan bimbingan analisis harian agar lebih percaya diri saat mengambil keputusan trading.