Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Eksperimen Risk–Reward 1:1 lalu Bandingkan dengan 1:3

Eksperimen Risk–Reward 1:1 lalu Bandingkan dengan 1:3

by rizki

Eksperimen Risk–Reward 1:1 lalu Bandingkan dengan 1:3

Dalam dunia trading, diskusi tentang strategi tidak pernah lepas dari satu topik utama: bagaimana cara menyeimbangkan risiko dan potensi keuntungan. Banyak trader pemula terjebak pada pencarian indikator terbaik, time frame paling “akurat”, atau sinyal entry yang terlihat sempurna. Padahal, di balik semua itu, ada satu faktor krusial yang sering diabaikan namun sangat menentukan hasil jangka panjang, yaitu rasio risk–reward. Rasio inilah yang menjadi fondasi utama dalam manajemen risiko dan probabilitas profit sebuah sistem trading.

Artikel ini membahas sebuah eksperimen sederhana namun sangat penting: membandingkan performa trading dengan risk–reward 1:1 dan risk–reward 1:3. Eksperimen ini tidak bertujuan mencari mana yang “paling benar” secara mutlak, melainkan untuk memahami dampak psikologis, statistik, dan konsistensi hasil dari masing-masing rasio. Dengan pemahaman ini, trader dapat menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan karakter dan tujuan mereka.

Memahami Konsep Risk–Reward dalam Trading

Risk–reward ratio (RRR) adalah perbandingan antara risiko yang kita ambil dengan potensi keuntungan yang diharapkan dalam satu transaksi. Jika seorang trader menggunakan risk–reward 1:1, artinya risiko yang diambil sama dengan target profit. Contoh sederhana, jika stop loss dipasang 50 poin, maka take profit juga 50 poin. Sementara itu, risk–reward 1:3 berarti risiko 50 poin dengan target profit 150 poin.

Secara teori, semakin besar rasio risk–reward, semakin kecil tingkat kemenangan (win rate) yang dibutuhkan untuk tetap profit. Inilah yang membuat banyak buku trading dan mentor sering menganjurkan rasio minimal 1:2 atau 1:3. Namun, teori tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan. Faktor emosi, konsistensi eksekusi, dan kondisi pasar sering kali membuat hasilnya berbeda.

Desain Eksperimen Trading

Dalam eksperimen ini, diasumsikan trader menggunakan strategi entry yang sama persis. Time frame, indikator, aturan entry, dan jam trading dibuat konsisten. Satu-satunya variabel yang diubah hanyalah rasio risk–reward.

Eksperimen dilakukan dalam dua fase:

  1. Fase pertama: trading dengan risk–reward 1:1.

  2. Fase kedua: trading dengan risk–reward 1:3.

Masing-masing fase dijalankan selama periode waktu yang sama, misalnya dua minggu atau sejumlah 50–100 transaksi. Setiap transaksi dicatat secara detail dalam jurnal trading, termasuk hasil (profit atau loss), kondisi emosi, dan apakah aturan dijalankan dengan disiplin.

Hasil Eksperimen Risk–Reward 1:1

Pada fase pertama, trading dengan risk–reward 1:1 terasa lebih “ramah” secara psikologis. Target profit yang relatif dekat membuat banyak posisi cepat mencapai take profit. Dalam praktiknya, win rate cenderung lebih tinggi, bahkan bisa mencapai 55–65% tergantung strategi yang digunakan.

Keuntungan dari pendekatan ini adalah rasa percaya diri yang meningkat. Trader merasa sering “benar” dalam membaca arah market. Equity curve terlihat lebih halus dengan fluktuasi yang tidak terlalu ekstrem. Bagi trader pemula, kondisi ini terasa menyenangkan dan menenangkan.

Namun, ada kelemahan besar yang mulai terasa setelah beberapa kali loss beruntun. Karena profit dan loss bernilai sama, satu atau dua kesalahan eksekusi saja bisa menghapus beberapa profit sebelumnya. Selain itu, ketika trader tergoda untuk memindahkan stop loss atau menutup posisi terlalu cepat, keunggulan statistik dari win rate tinggi perlahan menghilang.

Dalam jangka panjang, risk–reward 1:1 sangat bergantung pada konsistensi win rate. Sedikit penurunan disiplin atau perubahan kondisi pasar bisa langsung membuat sistem menjadi impas atau bahkan merugi.

Hasil Eksperimen Risk–Reward 1:3

Pada fase kedua, trader menggunakan risk–reward 1:3 dengan risiko yang sama per transaksi, namun target profit tiga kali lebih besar. Pada awalnya, fase ini terasa jauh lebih sulit. Banyak posisi yang sempat profit kecil lalu berbalik arah dan akhirnya menyentuh stop loss. Win rate pun turun signifikan, sering kali hanya berada di kisaran 30–40%.

Secara psikologis, ini menjadi tantangan besar. Trader harus terbiasa dengan loss yang lebih sering. Ada rasa frustrasi ketika market hampir mencapai target namun berbalik. Namun, seiring berjalannya waktu, satu hal menarik mulai terlihat: beberapa transaksi profit besar mampu menutup banyak transaksi loss sekaligus.

Equity curve pada risk–reward 1:3 cenderung bergerigi, dengan fase datar atau penurunan kecil yang diikuti lonjakan profit tajam. Jika aturan dijalankan dengan disiplin, hasil akhirnya sering kali lebih unggul dibandingkan risk–reward 1:1, meskipun win rate jauh lebih rendah.

Perbandingan Statistik dan Probabilitas

Secara matematis, perbedaan kedua pendekatan ini sangat jelas. Dengan risk–reward 1:1, trader membutuhkan win rate di atas 50% untuk profit. Jika win rate turun menjadi 45%, sistem langsung merugi. Sebaliknya, dengan risk–reward 1:3, trader hanya membutuhkan win rate sekitar 25–30% untuk tetap profit.

Namun, statistik bukan satu-satunya penentu. Probabilitas hanya bekerja jika trader benar-benar disiplin mengikuti sistem. Sekali saja trader menggeser stop loss atau menutup profit terlalu cepat, rasio risk–reward yang direncanakan tidak lagi relevan.

Dampak Psikologis yang Berbeda

Eksperimen ini juga menunjukkan perbedaan besar dari sisi mental. Risk–reward 1:1 cocok untuk trader yang tidak tahan melihat loss beruntun dan membutuhkan validasi sering dari market. Namun, pendekatan ini rawan membuat trader overtrade karena merasa “target dekat”.

Risk–reward 1:3 menuntut kesabaran dan kedewasaan emosi. Trader harus menerima kenyataan bahwa loss adalah bagian besar dari proses. Fokus berpindah dari “sering benar” menjadi “benar saat memang tepat”. Ini melatih trader untuk berpikir dalam jangka panjang dan lebih menghargai proses daripada hasil harian.

Pelajaran Penting dari Eksperimen

Dari eksperimen ini, satu kesimpulan utama bisa diambil: tidak ada rasio risk–reward yang sempurna untuk semua orang. Risk–reward 1:1 dan 1:3 sama-sama bisa menghasilkan profit jika dijalankan dengan disiplin dan sesuai dengan karakter trader.

Yang paling berbahaya bukanlah memilih rasio yang “salah”, melainkan tidak konsisten menjalankan rasio tersebut. Banyak trader merencanakan risk–reward 1:3, namun dalam praktik menutup profit di 1:1 karena takut market berbalik. Akibatnya, mereka mendapatkan win rate rendah tanpa keunggulan rasio besar.

Eksperimen ini menegaskan pentingnya jurnal trading dan evaluasi berkala. Dengan data nyata dari hasil trading sendiri, trader bisa menentukan rasio mana yang benar-benar cocok, bukan hanya berdasarkan teori atau saran orang lain.

Trading bukan tentang mencari setup sempurna, melainkan tentang mengelola risiko, ekspektasi, dan emosi secara konsisten. Risk–reward hanyalah alat, tetapi cara kita menggunakannya akan menentukan hasil akhir.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana menerapkan manajemen risiko, risk–reward, dan disiplin trading secara terstruktur, mengikuti program edukasi yang tepat bisa menjadi langkah penting. Dengan bimbingan yang benar, Anda tidak hanya belajar teori, tetapi juga cara mengaplikasikannya dalam kondisi market nyata.

Program edukasi trading di www.didimax.co.id dirancang untuk membantu trader memahami aspek teknikal, psikologis, dan manajemen risiko secara menyeluruh. Melalui materi terstruktur dan pendampingan profesional, Anda bisa mempercepat proses belajar dan menghindari kesalahan umum yang sering dialami trader pemula maupun menengah.