Bagaimana Menentukan Berapa Persen Total Aset yang Boleh untuk Trading?
Trading sering dipromosikan sebagai jalan cepat untuk mengembangkan aset. Dengan kemajuan teknologi dan akses platform yang makin mudah, siapa pun kini bisa masuk ke pasar—baik itu forex, saham, komoditas, maupun kripto—hanya dari ponsel. Namun di balik kemudahan itu, ada satu pertanyaan krusial yang sering diabaikan:
Berapa persen total aset yang sebenarnya aman dan bijak untuk dialokasikan ke trading?
Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya tidak bisa sembarangan. Salah menentukan porsi bisa berakibat fatal—mulai dari tekanan psikologis, gangguan keuangan pribadi, hingga kerugian besar yang menggerus kestabilan hidup.
Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana menentukan persentase ideal aset untuk trading, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, hingga strategi praktis agar Anda tetap aman secara finansial dan mental.
Trading Bukan Tabungan, Bukan Dana Darurat
Hal pertama yang perlu dipahami: trading adalah aktivitas berisiko tinggi.
Tidak peduli seberapa berpengalaman Anda, tidak ada trader yang selalu untung. Bahkan trader profesional pun mengalami drawdown (penurunan ekuitas) dalam periode tertentu.
Karena itu, dana untuk trading bukan:
-
Dana darurat
-
Dana kebutuhan bulanan
-
Dana cicilan
-
Dana pendidikan anak
-
Dana pensiun utama
Trading menggunakan dana yang memang siap untuk berisiko.
Prinsip dasarnya sederhana:
Jika uang itu hilang, hidup Anda tidak boleh ikut hancur.
Kalau kehilangan dana trading membuat Anda panik, tidak bisa tidur, atau mengganggu kebutuhan utama, berarti porsinya terlalu besar.
Kenali Dulu Struktur Total Aset Anda
Sebelum menentukan persentase, Anda harus tahu dulu struktur total aset yang dimiliki.
Secara umum, aset pribadi bisa dibagi menjadi:
-
Aset likuid (tabungan, deposito, kas)
-
Aset investasi jangka panjang (properti, saham investasi, emas)
-
Dana darurat (idealnya 6–12 bulan pengeluaran)
-
Aset produktif (bisnis, usaha)
-
Aset spekulatif (trading)
Trading masuk kategori aset spekulatif karena nilainya bisa naik turun secara cepat dan signifikan.
Jika seluruh aset Anda masih dalam bentuk kas dan belum punya dana darurat, maka jawabannya simpel: jangan trading dulu.
Bangun fondasi dulu. Trading itu bukan fondasi keuangan, melainkan alat akselerasi.
Rekomendasi Umum: 5% – 20% dari Total Aset
Secara konservatif, banyak perencana keuangan menyarankan alokasi trading di kisaran:
Namun angka ini bukan aturan kaku. Ini hanya kerangka berpikir.
Mari kita bahas lebih detail.
1. Untuk Pemula: Mulai dari 5% atau Kurang
Jika Anda masih dalam tahap belajar:
-
Masih sering ganti strategi
-
Masih emosional saat loss
-
Belum punya risk management konsisten
-
Belum punya trading journal rapi
Maka 5% dari total aset sudah lebih dari cukup.
Kenapa kecil?
Karena di fase ini tujuan Anda bukan profit maksimal. Tujuan utama adalah:
-
Belajar membaca pasar
-
Belajar mengelola emosi
-
Belajar disiplin
-
Belajar manajemen risiko
Trading di fase awal adalah biaya pendidikan.
Lebih baik kehilangan 5% dari aset total daripada 50% karena terlalu percaya diri.
2. Untuk Trader Intermediate: 10% – 15%
Jika Anda sudah:
-
Punya sistem trading jelas
-
Konsisten menggunakan stop loss
-
Mengelola risiko maksimal 1–2% per transaksi
-
Mampu menerima loss tanpa overtrading
Maka alokasi bisa dinaikkan secara bertahap.
Namun ingat, kenaikan alokasi harus seiring dengan:
Jangan menaikkan modal hanya karena satu bulan profit besar. Trading bukan sprint, tapi maraton.
3. Untuk Trader Profesional: Hingga 20% (Dengan Syarat Ketat)
Trader profesional biasanya:
-
Memiliki track record panjang
-
Menggunakan manajemen risiko disiplin
-
Tidak mempertaruhkan lebih dari 1–2% per trade
-
Memiliki diversifikasi sumber penghasilan
Bahkan di level profesional, jarang ada yang mengalokasikan seluruh asetnya ke trading.
Kenapa?
Karena trader berpengalaman tahu bahwa pasar tidak selalu ramah.
Faktor Penentu Persentase Trading
Sekarang kita masuk ke faktor-faktor yang harus Anda pertimbangkan sebelum menentukan angka pasti.
1. Stabilitas Penghasilan
Jika Anda punya penghasilan tetap dan stabil, risiko bisa sedikit lebih fleksibel.
Namun jika penghasilan Anda tidak tetap (freelancer, komisi, bisnis fluktuatif), alokasi trading sebaiknya lebih konservatif.
Trading dengan tekanan kebutuhan hidup adalah resep overtrading.
2. Toleransi Risiko Pribadi
Ada orang yang melihat floating minus 5% sudah panik. Ada juga yang tetap tenang di minus 20%.
Anda harus jujur pada diri sendiri.
Jika Anda tipe yang mudah stres, lebih baik alokasi kecil tapi konsisten daripada besar tapi mental hancur.
3. Tujuan Finansial
Apakah trading menjadi:
Semakin vital perannya dalam keuangan Anda, semakin hati-hati porsinya.
Ironisnya, jika trading adalah satu-satunya harapan keuangan Anda, justru seharusnya porsinya kecil dulu sampai benar-benar stabil.
4. Diversifikasi Investasi
Semakin terdiversifikasi aset Anda (properti, saham investasi, bisnis), semakin fleksibel ruang untuk trading.
Namun jika 90% aset Anda hanya di kas dan trading, itu bukan diversifikasi—itu spekulasi.
Jangan Hanya Fokus pada Persentase Total Aset
Menentukan 10% dari total aset saja belum cukup.
Yang lebih penting adalah:
Berapa persen risiko per transaksi?
Contoh:
Jika total aset Anda Rp 500 juta dan Anda alokasikan 10% untuk trading (Rp 50 juta), lalu Anda mempertaruhkan 20% per transaksi, maka satu kesalahan bisa menghabiskan Rp 10 juta dalam satu trade.
Itu bukan manajemen risiko.
Prinsip sehat dalam trading adalah:
Dengan risk management yang benar, bahkan modal kecil bisa berkembang.
Simulasi Sederhana
Misalkan:
Anda bisa mengalokasikan 5–10% dari total aset (Rp 15–30 juta) untuk trading.
Namun dari Rp 30 juta itu, risiko per trade maksimal hanya Rp 300–600 ribu (1–2%).
Terlihat kecil? Ya.
Tapi trading yang sehat memang membosankan.
Yang berbahaya biasanya justru yang terlihat “menarik”.
Kesalahan Umum dalam Menentukan Modal Trading
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
-
Menggunakan seluruh tabungan karena “yakin”
-
Menambah modal setelah loss untuk balas dendam
-
Meminjam uang untuk trading
-
Menggunakan dana darurat
-
Trading tanpa rencana risiko
Jika Anda pernah melakukan salah satu di atas, itu tanda bahwa pengelolaan aset perlu diperbaiki.
Naikkan Modal Secara Bertahap, Bukan Emosional
Kenaikan alokasi trading harus dilakukan seperti perusahaan meningkatkan kapasitas produksi—berdasarkan data, bukan perasaan.
Misalnya:
Bukan:
Pasar tidak peduli dengan rasa percaya diri Anda.
Intinya: Trading Itu Bagian dari Strategi, Bukan Seluruh Strategi
Menentukan berapa persen aset untuk trading bukan soal angka pasti. Ini soal keseimbangan antara:
-
Ambisi
-
Realitas
-
Psikologi
-
Manajemen risiko
-
Tujuan jangka panjang
Jika Anda ingin bertahan lama di dunia trading, fokuslah pada perlindungan aset dulu, pertumbuhan nanti.
Trader yang bertahan 10 tahun bukan yang paling agresif.
Biasanya justru yang paling disiplin.
Penutup
Trading bisa menjadi alat yang luar biasa untuk mempercepat pertumbuhan aset—asal dilakukan dengan perhitungan matang. Mengalokasikan 5% hingga 20% dari total aset adalah kerangka yang masuk akal, namun keputusan akhir tetap harus disesuaikan dengan kondisi keuangan, pengalaman, dan stabilitas psikologis Anda.
Jangan terburu-buru mengejar profit besar dengan mempertaruhkan kestabilan hidup. Keuangan yang sehat selalu dibangun dari fondasi yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, dan proses belajar yang berkelanjutan.
Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang cara mengelola risiko, menyusun strategi trading yang terukur, dan membangun sistem yang konsisten, mengikuti program edukasi yang tepat bisa menjadi langkah penting. Program pembelajaran di Didimax dirancang untuk membantu trader pemula hingga lanjutan memahami bukan hanya cara entry dan exit, tetapi juga bagaimana mengelola modal secara profesional dan berkelanjutan.
Kunjungi www.didimax.co.id dan pelajari bagaimana pendekatan edukasi yang terstruktur dapat membantu Anda menentukan alokasi aset yang tepat, membangun mental trading yang kuat, serta meningkatkan peluang sukses dalam jangka panjang. Karena dalam trading, yang paling penting bukan seberapa cepat Anda untung, tetapi seberapa lama Anda bisa bertahan dan berkembang.