Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Bagaimana Safe-Haven Currencies Bereaksi Saat Perang Oil Meletus

Bagaimana Safe-Haven Currencies Bereaksi Saat Perang Oil Meletus

by Muhammad

Bagaimana Safe-Haven Currencies Bereaksi Saat Perang Oil Meletus

Di tengah gejolak geopolitik, ada satu pola lama yang hampir selalu muncul kembali: ketika pasar panik, para investor mencari perlindungan. Di dunia forex, perlindungan itu sering diwujudkan dalam bentuk safe-haven currencies — mata uang yang dianggap lebih stabil, lebih terpercaya, dan cenderung bertahan ketika badai ekonomi datang.

Namun, ketika yang mengguncang pasar adalah perang minyak (oil war) — konflik geopolitik yang mempengaruhi produksi, distribusi, dan harga minyak dunia — dinamika menjadi lebih kompleks. Minyak bukan sekadar komoditas; ia adalah bahan bakar ekonomi global. Lonjakan harga minyak dapat menggerus profit perusahaan, memicu inflasi, memperlebar defisit negara pengimpor, dan pada akhirnya mendorong volatilitas besar di pasar keuangan.

Pertanyaannya:
bagaimana sebenarnya safe-haven currencies bereaksi saat perang minyak meletus?
Apakah selalu menguat, atau justru kadang melemah karena tekanan faktor lain?

Mari kita bahas secara lebih mendalam.


Apa Itu Safe-Haven Currencies?

Safe-haven currencies adalah mata uang yang:

  1. Didukung ekonomi yang relatif stabil

  2. Memiliki sistem keuangan yang kuat dan transparan

  3. Dipercaya investor global sebagai tempat “menyimpan nilai”

  4. Tidak bergantung terlalu besar pada komoditas berisiko

Secara umum, beberapa mata uang yang sering disebut safe haven antara lain:

  • USD (US Dollar)

  • JPY (Japanese Yen)

  • CHF (Swiss Franc)

Masing-masing memiliki alasan historis dan struktural:

  • USD — karena dominasi AS dalam perdagangan global dan peran dolar sebagai cadangan devisa dunia.

  • JPY — karena Jepang memiliki surplus perdagangan besar, utang negara yang sebagian besar dimiliki domestik, dan basis investor yang konservatif.

  • CHF — karena stabilitas politik Swiss, perbankan yang kuat, serta reputasi sebagai tempat penyimpanan aset internasional.

Saat perang minyak terjadi dan ketidakpastian meningkat, dana global sering bergerak keluar dari aset berisiko (saham negara berkembang, obligasi berisiko, mata uang komoditas) menuju safe haven ini.

Namun mekanismenya tidak selalu lurus. Ada faktor lain yang ikut bermain.


Perang Minyak: Mengapa Mengguncang Pasar Forex?

Perang minyak biasanya melibatkan:

  • Sanksi ekonomi

  • Konflik geopolitik

  • Persaingan produksi antarnegara

  • Pemotongan pasokan atau embargo

  • Perang harga (oversupply)

Dampaknya sangat luas:

  1. Harga minyak melonjak atau jatuh drastis

  2. Inflasi global naik

  3. Biaya produksi perusahaan meningkat

  4. Negara pengimpor minyak tertekan

  5. Mata uang komoditas ikut bergejolak

Negara seperti Jepang dan Eropa — yang sangat bergantung pada impor minyak — menghadapi risiko inflasi ketika harga minyak naik. Sementara itu, negara pengekspor minyak bisa untung sementara, namun tetap menghadapi ketidakpastian jangka panjang.

Di tengah kepanikan ini, investor bertanya:

Di mana tempat paling aman menaruh uang?

Jawabannya sering mengarah pada safe-haven currencies.


USD: Safe Haven Paling Populer… Tapi Tidak Selalu

Banyak trader pemula menganggap:

“Kalau ada krisis, USD pasti naik.”

Faktanya — tidak selalu begitu.

Memang benar, dolar sering menguat saat:

  • Investor keluar dari aset berisiko

  • Permintaan terhadap obligasi AS meningkat

  • Likuiditas global mengetat

Namun dalam konteks perang minyak, ada skenario berbeda.

Jika harga minyak naik tinggi:

  • Biaya impor energi di AS bisa naik

  • Inflasi meningkat

  • Federal Reserve mungkin ditekan menaikkan suku bunga lebih agresif

Dalam jangka pendek, hal ini bisa mendorong USD menguat.
Tetapi bila pasar melihat ekonomi AS berisiko melambat keras, dolar bisa kehilangan daya tariknya.

Dengan kata lain:

USD adalah safe haven — tetapi tetap sensitif terhadap kebijakan moneter dan prospek ekonomi AS.


JPY: Sang Penyerap Panik Saat Risiko Meledak

Japanese Yen memiliki reputasi unik.

Saat risiko global meningkat—termasuk saat perang minyak—Yen sering menguat tajam, bahkan ketika ekonomi Jepang sendiri tidak dalam kondisi sempurna.

Kenapa?

Karena sebagian besar utang Jepang dibiayai investor domestik.
Saat terjadi kepanikan, dana Jepang yang ditempatkan di luar negeri ditarik pulang. Proses repatriasi modal ini menciptakan permintaan besar terhadap Yen, sehingga mendorong penguatannya.

Namun ada sisi menarik:

  • Jepang adalah pengimpor minyak besar.

  • Harga minyak tinggi seharusnya membebani ekonomi Jepang.

Tetapi pasar seringkali lebih fokus pada aliran modal ketimbang fundamental jangka panjang. Jadi ketika kepanikan memuncak:

Yen tetap tampil sebagai tempat bersembunyi.


CHF: Mata Uang Aman yang Bergerak Senyap

Swiss Franc (CHF) tidak selalu sevolatil Yen, namun reputasinya kuat karena:

  • stabilitas politik,

  • bank sentral yang disiplin,

  • dan posisi Swiss sebagai pusat keuangan dunia.

Saat perang minyak, investor institusi besar sering memindahkan sebagian aset mereka ke Swiss untuk mengurangi eksposur risiko.

Namun ada catatan penting:

Bank Sentral Swiss (SNB) sering melakukan intervensi jika CHF terlalu menguat karena bisa merusak ekspor Swiss.

Artinya:

CHF bisa menguat, tapi kenaikannya sering “dikendalikan”.

Trader perlu hati-hati, karena intervensi SNB bisa memicu lonjakan volatilitas tiba-tiba.


Safe Haven vs Mata Uang Komoditas

Ketika perang minyak meletus, biasanya yang paling terpukul adalah:

  • AUD (Dolar Australia)

  • CAD (Dolar Kanada)

  • NOK (Krone Norwegia)

Meskipun beberapa di antaranya adalah eksportir minyak, pasar seringkali menjual mata uang komoditas karena dianggap lebih berisiko.

Namun ada pengecualian menarik:

  • CAD kadang menguat bila harga minyak melonjak stabil, karena ekonomi Kanada mendapat keuntungan.

  • Tetapi jika kenaikan terjadi karena perang dan ketidakpastian geopolitik, pasar lebih memilih lari ke safe haven.

Dengan kata lain:

Arah mata uang tidak hanya soal minyak, tetapi juga soal persepsi risiko.


Bagaimana Trader Forex Bisa Memanfaatkannya?

Memahami karakter safe-haven currencies sangat penting untuk strategi trading.

Beberapa prinsip sederhana:

  1. Pantau berita geopolitik dan energi
    Konflik, sanksi, pemotongan produksi — semuanya bisa memicu aliran dana ke safe haven.

  2. Perhatikan volatilitas global (VIX, risk sentiment)
    Saat “fear index” naik, peluang penguatan JPY dan CHF biasanya meningkat.

  3. Jangan mengandalkan satu indikator
    Selalu gabungkan:

    • analisis fundamental,

    • analisis teknikal,

    • dan manajemen risiko yang ketat.

  4. Waspadai intervensi bank sentral
    Terutama pada CHF dan JPY — intervensi bisa mengubah arah pasar secara tiba-tiba.

Trader yang hanya menebak arah tanpa memahami konteks mudah terperangkap false breakout, over-trading, dan margin call.


Di era konflik energi dan ketegangan geopolitik, memahami reaksi safe-haven currencies bukan lagi sekadar pilihan — tetapi keharusan. Tanpa fondasi pengetahuan yang kuat, trading berubah menjadi spekulasi murni.

Jika Anda ingin belajar lebih dalam tentang bagaimana membaca pasar, menyusun strategi, dan mengelola risiko dengan benar, Anda bisa mulai bergabung dalam program edukasi trading yang disediakan oleh Didimax. Di sana, Anda tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga bimbingan praktik langsung agar lebih paham bagaimana menghadapi kondisi pasar nyata.

Jangan tunggu sampai market membuat Anda belajar dengan cara mahal. Dapatkan materi edukasi, pendampingan, serta komunitas trader aktif dengan bergabung melalui situs resmi Didimax di www.didimax.co.id — dan mulailah membangun skill trading yang lebih matang dan terarah.