Contoh Kebijakan Dovish dari Bank Sentral Besar Dunia
Dalam dunia ekonomi global, kebijakan moneter memegang peran yang sangat menentukan arah pasar, termasuk pasar forex. Ketika bank sentral berbicara, hampir semua pelaku pasar langsung memasang telinga dan mata mereka untuk menangkap setiap kata, frasa, atau nuansa yang mungkin menggerakkan pasar. Salah satu istilah yang paling sering terdengar dalam kebijakan moneter adalah “dovish”, sebuah posisi yang menggambarkan kecenderungan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan dovish sering kali membawa implikasi besar terhadap suku bunga, likuiditas, dan tentu saja, nilai mata uang.
Untuk memahami bagaimana kebijakan dovish bekerja dan bagaimana dampaknya pada pergerakan pasar, kita perlu melihat contoh konkret dari negara-negara dengan bank sentral besar dunia yang pernah — atau bahkan sering — mengambil langkah dovish. Dengan memahami pola pikir bank sentral dan tindakan-tindakan mereka, seorang trader bisa membaca arah ekonomi global dengan lebih akurat dan membuat keputusan trading yang lebih cerdas.
Artikel ini akan membahas berbagai contoh kebijakan dovish dari bank sentral besar seperti Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), hingga Reserve Bank of Australia (RBA). Contoh-contoh ini akan membantu memperjelas bagaimana kebijakan dovish bekerja dan bagaimana pengaruhnya terhadap pasar forex serta ekonomi secara keseluruhan.
1. Federal Reserve (The Fed) – Amerika Serikat
The Fed adalah salah satu bank sentral paling berpengaruh di dunia. Bahkan, satu kata dari Ketua The Fed saja sudah bisa membuat pasar global bergerak liar. The Fed dikenal bersikap dovish ketika kondisi ekonomi melemah, inflasi rendah, atau ketika pasar tenaga kerja sedang mengalami tekanan.
Contoh Kebijakan Dovish dari The Fed:
a. Pemangkasan Suku Bunga (Rate Cut)
Salah satu kebijakan dovish paling jelas dari The Fed adalah menurunkan suku bunga. Misalnya pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 menghantam perekonomian, The Fed memangkas suku bunga secara agresif hingga mendekati 0%. Langkah ini bertujuan mendorong konsumsi, investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi.
Pemotongan suku bunga adalah sinyal kuat bahwa The Fed ingin mempermudah akses dana bagi dunia usaha dan masyarakat. Namun di pasar forex, langkah ini biasanya melemahkan USD karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih rendah.
b. Quantitative Easing (QE)
Dalam kondisi ekstrem, The Fed juga melakukan quantitative easing, yaitu membeli aset-aset seperti obligasi pemerintah untuk meningkatkan jumlah uang beredar. QE adalah bentuk pelonggaran moneter yang sangat dovish karena meningkatkan likuiditas besar-besaran.
Contohnya pada tahun 2008 dan 2020, The Fed meluncurkan QE besar-besaran untuk menahan kerusakan ekonomi. Dampaknya? Likuiditas meningkat, yield turun, dan dolar biasanya melemah.
c. Forward Guidance yang Lunak
The Fed juga sering mengirimkan sinyal dovish lewat pidato atau pernyataan resmi. Contohnya ketika The Fed mengatakan bahwa mereka “akan mempertahankan suku bunga rendah untuk jangka waktu lama.” Pernyataan semacam ini adalah sinyal dovish yang jelas dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar.
2. European Central Bank (ECB) – Uni Eropa
ECB adalah bank sentral yang mengatur kebijakan moneter untuk negara-negara Eropa yang menggunakan euro. ECB sering mengambil sikap dovish terutama ketika menghadapi masalah pertumbuhan yang lemah atau inflasi yang terlalu rendah.
Contoh Kebijakan Dovish dari ECB:
a. Suku Bunga Negatif
ECB pernah membuat kebijakan ekstrem dengan menerapkan suku bunga deposito negatif, misalnya pada 2014–2020. Dengan kebijakan ini, bank-bank harus membayar untuk menyimpan uang di ECB. Kebijakan ini benar-benar super dovish karena memaksa bank untuk menyalurkan pinjaman ke masyarakat dan bisnis.
Suku bunga negatif ini berdampak signifikan melemahkan euro, karena imbal hasil yang rendah membuat investor enggan memegang EUR.
b. Program Pembelian Aset (APP / QE)
Sama seperti The Fed, ECB juga melakukan QE dengan membeli obligasi negara-negara anggota. Program Asset Purchase Programme (APP) adalah salah satu langkah dovish terbesar mereka. Hal ini meningkatkan pasokan uang di zona euro, membuat suku bunga turun, dan menstimulasi ekonomi.
c. Sinyal Dovish Lewat Konferensi Pers
Presiden ECB, seperti Mario Draghi atau Christine Lagarde, sering memberikan sinyal dovish. Salah satu momen paling terkenal adalah ketika Draghi mengatakan kalimat legendarisnya: “We will do whatever it takes to preserve the euro.” Ini adalah sinyal dovish yang sangat kuat, membuat pasar yakin ECB akan melakukan pelonggaran besar.
3. Bank of Japan (BoJ) – Jepang
BoJ adalah salah satu bank sentral yang paling lama mempertahankan kebijakan dovish, bahkan ultra-dovish. Jepang terkenal dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan inflasi sangat rendah, sehingga BoJ mengambil pelonggaran moneter agresif dalam jangka panjang.
Contoh Kebijakan Dovish dari BoJ:
a. Suku Bunga Sangat Rendah atau Negatif
BoJ telah mempertahankan suku bunga di level mendekati 0% selama puluhan tahun, dan bahkan menerapkan suku bunga negatif sejak 2016. Ini adalah kebijakan super dovish karena mendorong kredit dan melemahkan yen.
b. Yield Curve Control (YCC)
BoJ membeli obligasi pemerintah secara besar-besaran untuk menjaga yield obligasi 10 tahun tetap rendah. Kebijakan ini termasuk kategori dovish ekstrem karena menahan biaya pinjaman serendah mungkin.
c. Program Pembelian ETF dan Aset Lainnya
Tidak hanya obligasi, BoJ bahkan membeli ETF dan aset-aset pasar saham lainnya. Sangat jarang bank sentral melakukan ini, dan langkah tersebut menunjukkan betapa dovish BoJ dalam upaya mengangkat perekonomian.
Hasilnya? Yen sering melemah terhadap mata uang lain, terutama ketika BoJ mengumumkan pelonggaran tambahan.
4. Bank of England (BoE) – Inggris
BoE juga beberapa kali mengambil kebijakan dovish, terutama ketika Inggris menghadapi krisis seperti Brexit atau pandemi.
Contoh Kebijakan Dovish dari BoE:
a. Pemangkasan Suku Bunga ke Level Terendah
Saat referendum Brexit pada 2016 memicu ketidakpastian besar, BoE memotong suku bunga ke level terendah dalam sejarah saat itu, yaitu 0.25%. Ini adalah langkah dovish untuk menenangkan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi.
b. Pembelian Aset (QE)
BoE juga melakukan quantitative easing untuk mendukung ekspansi ekonomi. Program pembelian obligasi pemerintah dilakukan secara besar-besaran.
c. Sinyal Dovish Ketika Brexit Memuncak
Ketika negosiasi Brexit berlangsung alot, BoE berkali-kali memberi peringatan tentang risiko ekonomi. Pernyataan-pernyataan yang memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga menjadi katalis dovish yang melemahkan GBP.
5. Reserve Bank of Australia (RBA) – Australia
RBA terkenal lebih berhati-hati dibanding bank sentral lain, tetapi tetap saja mereka pernah mengambil tindakan dovish terutama ketika ekonomi Australia tertekan oleh penurunan permintaan global, terutama dari China.
Contoh Kebijakan Dovish dari RBA:
a. Penurunan Suku Bunga Secara Bertahap
RBA beberapa kali memangkas suku bunga untuk melawan penurunan pertumbuhan ekonomi. Ketika suku bunga Australia turun, AUD biasanya melemah karena imbal hasil yang lebih kecil.
b. Kebijakan Forward Guidance “Lower for Longer”
RBA juga memberikan sinyal bahwa suku bunga akan bertahan rendah dalam waktu lama. Ini adalah sinyal dovish yang memengaruhi sentimen dan ekspektasi pelaku pasar.
c. Pembelian Obligasi Selama Pandemi
Seperti bank sentral lain, RBA juga melakukan program pembelian obligasi (QE) ketika pandemi COVID-19 menghantam ekonomi Australia pada 2020.
Kesimpulan: Dovish dalam Skala Global
Dari lima bank sentral besar di atas, terlihat bahwa kebijakan dovish adalah langkah pelonggaran moneter yang bertujuan menciptakan kondisi ekonomi yang lebih longgar dan mempermudah pinjaman. Kebijakan dovish sering dilakukan ketika ekonomi melemah, inflasi rendah, atau saat pasar sedang dalam tekanan berat.
Dampaknya terhadap pasar forex hampir selalu sama: mata uang negara tersebut cenderung melemah karena turunnya suku bunga dan meningkatnya likuiditas. Namun bagi trader, kebijakan dovish bisa menjadi peluang emas untuk membaca arah pasar dan menentukan strategi entry yang lebih terukur.
Dalam dunia trading yang dinamis, memahami cara kerja kebijakan dovish adalah kunci penting agar tidak salah mengambil posisi. Kalau Mas Rizka ingin mempelajari lebih dalam bagaimana membaca sentimen dovish dan hawkish dari bank sentral untuk kebutuhan analisa trading, Didimax menyediakan edukasi lengkap yang bisa diikuti siapa saja, dari pemula sampai trader berpengalaman. Semua materi disusun oleh mentor profesional yang sudah kenyang pengalaman menghadapi berbagai fase pasar.
Kalau Mas Rizka ingin belajar trading dengan lebih terarah, terukur, dan tidak berjalan sendirian, langsung saja bergabung dalam program edukasi trading Didimax di www.didimax.co.id. Di sana Mas Rizka bisa mendapatkan pembelajaran, bimbingan, dan akses komunitas yang aktif mendukung perkembangan trading Anda setiap hari.