Istirahat Dulu atau Lanjut Trading Saat Bank Holiday
Bagi banyak trader, waktu libur atau bank holiday sering membawa dilema. Di satu sisi, ada rasa ingin tetap aktif di market karena takut melewatkan peluang. Di sisi lain, ada rasa was-was karena kondisi pasar biasanya berubah, volatilitas tidak menentu, bahkan likuiditas bisa menurun drastis.
Pertanyaannya: lebih baik istirahat dulu, atau lanjut trading saat bank holiday?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi di market ketika bank tutup, mengapa pergerakan harga bisa menjadi “aneh”, dan bagaimana trader seharusnya bersikap — apakah menahan diri, atau tetap masuk dengan strategi tertentu.
Apa Itu Bank Holiday dan Mengapa Penting untuk Trader?
Bank holiday adalah hari libur resmi ketika institusi keuangan — terutama bank — tidak beroperasi.
Ini tidak hanya terjadi di satu negara saja. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, hingga negara Eropa memiliki jadwal libur masing-masing. Ketika bank libur, beberapa aktivitas pasar yang melibatkan:
-
penyelesaian transaksi (settlement),
-
transfer antar bank,
-
aktivitas likuiditas besar,
-
dan partisipasi institusi besar
akan berkurang.
Bagi trader retail, mungkin terlihat sepele. Toh platform trading masih bisa dibuka, chart tetap bergerak, dan kita tetap bisa entry.
Namun inti permasalahannya bukan di “bisa trading atau tidak” — melainkan kualitas market yang kita hadapi.
Mengapa Market Cenderung Berbeda Saat Bank Holiday?
Beberapa hal ini biasanya terjadi:
1. Likuiditas Menurun
Market forex misalnya, tetap terbuka. Tapi pemain besar — bank komersial, bank investasi, lembaga keuangan — berkurang. Akibatnya:
Trader yang tidak siap bisa terjebak dalam posisi yang sulit.
2. Volatilitas Tidak Stabil
Kadang pasar menjadi sangat sepi, bergerak sempit berjam-jam.
Namun di saat lain, justru mengalami lonjakan tiba-tiba — sering tanpa alasan jelas. Ini terjadi karena jumlah pelaku pasar yang sedikit, sehingga order tertentu bisa “menarik” harga lebih cepat.
3. Sinyal Teknikal Menjadi Kurang Valid
Indikator yang biasanya akurat:
-
moving average
-
breakout
-
support–resistance
bisa memberikan sinyal palsu karena pasar tidak bergerak dengan volume normal.
Di sinilah banyak trader mulai menyadari:
“Masuk market bukan selalu soal berani ambil peluang — tapi soal memilih kondisi yang sehat untuk trading.”
Lanjut Trading? Bisa — Tapi dengan Kesadaran Risiko
Tidak ada aturan bahwa trading saat bank holiday itu dilarang.
Beberapa trader tetap memilih masuk market karena:
-
sudah terbiasa dengan kondisi low volume,
-
punya strategi scalping tertentu,
-
atau memang memanfaatkan range kecil.
Namun ada beberapa catatan penting.
Pilih Pair yang Tetap Aktif
Saat bank holiday di satu negara, biasanya pair yang berkaitan dengan negara tersebut ikut melemah aktivitasnya.
Misalnya:
-
Bank Holiday USA → pair USD cenderung sepi
-
Bank Holiday Inggris → GBP melemah aktivitasnya
-
Bank Holiday Jepang → JPY menjadi kurang likuid
Trader berpengalaman akan menghindari pair tersebut, lalu beralih ke pair lain yang bank-nya masih aktif.
Gunakan Lot Lebih Kecil
Karena ketidakpastian meningkat, pengelolaan risiko harus lebih ketat.
Tujuannya bukan mengejar keuntungan besar, tapi mempertahankan modal.
Fokus pada Timeframe Lebih Tinggi
Hindari terlalu terpaku pada timeframe kecil (M1, M5) karena noise lebih besar.
Timeframe seperti H1 atau H4 memberikan gambaran lebih stabil mengenai arah market.
Atau… Lebih Baik Istirahat?
Di sisi lain, banyak trader profesional justru menggunakan bank holiday sebagai waktu istirahat strategis.
Alasannya sederhana:
-
Market tidak ideal
-
Risiko lebih sulit dikontrol
-
Emosi lebih cepat terpancing karena pergerakan aneh
Istirahat bukan berarti malas.
Justru saat libur, ada banyak hal produktif yang bisa dilakukan:
Evaluasi Jurnal Trading
Coba lihat kembali:
-
apa kesalahan yang sering diulang,
-
bagaimana performa strategi,
-
momen apa saja yang paling menguntungkan.
Evaluasi seperti ini seringkali jauh lebih berharga dibanding memaksa entry.
Perkuat Ilmu
Bank holiday adalah waktu yang tepat untuk:
-
belajar price action lebih dalam,
-
memahami psikologi trading,
-
memperbaiki money management.
Trader yang bertahan lama di market adalah mereka yang lebih banyak belajar daripada hanya fokus entry.
Pulihkan Kondisi Mental
Trading membutuhkan energi.
Jika pikiran penat dan emosi jenuh, hasil trading pun biasanya ikut kacau.
Libur sebentar seringkali membuat pikiran jernih kembali — dan keputusan setelahnya menjadi lebih rasional.
Jadi, Mana yang Lebih Tepat?
Jawabannya tidak tunggal.
✔ Jika kamu sudah berpengalaman, punya strategi jelas, dan mampu mengendalikan risiko — lanjut trading mungkin masih masuk akal.
❌ Jika kamu masih sering emosional, masih belajar dasar, atau mudah panik ketika pasar bergerak aneh — istirahat akan jauh lebih bijak.
Ingat:
Trader hebat bukan yang paling sering entry, tetapi yang paling pandai memilih kapan tidak trading.
Banyak kerugian besar justru terjadi karena memaksa masuk di kondisi yang sebenarnya tidak ideal.
Pada akhirnya, keputusan selalu kembali ke dirimu — tapi pastikan setiap keputusan punya alasan yang logis, bukan sekadar takut ketinggalan peluang.
Jika kamu merasa masih bingung menentukan kapan harus trading dan kapan sebaiknya istirahat, saatnya belajar dengan bimbingan yang lebih terstruktur. Di program edukasi trading Didimax, kamu bisa memahami secara menyeluruh tentang manajemen risiko, membaca market saat kondisi normal maupun saat bank holiday, dan mempraktikkan strategi dengan pendampingan mentor berpengalaman. Materi disusun rapi, mudah dipahami, dan cocok untuk pemula hingga yang sudah pernah trading sebelumnya.
Selain itu, kamu juga bisa berdiskusi langsung, bertanya, dan menganalisis market bersama komunitas trader aktif. Jadi, kamu tidak lagi berjalan sendirian. Silakan kunjungi situsnya di www.didimax.co.id dan mulailah perjalanan trading yang lebih terarah, aman, dan matang — bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.