Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Ini Risiko Tersembunyi Buy/Sell Saat Rilis Data Ekonomi Penting

Ini Risiko Tersembunyi Buy/Sell Saat Rilis Data Ekonomi Penting

by rizki

Ini Risiko Tersembunyi Buy/Sell Saat Rilis Data Ekonomi Penting

Bagi banyak trader, momen rilis data ekonomi penting seperti Non-Farm Payroll (NFP), suku bunga The Fed, inflasi (CPI), atau data GDP sering dianggap sebagai “ladang emas” untuk meraih profit besar dalam waktu singkat. Pergerakan harga yang tajam dan cepat terlihat seperti peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. Candle besar muncul dalam hitungan detik, spread melebar, dan volatilitas melonjak drastis.

Namun di balik potensi keuntungan besar tersebut, ada risiko tersembunyi yang sering kali tidak dipahami sepenuhnya oleh trader, terutama trader pemula. Banyak yang hanya melihat peluang, tanpa benar-benar memahami konsekuensi teknis dan psikologis saat memutuskan untuk melakukan buy atau sell tepat di momen rilis data ekonomi penting.

Artikel ini akan membahas secara mendalam risiko-risiko tersembunyi tersebut, agar Anda tidak hanya terpaku pada potensi profit, tetapi juga siap menghadapi realitas market yang sebenarnya.

1. Slippage: Musuh Tak Terlihat yang Menggerus Akun

Salah satu risiko terbesar saat rilis news adalah slippage. Slippage terjadi ketika order dieksekusi pada harga yang berbeda dari harga yang Anda klik. Dalam kondisi market normal, selisihnya mungkin kecil. Namun saat rilis data ekonomi besar, pergerakan harga bisa sangat cepat sehingga sistem tidak mampu mengeksekusi order tepat di harga yang diinginkan.

Misalnya, Anda melakukan buy di harga 2000.00 pada XAUUSD. Namun karena lonjakan order yang sangat besar di pasar, posisi Anda justru terbuka di 2002.50 atau bahkan lebih tinggi. Selisih ini langsung menjadi kerugian instan sebelum market bergerak lebih jauh.

Hal yang sama juga berlaku pada stop loss. Banyak trader merasa sudah aman karena memasang stop loss 20 poin. Tetapi ketika market bergerak ekstrem dalam hitungan detik, stop loss bisa tereksekusi jauh dari level yang ditentukan. Akibatnya, kerugian bisa jauh lebih besar dari yang direncanakan.

Slippage inilah yang sering tidak diperhitungkan dalam manajemen risiko trader pemula.

2. Spread Melebar Tanpa Peringatan

Pada saat rilis data ekonomi penting, likuiditas pasar bisa berubah drastis. Banyak penyedia likuiditas menarik diri sementara waktu untuk menghindari risiko. Akibatnya, spread bisa melebar sangat signifikan.

Dalam kondisi normal, spread emas mungkin hanya 20–30 poin. Namun saat news besar, spread bisa melebar menjadi 80, 100, bahkan lebih. Ini berarti:

  • Posisi Anda langsung minus lebih besar.

  • Stop loss lebih cepat tersentuh.

  • Target profit menjadi lebih sulit tercapai.

Trader yang tidak memahami mekanisme ini sering merasa “dicurangi”, padahal pelebaran spread adalah fenomena alami dalam kondisi volatilitas ekstrem.

3. Fake Breakout yang Menjebak Emosi

Banyak trader berpikir bahwa arah pergerakan pertama setelah rilis data adalah arah yang benar. Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Sering terjadi skenario seperti ini:

  • Data dirilis.

  • Harga melonjak tajam ke atas.

  • Trader FOMO melakukan buy.

  • Beberapa detik kemudian harga berbalik arah dengan sangat agresif dan turun lebih dalam dari titik awal.

Fenomena ini disebut fake breakout atau whipsaw. Market seolah-olah memberikan sinyal kuat, tetapi ternyata hanya jebakan likuiditas.

Pergerakan awal sering kali dipicu oleh reaksi algoritma, bukan oleh analisis rasional pelaku pasar besar. Setelah itu, market melakukan koreksi cepat karena pelaku besar mengambil posisi berlawanan.

Trader yang masuk tanpa perencanaan matang akan terjebak dalam pergerakan bolak-balik yang brutal.

4. Volatilitas Ekstrem Mengacaukan Psikologi

Risiko terbesar saat news bukan hanya teknis, tetapi juga psikologis.

Pergerakan harga yang sangat cepat memicu adrenalin. Trader cenderung:

  • Masuk tanpa analisis matang.

  • Menggandakan lot untuk mengejar momentum.

  • Menutup posisi terlalu cepat karena panik.

  • Membalas kerugian dengan entry impulsif.

Dalam kondisi normal saja, menjaga disiplin sudah sulit. Apalagi saat market bergerak puluhan hingga ratusan poin dalam waktu singkat.

Banyak akun hancur bukan karena salah analisis, tetapi karena kehilangan kendali emosi saat volatilitas tinggi.

5. Ketidakpastian Interpretasi Data

Tidak semua data ekonomi memiliki dampak yang sama. Bahkan terkadang, data yang secara teori “positif” justru membuat market turun, dan sebaliknya.

Kenapa?

Karena market tidak hanya bereaksi terhadap angka, tetapi terhadap ekspektasi. Jika data bagus tetapi sudah diantisipasi sebelumnya, pergerakan bisa berlawanan. Jika data buruk namun dianggap tidak terlalu parah, market bisa tetap naik.

Trader yang hanya melihat headline angka tanpa memahami konteks ekspektasi dan sentimen pasar berisiko besar salah arah.

6. Eksekusi Tertunda dan Requote

Selain slippage, beberapa trader juga mengalami requote atau keterlambatan eksekusi saat news. Sistem harus memproses lonjakan order dalam waktu bersamaan. Akibatnya:

  • Order tertolak.

  • Order delay.

  • Harga berubah drastis saat konfirmasi.

Dalam kondisi seperti ini, strategi entry cepat menjadi sangat berisiko karena Anda tidak memiliki kendali penuh atas harga masuk.

7. Overtrading Karena “Takut Ketinggalan”

Momen news sering memicu FOMO (Fear of Missing Out). Trader merasa jika tidak entry sekarang, maka kesempatan besar akan hilang.

Akibatnya:

  • Entry berkali-kali dalam waktu singkat.

  • Tidak memperhitungkan risiko per posisi.

  • Mengabaikan rencana trading yang sudah dibuat.

Padahal, market akan selalu ada besok. Tetapi akun trading belum tentu.

Overtrading saat news adalah salah satu penyebab utama margin call pada trader pemula.

8. Risiko Gap dan Lonjakan Tak Terduga

Dalam beberapa kondisi ekstrem, terutama saat keputusan suku bunga atau pernyataan bank sentral, harga bisa melonjak tanpa transisi bertahap. Pergerakan seperti ini menciptakan gap atau lonjakan instan.

Jika posisi Anda berlawanan arah dengan lonjakan tersebut dan tanpa manajemen risiko yang baik, kerugian bisa membesar dalam hitungan detik.

Market tidak memberi waktu untuk berpikir saat volatilitas memuncak.

9. Strategi Biasa Tidak Selalu Relevan

Banyak strategi teknikal bekerja baik dalam kondisi market normal, tetapi gagal saat news besar. Support-resistance bisa ditembus dengan mudah. Pola candlestick bisa kehilangan validitas. Indikator lagging menjadi terlambat memberikan sinyal.

Trader yang memaksakan strategi biasa dalam kondisi luar biasa sering kali mengalami kerugian beruntun.

Market saat rilis data ekonomi penting adalah fase khusus yang membutuhkan pendekatan berbeda.

10. Ilusi “Profit Cepat”

Yang membuat news trading begitu menggoda adalah ilusi profit cepat. Dalam beberapa kasus, memang ada trader yang berhasil meraih keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun yang jarang terlihat adalah:

  • Berapa kali mereka salah arah sebelumnya?

  • Berapa banyak akun yang habis karena mencoba hal yang sama?

  • Seberapa konsisten hasil tersebut dalam jangka panjang?

Trading profesional bukan tentang satu momen spektakuler, tetapi tentang konsistensi dan pengendalian risiko dalam jangka panjang.

Jadi, Haruskah Menghindari News?

Tidak selalu. Namun trader profesional biasanya memiliki pendekatan berbeda:

  • Mengurangi ukuran lot saat news.

  • Menunggu reaksi awal market mereda.

  • Menghindari entry di detik-detik pertama.

  • Fokus pada struktur market setelah volatilitas stabil.

Alih-alih mengejar pergerakan pertama, trader berpengalaman lebih memilih kejelasan arah setelah “debu mereda”.

Mereka paham bahwa menjaga modal jauh lebih penting daripada mengejar sensasi.

Penutup

Rilis data ekonomi penting memang menghadirkan peluang besar, tetapi juga menyimpan risiko tersembunyi yang tidak terlihat oleh mata yang hanya fokus pada profit. Slippage, spread melebar, fake breakout, tekanan psikologis, hingga kesalahan interpretasi data bisa menjadi kombinasi yang berbahaya bagi akun trading.

Keputusan untuk buy atau sell saat news bukan hanya soal keberanian, tetapi soal kesiapan strategi, manajemen risiko, dan kematangan psikologi. Tanpa itu semua, volatilitas tinggi justru menjadi ancaman, bukan peluang.

Jika Anda ingin memahami bagaimana cara menghadapi market saat rilis data ekonomi penting dengan pendekatan yang lebih terstruktur, terukur, dan profesional, maka belajar dari mentor berpengalaman adalah langkah yang tepat. Edukasi yang benar akan membantu Anda memahami bukan hanya kapan harus entry, tetapi kapan sebaiknya menahan diri.

Kunjungi www.didimax.co.id dan ikuti program edukasi trading yang dirancang untuk membantu Anda membangun mindset, strategi, dan manajemen risiko layaknya trader profesional. Jangan biarkan volatilitas news menjadi ancaman bagi akun Anda — ubah menjadi peluang dengan bekal ilmu dan pendampingan yang tepat.