Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Buat Ilustrasi Perbandingan Akun dengan Risk 1% vs 5% per Trade

Buat Ilustrasi Perbandingan Akun dengan Risk 1% vs 5% per Trade

by Rizka

Buat Ilustrasi Perbandingan Akun dengan Risk 1% vs 5% per Trade

Dalam dunia trading, baik itu di pasar forex, saham, maupun komoditas, satu hal yang sering diabaikan oleh trader pemula adalah manajemen risiko. Banyak orang terlalu fokus pada strategi entry, indikator, dan sinyal trading, namun lupa bahwa kunci bertahan dan berkembang dalam jangka panjang justru terletak pada bagaimana kita mengelola risiko.

Salah satu konsep paling penting dalam manajemen risiko adalah menentukan persentase risiko per transaksi (risk per trade). Dua pendekatan yang sering dibandingkan adalah risiko 1% per trade dan 5% per trade. Sekilas, perbedaan 4% terlihat kecil. Namun dalam praktiknya, perbedaan ini dapat menentukan apakah akun Anda tumbuh stabil atau justru hancur dalam waktu singkat.

Artikel ini akan membahas secara mendalam ilustrasi perbandingan akun dengan risk 1% vs 5% per trade, lengkap dengan simulasi angka, dampak psikologis, serta efek jangka panjang terhadap pertumbuhan modal.


Apa Itu Risk per Trade?

Risk per trade adalah persentase dari total ekuitas akun yang siap Anda tanggung sebagai kerugian maksimal dalam satu transaksi. Biasanya, angka ini dihitung berdasarkan jarak stop loss dari harga entry.

Contohnya:

  • Modal awal: Rp100.000.000

  • Risk 1% → risiko maksimal per transaksi: Rp1.000.000

  • Risk 5% → risiko maksimal per transaksi: Rp5.000.000

Artinya, jika stop loss tersentuh:

  • Dengan risk 1%, akun berkurang menjadi Rp99.000.000

  • Dengan risk 5%, akun berkurang menjadi Rp95.000.000

Sekilas terlihat sederhana. Namun dampaknya akan sangat terasa ketika terjadi rangkaian kerugian beruntun (losing streak).


Ilustrasi 1: Skenario 5 Kali Loss Berturut-Turut

Mari kita simulasikan dua akun dengan modal awal sama: Rp100.000.000.

Akun A – Risk 1% per Trade

Jika mengalami 5 kali kerugian berturut-turut:

  1. Loss 1 → 99.000.000

  2. Loss 2 → 98.010.000

  3. Loss 3 → 97.029.900

  4. Loss 4 → 96.059.601

  5. Loss 5 → 95.099.005

Total penurunan sekitar 4,9%.

Akun masih relatif stabil dan secara psikologis trader masih memiliki ruang untuk tetap tenang dan objektif.


Akun B – Risk 5% per Trade

Jika mengalami 5 kali kerugian berturut-turut:

  1. Loss 1 → 95.000.000

  2. Loss 2 → 90.250.000

  3. Loss 3 → 85.737.500

  4. Loss 4 → 81.450.625

  5. Loss 5 → 77.378.094

Total penurunan sekitar 22,6%.

Di sini terlihat jelas bahwa hanya dengan 5 kali loss, akun sudah terkikis lebih dari seperlima modal awal. Untuk kembali ke Rp100 juta, dibutuhkan profit sekitar 29%, bukan 22%.

Inilah efek compounding negatif yang sering tidak disadari trader.


Ilustrasi 2: Dampak 10 Kali Loss Berturut-Turut

Mari kita lanjutkan ke skenario yang lebih ekstrem namun realistis. Dalam trading, bahkan strategi terbaik pun bisa mengalami 10 kali loss beruntun.

Risk 1%

Setelah 10 kali loss berturut-turut:

Sisa akun sekitar Rp90.438.207
Penurunan sekitar 9,56%

Masih sangat wajar dan dapat dipulihkan dengan relatif mudah.


Risk 5%

Setelah 10 kali loss berturut-turut:

Sisa akun sekitar Rp59.873.694
Penurunan sekitar 40%

Ini sangat berbahaya. Untuk kembali ke Rp100 juta, dibutuhkan profit sekitar 67%. Secara matematis dan psikologis, ini jauh lebih sulit.


Dampak Psikologis: Faktor yang Sering Diremehkan

Selain aspek matematis, ada faktor psikologis yang sangat berpengaruh.

Risk 1%: Lebih Stabil Secara Emosi

Dengan risiko kecil:

  • Tekanan mental lebih ringan

  • Tidak panik saat loss

  • Tidak mudah overtrading

  • Lebih disiplin mengikuti trading plan

Trader bisa berpikir rasional karena setiap loss tidak terasa “menyakitkan”.


Risk 5%: Tekanan Mental Lebih Besar

Dengan risiko besar:

  • Setiap loss terasa signifikan

  • Mudah muncul revenge trading

  • Emosi lebih dominan

  • Potensi melanggar sistem lebih tinggi

Banyak akun hancur bukan karena strategi jelek, tetapi karena tekanan psikologis akibat risk terlalu besar.


Ilustrasi Pertumbuhan Akun dengan Win Rate 50%

Sekarang mari kita lihat skenario netral: win rate 50% dengan risk reward ratio 1:1 selama 20 transaksi.

Risk 1%

Dengan 10 kali win dan 10 kali loss, akun cenderung relatif stabil. Fluktuasi ada, tetapi drawdown tidak ekstrem.

Pertumbuhan memang lebih lambat, tetapi akun bertahan lebih lama.


Risk 5%

Dengan win rate 50%, fluktuasi akun menjadi sangat besar. Jika distribusi win dan loss tidak merata (misalnya 5 loss di awal), akun bisa langsung mengalami tekanan berat sebelum sempat recover.

Di sinilah banyak trader menyerah, padahal sistemnya sebenarnya profitable dalam jangka panjang.


Ilustrasi Sederhana: Dua Trader, Dua Mentalitas

Bayangkan dua trader:

  • Trader A menggunakan risk 1%

  • Trader B menggunakan risk 5%

Keduanya memiliki strategi sama dan win rate 55%.

Dalam jangka panjang, Trader A cenderung:

  • Lebih konsisten

  • Lebih disiplin

  • Bertahan lebih lama di market

Sedangkan Trader B:

  • Lebih cepat naik saat sedang bagus

  • Tapi lebih cepat hancur saat mengalami losing streak

Trading bukan hanya soal cepat kaya. Trading adalah soal bertahan cukup lama untuk menikmati compounding positif.


Konsep Drawdown dan Recovery

Hal yang paling penting dalam manajemen risiko adalah memahami bahwa semakin besar drawdown, semakin sulit recovery.

Berikut ilustrasi sederhana:

  • Drawdown 10% → butuh 11% untuk kembali

  • Drawdown 20% → butuh 25% untuk kembali

  • Drawdown 40% → butuh 67% untuk kembali

  • Drawdown 50% → butuh 100% untuk kembali

Risk 5% mempercepat kemungkinan drawdown besar. Risk 1% memperlambatnya.

Trader profesional lebih fokus mengontrol drawdown dibanding mengejar profit besar.


Prinsip Umum dari Trader Dunia

Banyak trader profesional dunia seperti Paul Tudor Jones dan George Soros selalu menekankan pentingnya pengelolaan risiko. Mereka memahami bahwa menjaga modal lebih penting daripada mengejar keuntungan besar dalam satu transaksi.

Di dunia investasi saham, investor legendaris seperti Warren Buffett bahkan memiliki prinsip utama: “Rule number one: Never lose money. Rule number two: Never forget rule number one.”

Walaupun konteksnya berbeda, filosofi ini sangat relevan dalam trading forex dan derivatif.


Mana yang Lebih Baik?

Tidak ada jawaban absolut, tetapi ada pendekatan yang lebih aman.

Risk 1% cocok untuk:

  • Trader pemula

  • Trader yang ingin bertahan jangka panjang

  • Akun dengan tujuan konsistensi

  • Trader yang masih membangun mental

Risk 5% cocok untuk:

  • Trader sangat berpengalaman

  • Akun kecil yang siap menerima volatilitas tinggi

  • Strategi dengan win rate dan edge sangat teruji

Namun secara statistik dan praktik profesional, sebagian besar trader berpengalaman menggunakan risk 0,5% – 2% per trade.


Kesimpulan Besar: Kecepatan vs Ketahanan

Risk 5% memang memberikan potensi pertumbuhan lebih cepat. Namun ia juga mempercepat kehancuran akun.

Risk 1% mungkin terasa lambat. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia memberi ruang untuk belajar, bertahan, dan mengembangkan disiplin.

Trading bukan sprint. Trading adalah marathon.

Jika tujuan Anda adalah menjadi trader profesional dan konsisten, maka pengendalian risiko adalah fondasi utama.

Belajar trading tidak cukup hanya memahami indikator dan strategi entry. Anda perlu memahami manajemen risiko, psikologi trading, serta bagaimana membangun sistem yang terukur dan konsisten. Program edukasi yang tepat akan membantu Anda menghindari kesalahan mahal akibat salah menentukan risk per trade dan membangun fondasi yang kuat sejak awal.

Jika Anda ingin belajar lebih dalam tentang manajemen risiko, strategi trading yang terstruktur, serta pendampingan langsung dari mentor berpengalaman, Anda bisa mengikuti program edukasi trading di www.didimax.co.id. Dengan pembelajaran yang sistematis dan praktik langsung, Anda akan dibimbing untuk menjadi trader yang lebih disiplin, terukur, dan siap menghadapi dinamika pasar secara profesional.