Buat Daftar “Do & Don’t” Harian untuk Trader Menengah
Dalam dunia trading, fase “menengah” adalah fase yang paling krusial. Trader pemula biasanya masih belajar dasar, masih fokus pada cara membaca chart, memahami lot, margin, dan cara entry. Sementara trader profesional sudah memiliki sistem yang matang, risk management yang disiplin, serta kontrol emosi yang stabil.
Trader menengah berada di antara keduanya.
Mereka sudah memahami dasar analisis teknikal, mungkin sudah mengenal price action, support-resistance, indikator seperti RSI, Moving Average, atau MACD. Mereka sudah pernah merasakan profit konsisten… tapi juga pernah mengalami drawdown yang menyakitkan. Di fase ini, bukan lagi soal “bisa trading atau tidak”, melainkan soal konsistensi dan kedisiplinan.
Banyak trader menengah gagal naik level bukan karena kurang ilmu, tetapi karena kurang disiplin dalam menjalankan rutinitas harian. Artikel ini akan membahas secara mendalam daftar “Do & Don’t” harian yang wajib diterapkan trader menengah agar bisa berkembang menjadi trader yang profesional dan konsisten.
Mengapa Trader Menengah Butuh Aturan Harian?
Trader menengah biasanya sudah:
-
Punya strategi
-
Punya pengalaman loss dan profit
-
Sudah memahami dasar manajemen risiko
-
Sudah tidak asal entry seperti pemula
Namun masalah yang sering muncul adalah:
-
Overconfidence saat profit
-
Revenge trading saat loss
-
Overtrading karena merasa “sudah jago”
-
Mengabaikan trading plan
-
Tidak konsisten mencatat jurnal trading
Di tahap ini, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar strategi baru, melainkan sistem kebiasaan yang konsisten.
Seperti atlet profesional yang punya jadwal latihan harian, trader juga perlu ritual harian yang jelas. Tanpa itu, performa akan naik-turun dan sulit berkembang.
DO: Hal yang Wajib Dilakukan Trader Menengah Setiap Hari
1. Review Market Sebelum Entry
Sebelum membuka posisi, luangkan waktu minimal 15–30 menit untuk:
-
Melihat trend besar (H4 / Daily)
-
Menentukan bias market (bullish, bearish, atau sideways)
-
Mengidentifikasi area support & resistance penting
-
Memeriksa news ekonomi hari itu
Trader menengah harus berhenti entry impulsif hanya karena “harga terlihat bagus”. Biasakan selalu punya alasan objektif sebelum klik tombol buy atau sell.
2. Tentukan Risk per Trade Secara Konsisten
Trader menengah sudah paham risk management. Tapi apakah sudah konsisten?
Idealnya:
-
Risiko 1–2% per transaksi
-
Gunakan stop loss yang jelas
-
Jangan mengubah SL karena takut terkena
Konsistensi risk management jauh lebih penting daripada winrate tinggi. Trader dengan winrate 50% tapi risk-reward 1:2 bisa lebih konsisten dibanding trader dengan winrate 70% tapi risk-reward buruk.
3. Tulis Trading Plan Harian
Sebelum sesi trading dimulai, tuliskan:
Dengan menulis rencana, Anda memaksa diri untuk berpikir logis sebelum market bergerak cepat.
4. Gunakan Jurnal Trading Secara Detail
Trader menengah wajib punya jurnal trading.
Catat:
-
Screenshot sebelum entry
-
Alasan entry
-
Emosi saat entry
-
Hasil akhir
-
Evaluasi
Banyak trader menengah berhenti berkembang karena tidak pernah benar-benar mengevaluasi kesalahan yang sama.
Tanpa jurnal, Anda hanya mengandalkan ingatan — dan ingatan sering bias.
5. Batasi Jumlah Entry Harian
Salah satu penyakit trader menengah adalah overtrading.
Tentukan batas maksimal:
-
2–3 posisi per hari
-
Atau 5 posisi per minggu
Jika target tercapai, berhenti.
Semakin sering entry, semakin besar kemungkinan keputusan diambil secara emosional.
6. Cek Kalender Ekonomi
Trader menengah tidak boleh mengabaikan news berdampak tinggi seperti:
-
NFP
-
CPI
-
Interest Rate
-
FOMC
Peristiwa besar sering dikaitkan dengan keputusan dari bank sentral seperti Federal Reserve atau Bank Sentral Eropa yang dapat memicu volatilitas tinggi.
Hindari entry sebelum news jika strategi Anda tidak dirancang untuk news trading.
7. Evaluasi Diri di Akhir Hari
Setiap akhir hari, tanyakan:
Evaluasi harian membuat Anda sadar bahwa trading adalah proses jangka panjang, bukan sekadar mencari profit cepat.
DON’T: Hal yang Harus Dihindari Trader Menengah Setiap Hari
1. Jangan Trading Karena Bosan
Market tidak bergerak setiap saat.
Trader menengah sering merasa “harus entry” agar produktif. Padahal tidak entry adalah keputusan trading juga.
Jika setup belum jelas, lebih baik tidak entry.
2. Jangan Menggandakan Lot Setelah Loss
Revenge trading adalah jebakan terbesar.
Loss adalah bagian dari sistem. Menggandakan lot hanya karena ingin balas dendam biasanya berujung pada kerugian lebih besar.
Trader profesional menerima loss sebagai biaya operasional.
3. Jangan Ubah Stop Loss Tanpa Alasan Logis
Memindahkan stop loss karena “takut kena” adalah tanda ketidakdisiplinan.
Jika setup invalid, biarkan SL tersentuh.
Menghindari loss kecil sering kali berubah menjadi loss besar.
4. Jangan Terlalu Sering Ganti Strategi
Trader menengah sering tergoda mencoba:
-
Strategi baru
-
Indikator baru
-
Metode baru
Padahal masalahnya bukan pada strategi, melainkan pada konsistensi penerapan.
Satu sistem yang dieksekusi disiplin lebih baik daripada lima sistem yang digunakan setengah-setengah.
5. Jangan Terlalu Percaya Diri Setelah Profit
Serangkaian profit bisa menciptakan ilusi “tak terkalahkan”.
Overconfidence membuat:
Ingat, market selalu lebih besar dari ego trader.
6. Jangan Trading Tanpa Kondisi Mental yang Stabil
Jika sedang:
-
Emosi
-
Marah
-
Lelah
-
Kurang tidur
Lebih baik tidak trading.
Trading membutuhkan kejernihan pikiran. Satu keputusan emosional bisa merusak hasil satu minggu.
7. Jangan Fokus Hanya pada Profit Harian
Trader menengah sering menargetkan nominal tertentu setiap hari.
Masalahnya, market tidak selalu memberi peluang setiap hari.
Fokuslah pada kualitas eksekusi, bukan jumlah profit harian.
Rutinitas Ideal Harian Trader Menengah
Berikut contoh rutinitas harian yang lebih terstruktur:
Pagi:
Sebelum Entry:
Saat Posisi Berjalan:
Setelah Selesai Trading:
-
Screenshot hasil
-
Catat di jurnal
-
Evaluasi kesalahan
Jika dilakukan konsisten selama 3–6 bulan, perubahan signifikan akan terlihat.
Mentalitas yang Harus Dimiliki Trader Menengah
Selain daftar do & don’t, trader menengah harus membangun mentalitas berikut:
-
Trading adalah bisnis, bukan judi
-
Konsistensi lebih penting daripada sensasi profit besar
-
Loss adalah bagian dari sistem
-
Disiplin lebih penting daripada strategi
Perbedaan trader menengah yang stagnan dan yang naik level sering kali hanya terletak pada kedisiplinan menjalankan kebiasaan sederhana setiap hari.
Kesimpulan
Menjadi trader menengah adalah fase yang menantang sekaligus menentukan. Anda sudah melewati tahap pemula, sudah memahami dasar-dasar analisis, dan mungkin sudah merasakan profit yang menggembirakan. Namun tanpa sistem kebiasaan harian yang disiplin, sangat mudah untuk kembali terjebak dalam pola emosional.
Daftar “Do & Don’t” harian bukan sekadar aturan kaku, melainkan alat untuk menjaga konsistensi dan mengontrol psikologi. Trading bukan tentang seberapa sering Anda benar, tetapi seberapa disiplin Anda menjalankan sistem.
Jika Anda ingin naik level dari trader menengah menjadi trader profesional yang konsisten, maka pendidikan dan bimbingan yang tepat sangatlah penting. Mengikuti program edukasi trading yang terstruktur dapat membantu Anda memahami strategi yang lebih matang, manajemen risiko yang lebih presisi, serta pembentukan mentalitas trader profesional.
Segera tingkatkan kemampuan trading Anda bersama program edukasi dari Didimax melalui www.didimax.co.id. Dengan pembelajaran yang sistematis, mentor berpengalaman, dan lingkungan yang suportif, Anda akan memiliki fondasi kuat untuk menjadi trader yang lebih disiplin, percaya diri, dan konsisten dalam jangka panjang. Jangan biarkan diri Anda stagnan di level menengah — saatnya naik kelas dan trading dengan standar profesional.