Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Cara Sederhana Menentukan Entry dan Exit agar Trading Lebih Terarah

Cara Sederhana Menentukan Entry dan Exit agar Trading Lebih Terarah

by Muhammad

Cara Sederhana Menentukan Entry dan Exit agar Trading Lebih Terarah

Banyak trader pemula berpikir bahwa kunci keuntungan ada pada indikator paling canggih atau strategi paling rahasia. Padahal, sering kali masalah utama bukan pada apa yang digunakan — melainkan kapan masuk (entry) dan kapan keluar (exit).

Entry terlalu cepat, harga malah berbalik.
Exit terlalu lama, floating merah makin dalam.
Exit terlalu cepat pula, profit baru sedikit sudah ditutup — padahal harga ternyata lanjut.

Kalau kamu sering mengalami hal itu, artinya kamu belum punya sistem entry–exit yang jelas. Kabar baiknya: menentukan entry dan exit tidak harus rumit. Dengan cara sederhana, konsisten, dan realistis, trading bisa jauh lebih terarah.

Mari kita bahas pelan-pelan.


1. Pahami Dulu: Entry dan Exit Itu Bukan Tebakan

Banyak orang masuk market karena:

  • “Kayaknya bakal naik.”

  • “Katanya ini pair lagi bagus.”

  • “Teman bilang bakal terbang.”

Padahal trading bukan menebak — trading adalah pengambilan keputusan berbasis rencana.

Entry dilakukan karena ada sinyal yang jelas.
Exit dilakukan karena target atau kondisi tertentu sudah tercapai.

Kalau entry dan exit masih berdasarkan perasaan, maka hasilnya juga ikut “perasaan”: kadang untung, seringnya rugi.


2. Tentukan Arah Market Dulu (Trend vs Sideways)

Kesalahan paling sering: langsung mencari entry tanpa melihat arah market.

Prinsipnya sederhana:

Trading selalu lebih mudah jika mengikuti arah trend.

Cara sederhana membaca trend:

  1. Lihat time frame besar terlebih dahulu (H4 atau Daily).

  2. Perhatikan tiga hal:

    • Puncak (high) makin tinggi → trend naik.

    • Lembah (low) makin rendah → trend turun.

    • Puncak dan lembah datar → sideways.

Jika market sedang naik, fokus mencari entry buy.
Jika market sedang turun, fokus mencari entry sell.
Jika sideways, lebih baik tunggu atau kecilkan target.

Dengan begitu, kamu tidak melawan arus.


3. Gunakan Support & Resistance sebagai Area Entry

Support dan resistance adalah “daerah penting” di mana harga sering berhenti atau berbalik.

  • Support = lantai (harga cenderung memantul naik)

  • Resistance = atap (harga cenderung memantul turun)

Cara sederhana menentukan:

  • Tarik garis pada area di mana harga sering memantul.

  • Lihat area yang sering disentuh berulang kali.

Entry bukan dilakukan di tengah-tengah chart.
Entry paling ideal berada di dekat area support atau resistance — karena:

  1. Risiko bisa lebih kecil.

  2. Target bisa lebih jelas.

  3. Peluang pantulan lebih besar.


4. Tunggu Konfirmasi — Jangan Asal Tabrak Market

Banyak pemula melihat harga mendekati support, langsung masuk buy.
Padahal, bisa saja harga menembus support dan lanjut turun.

Maka, setelah menentukan area, lakukan langkah berikut:

  1. Tunggu candlestick membentuk sinyal pantulan
    (misal: pin bar, engulfing, atau rejection kuat).

  2. Pastikan volume atau momentum tidak terlalu lemah.

  3. Entry setelah candlestick konfirmasi selesai terbentuk.

Intinya:
kita tidak menebak — kita menunggu bukti.

Menunggu memang membosankan, tapi itulah yang membedakan trader sabar dan trader emosional.


5. Tentukan Stop Loss Sebelum Entry

Entry tanpa stop loss sama seperti berkendara tanpa rem.

Stop loss bukan tanda takut rugi — justru tanda profesional.

Cara sederhana menentukan stop loss:

  • Letakkan stop loss di luar area invalidasi.
    Misalnya:

    • Jika buy di support, letakkan stop loss beberapa pips di bawah support.

    • Jika sell di resistance, letakkan stop loss beberapa pips di atas resistance.

Jangan menentukan stop loss berdasarkan perasaan:

❌ “Ah, taruh 20 pips saja.”
❌ “Kayaknya segini cukup.”

Stop loss harus didasarkan pada struktur market — bukan angka acak.


6. Tentukan Target Exit (Take Profit) dengan Rasio yang Logis

Banyak pemula menentukan TP seperti ini:

  • “Aku mau profit besar.”

  • “Coba TP jauh, siapa tahu kena.”

Yang sering terjadi justru floating lama, lalu harga balik dan akhirnya SL.

Cara lebih bijak:

Gunakan risk–reward ratio minimal:

1 : 2

Artinya:

  • Jika risiko 50 pips,

  • maka target minimal 100 pips.

Kenapa?

Karena meski menang hanya 40–50%,
trading tetap bisa profit dalam jangka panjang.

Selain itu, target exit bisa mengacu ke:

  • resistance terdekat (untuk buy)

  • support terdekat (untuk sell)

Dengan begitu, kamu keluar market di area yang realistis — bukan di angan-angan.


7. Jangan Pindahkan Stop Loss — Kecuali untuk Mengunci Profit

Kesalahan umum:

  • Harga hampir kena stop loss → stop loss dipindahkan makin jauh.

  • “Sayang kalau kena SL.”

Padahal, saat stop loss dipindah:

  1. Risiko makin besar.

  2. Psikologis makin tertekan.

  3. Sistem trading jadi rusak.

Satu-satunya alasan memindahkan stop loss:

👉 untuk mengunci profit (trailing stop).

Jika harga sudah bergerak sesuai arahmu cukup jauh,
kamu bisa geser stop loss ke:

  • titik impas (breakeven), atau

  • sedikit di atas/bawah area support/resistance terakhir.

Dengan begitu, kalau harga berbalik,
posisimu tetap aman.


8. Buat Aturan Tertulis: Entry–Exit Jadi Sistem, Bukan Perasaan

Banyak trader tahu ilmunya,
tapi tetap rugi karena tidak disiplin.

Solusinya sederhana:

Tuliskan aturan tradingmu.

Contoh aturan sederhana:

  1. Hanya entry searah trend.

  2. Tunggu harga mendekati area support/resistance.

  3. Entry hanya jika ada candlestick konfirmasi.

  4. Stop loss selalu dipasang.

  5. Risk–reward minimal 1 : 2.

  6. Tidak entry lebih dari 2 posisi jika market tidak jelas.

Jika aturan dilanggar → jangan salahkan market.

Konsistensi jauh lebih penting dibanding strategi rumit.


9. Jangan Trading Karena FOMO

Entry yang buruk sering terjadi karena:

  • Melihat harga bergerak cepat

  • Takut ketinggalan

  • Langsung ikut masuk

Padahal, saat kita FOMO,
biasanya kita masuk di puncak.

Ingat:

Lebih baik tertinggal satu peluang,
daripada masuk sembarangan dan rugi besar.

Market akan selalu ada.
Yang perlu kamu jaga adalah modal.


Kesimpulan: Entry–Exit Sederhana, Tapi Butuh Disiplin

Menentukan entry dan exit sebenarnya tidak rumit jika konsepnya jelas:

  1. Tentukan arah market.

  2. Cari area penting (support–resistance).

  3. Tunggu konfirmasi, jangan terburu-buru.

  4. Pasang stop loss logis.

  5. Tentukan target exit realistis.

  6. Disiplin pada sistem.

Jika dilakukan secara konsisten,
trading akan terasa lebih terarah — bukan seperti berjudi.


Belajar memahami entry dan exit butuh latihan dan bimbingan yang tepat. Kalau kamu ingin belajar lebih terstruktur, didampingi mentor, dan mendapatkan materi dari dasar sampai lanjutan, kamu bisa mengikuti program edukasi trading di www.didimax.co.id. Di sana, pembelajaran disusun untuk pemula agar tidak salah langkah, lengkap dengan penjelasan risiko dan cara mengelolanya.

Selain materi, kamu juga bisa berdiskusi, bertanya langsung, dan mempraktikkan teori secara bertahap. Dengan bimbingan yang benar, kamu tidak hanya belajar cara masuk dan keluar market — tetapi juga bagaimana membangun mindset dan manajemen risiko yang sehat untuk jangka panjang. Silakan kunjungi situsnya dan lihat program yang sesuai dengan kebutuhanmu.