Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Jangan Nekat! Ini Alasan Trader Pemula Hindari Trading Saat News Besar

Jangan Nekat! Ini Alasan Trader Pemula Hindari Trading Saat News Besar

by rizki

Jangan Nekat! Ini Alasan Trader Pemula Hindari Trading Saat News Besar

Dalam dunia trading, momen rilis news besar seperti Non-Farm Payroll (NFP), suku bunga The Fed, data inflasi (CPI), hingga keputusan bank sentral sering dianggap sebagai “ladang emas” untuk meraih profit cepat. Pergerakan harga yang tiba-tiba melonjak puluhan bahkan ratusan pip dalam hitungan menit terlihat sangat menggiurkan, terutama bagi trader pemula yang ingin mendapatkan hasil instan.

Namun di balik potensi profit besar, ada risiko yang jauh lebih besar dan sering kali tidak disadari. Banyak trader pemula yang justru mengalami kerugian signifikan, bahkan margin call, karena nekat entry saat news berdampak tinggi dirilis. Artikel ini akan membahas secara mendalam alasan mengapa trader pemula sebaiknya menghindari trading saat news besar, serta bagaimana cara menyikapinya dengan lebih profesional.

1. Volatilitas Ekstrem yang Sulit Diprediksi

Saat news besar dirilis, market bisa bergerak sangat cepat dan liar. Dalam hitungan detik, harga bisa melonjak tajam ke atas, lalu berbalik arah dengan kecepatan yang sama. Pergerakan seperti ini sering disebut sebagai spike atau whipsaw.

Bagi trader berpengalaman dengan sistem matang dan manajemen risiko ketat, volatilitas bisa menjadi peluang. Namun bagi trader pemula, volatilitas ekstrem justru menjadi jebakan.

Kenapa?

Karena pemula umumnya belum memiliki:

  • Pengalaman membaca reaksi market terhadap news

  • Strategi khusus menghadapi volatilitas tinggi

  • Mental yang stabil saat melihat pergerakan super cepat

Akibatnya, keputusan yang diambil sering kali berdasarkan emosi, bukan analisis.

2. Slippage dan Spread Melebar

Banyak trader pemula tidak memahami bahwa saat news besar dirilis, kondisi teknis market juga berubah. Spread bisa melebar drastis dan slippage sering terjadi.

Spread yang biasanya 1–2 pip bisa melonjak menjadi 10–30 pip atau bahkan lebih, tergantung instrumen dan broker. Ini berarti, bahkan sebelum harga bergerak sesuai prediksi, posisi Anda sudah mengalami floating loss yang cukup besar.

Slippage juga menjadi masalah serius. Order yang Anda pasang di harga tertentu bisa tereksekusi di harga yang jauh berbeda karena lonjakan volatilitas. Stop loss pun bisa terkena di harga yang lebih buruk dari yang direncanakan.

Bagi pemula yang modalnya terbatas dan manajemen risikonya belum solid, kondisi ini sangat berbahaya.

3. Analisis Teknikal Sering Tidak Berlaku

Banyak trader pemula mengandalkan support dan resistance, trendline, indikator RSI, MACD, atau pola candlestick untuk entry. Namun saat news besar dirilis, analisis teknikal sering kali “dikalahkan” oleh sentimen fundamental.

Level support yang terlihat kuat bisa ditembus dengan mudah. Resistance yang tampak kokoh bisa dihancurkan dalam satu candle besar. Indikator yang sebelumnya menunjukkan overbought atau oversold bisa terus bertahan dalam kondisi ekstrem.

Tanpa pemahaman fundamental dan tanpa pengalaman membaca reaksi pasar terhadap news, trader pemula sering kali terjebak dalam false breakout.

4. Reaksi Market Tidak Selalu Sesuai Logika

Salah satu kesalahan terbesar trader pemula adalah menganggap bahwa hasil news yang bagus pasti membuat harga naik, dan hasil news yang buruk pasti membuat harga turun.

Faktanya, market tidak selalu bergerak sesuai logika sederhana.

Contohnya:

  • Data ekonomi bagus, tapi harga justru turun.

  • Data lebih buruk dari ekspektasi, tapi harga malah naik.

Kenapa bisa begitu?

Karena market bergerak berdasarkan ekspektasi, positioning pelaku besar, dan sentimen yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika hasil news sudah “diantisipasi” oleh market, maka pergerakan bisa berlawanan arah dari yang diperkirakan pemula.

Tanpa pengalaman memahami konsep “buy the rumor, sell the fact”, trader pemula mudah sekali terjebak.

5. Emosi Meledak Saat Market Bergerak Cepat

News besar menciptakan suasana yang sangat emosional. Grafik bergerak cepat, candle panjang bermunculan, dan floating profit atau loss berubah drastis dalam hitungan detik.

Bagi trader pemula, ini memicu:

  • FOMO (Fear of Missing Out)

  • Panic closing

  • Revenge trading

  • Overtrading

Sering kali pemula masuk tanpa rencana hanya karena takut ketinggalan momentum. Ketika harga berbalik arah, mereka panik dan menutup posisi dengan kerugian. Lalu mencoba entry lagi tanpa analisis matang, berharap bisa “balik modal”.

Siklus ini sangat berbahaya dan bisa menghabiskan akun dalam waktu singkat.

6. Risk-Reward Sulit Dikontrol

Dalam kondisi normal, trader bisa menghitung risk-reward ratio dengan cukup presisi. Misalnya, stop loss 20 pip dan target profit 40 pip.

Namun saat news besar, harga bisa melompat jauh melewati stop loss sebelum tereksekusi dengan baik. Atau target profit terlewati karena volatilitas terlalu tinggi dan terjadi retracement tajam.

Artinya, struktur manajemen risiko yang biasa digunakan menjadi kurang efektif. Bagi pemula yang belum disiplin dengan risk management, kondisi ini memperbesar potensi kerugian.

7. Market Bisa “Diam” Lalu Meledak

Tidak semua news langsung memicu pergerakan besar. Kadang market terlihat tenang sesaat setelah rilis data, lalu tiba-tiba bergerak sangat agresif beberapa menit kemudian.

Trader pemula yang melihat market “diam” sering kali menganggap situasi aman dan mulai entry. Namun ketika ledakan volatilitas terjadi, posisi mereka langsung terjebak.

Tanpa pengalaman memahami pola reaksi market terhadap news, sangat sulit untuk mengantisipasi skenario seperti ini.

8. Modal Pemula Biasanya Terbatas

Faktor lain yang sering diabaikan adalah ukuran modal. Trader pemula umumnya memiliki modal yang relatif kecil. Dalam kondisi volatilitas tinggi, fluktuasi harga yang besar bisa menggerus margin dengan cepat.

Dengan leverage tinggi, pergerakan kecil saja bisa berdampak signifikan pada ekuitas. Apalagi saat news besar, pergerakan tidak lagi “kecil”.

Sekali salah langkah, akun bisa mengalami drawdown besar yang sulit dipulihkan.

9. Profesional Justru Sering Menunggu

Menariknya, banyak trader profesional justru tidak selalu trading saat news besar. Mereka memahami bahwa peluang tidak harus diambil setiap saat.

Kadang strategi terbaik adalah menunggu:

  • Menunggu volatilitas mereda

  • Menunggu struktur market terbentuk kembali

  • Menunggu konfirmasi arah yang lebih jelas

Kesabaran adalah salah satu ciri utama trader profesional. Mereka tidak tergoda oleh pergerakan cepat semata, tetapi fokus pada probabilitas dan manajemen risiko.

10. Lebih Baik Belajar Memahami Dulu

Bukan berarti trading saat news besar selalu salah. Namun bagi pemula, langkah yang lebih bijak adalah:

  • Mengamati dulu bagaimana market bereaksi

  • Mencatat pola pergerakan setelah news

  • Belajar memahami hubungan antara data ekonomi dan instrumen yang ditradingkan

  • Menguji strategi di akun demo sebelum terjun langsung

Dengan pendekatan ini, pemula bisa membangun fondasi yang kuat sebelum benar-benar siap menghadapi volatilitas tinggi.

Kapan Waktu yang Lebih Aman?

Beberapa trader memilih untuk menunggu 15–30 menit setelah news dirilis. Tujuannya agar market menunjukkan arah yang lebih jelas dan spread kembali normal.

Pendekatan ini memang bisa mengurangi potensi profit besar di awal, tetapi juga secara signifikan menurunkan risiko. Bagi pemula, menjaga akun tetap bertahan jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan instan.

Ingat, tujuan utama dalam trading bukanlah cepat kaya, tetapi bertahan dan berkembang secara konsisten.

Fokus pada Proses, Bukan Sensasi

Trading saat news besar sering kali terasa menegangkan dan penuh adrenalin. Namun trading bukanlah tentang sensasi, melainkan tentang konsistensi.

Trader yang sukses dalam jangka panjang adalah mereka yang:

  • Disiplin pada rencana trading

  • Konsisten menerapkan manajemen risiko

  • Tidak mudah terpancing emosi

  • Mau belajar dari kesalahan

Jika Anda masih dalam tahap belajar, menghindari news besar bukan berarti pengecut. Justru itu adalah bentuk kedewasaan dalam trading.

Trading adalah maraton, bukan sprint.

Daripada mempertaruhkan akun demi satu momen volatilitas, jauh lebih bijak membangun sistem yang solid dan mental yang kuat terlebih dahulu. Dengan begitu, ketika Anda sudah siap menghadapi news besar, Anda melakukannya dengan perhitungan, bukan nekat.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana cara membaca market secara profesional, mengelola risiko dengan benar, serta membangun mindset trader yang disiplin, penting untuk belajar dari mentor dan sistem yang sudah teruji. Edukasi yang tepat akan membantu Anda menghindari kesalahan fatal yang sering dilakukan trader pemula, terutama saat menghadapi momen-momen krusial seperti rilis news besar.

Jangan biarkan akun Anda menjadi “korban belajar” karena kurangnya pemahaman. Tingkatkan skill dan kepercayaan diri Anda melalui program edukasi trading yang terstruktur dan komprehensif di www.didimax.co.id. Dengan bimbingan yang tepat, Anda bisa berkembang menjadi trader yang lebih siap, lebih tenang, dan lebih profesional dalam menghadapi segala kondisi market.