Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Kenapa Market Jadi Brutal Saat News dan Pemula Sebaiknya Menghindar

Kenapa Market Jadi Brutal Saat News dan Pemula Sebaiknya Menghindar

by rizki

Kenapa Market Jadi Brutal Saat News dan Pemula Sebaiknya Menghindar

Dalam dunia trading, ada satu momen yang selalu dinanti sekaligus ditakuti: rilis news besar. Entah itu data Non-Farm Payroll (NFP), keputusan suku bunga The Fed, inflasi (CPI), atau pernyataan bank sentral, market bisa berubah dari tenang menjadi brutal hanya dalam hitungan detik. Candle memanjang ekstrem, spread melebar, slippage terjadi, dan harga bergerak tanpa ampun.

Bagi trader profesional, momen news adalah area yang diperlakukan dengan sangat hati-hati. Namun bagi trader pemula, momen ini justru sering dianggap sebagai peluang emas untuk “cepat cuan.” Padahal, di balik potensi profit besar, risiko yang mengintai jauh lebih besar.

Lalu kenapa market bisa menjadi begitu brutal saat news dirilis? Dan kenapa pemula sebaiknya menghindar?

1. Ledakan Volume dan Ketidakseimbangan Order

Saat news besar dirilis, ribuan bahkan jutaan pelaku pasar bereaksi secara bersamaan. Bank, hedge fund, institusi besar, algoritma trading berkecepatan tinggi (HFT), hingga trader ritel—semuanya masuk dalam waktu hampir bersamaan.

Ketika order buy dan sell masuk dalam jumlah besar dalam waktu singkat, terjadi ketidakseimbangan likuiditas. Jika mayoritas pelaku pasar bereaksi bearish, maka tekanan jual akan menghantam harga dengan cepat. Sebaliknya, jika respons bullish dominan, harga bisa melonjak tajam.

Masalahnya, kecepatan pergerakan ini sering kali melampaui kemampuan trader ritel untuk bereaksi. Platform bisa delay, harga yang terlihat di layar belum tentu harga yang benar-benar tereksekusi. Dalam kondisi ini, market tidak lagi bergerak “normal”, melainkan liar dan agresif.

2. Spread Melebar dan Slippage Tak Terhindarkan

Banyak pemula hanya fokus pada arah pergerakan harga. Mereka melihat candle besar dan berpikir, “Kalau saya masuk di awal, pasti untung besar.”

Namun mereka lupa satu hal penting: spread dan slippage.

Saat volatilitas meningkat drastis, broker akan menyesuaikan spread karena risiko meningkat. Spread yang biasanya 1–2 pips bisa melebar berkali-kali lipat. Ini berarti posisi Anda langsung minus lebih besar saat entry.

Belum lagi slippage—kondisi di mana harga eksekusi berbeda dari harga yang Anda klik. Anda ingin entry di harga A, tetapi tereksekusi di harga B yang jauh lebih buruk. Stop loss pun bisa terkena slippage, sehingga kerugian lebih besar dari yang direncanakan.

Di momen news, semua ini adalah hal yang sangat umum. Dan bagi pemula yang belum terbiasa, pengalaman ini bisa terasa seperti “dirampok” oleh market.

3. Fake Breakout dan Whipsaw yang Mematikan

Salah satu karakter paling brutal dari market saat news adalah munculnya fake breakout dan whipsaw.

Harga bisa melonjak tajam ke atas dalam beberapa detik, memancing trader untuk buy. Belum sempat bernapas, harga berbalik arah dengan lebih tajam dan menghantam stop loss. Setelah itu, harga bisa kembali lagi ke arah awal.

Gerakan bolak-balik ekstrem inilah yang disebut whipsaw. Bagi trader tanpa rencana matang, kondisi ini sangat berbahaya.

Pemula sering terjebak dalam pola emosional seperti ini:

  • Melihat candle besar → FOMO → Entry tanpa analisis

  • Terkena stop loss → Emosi naik → Balas dendam (revenge trading)

  • Entry lagi tanpa perhitungan → Rugi lebih besar

Dalam hitungan menit, akun bisa terkuras signifikan.

4. Algoritma dan Institusi Bergerak Lebih Cepat

Perlu dipahami bahwa market modern didominasi oleh algoritma berkecepatan tinggi. Saat news dirilis, sistem otomatis ini bisa membaca data dalam milidetik dan langsung mengeksekusi order besar.

Bandingkan dengan trader ritel yang:

  • Harus membaca berita dulu

  • Menganalisis reaksi harga

  • Mengklik manual

  • Menghadapi delay koneksi

Kita bermain di arena yang sama, tetapi dengan “senjata” yang berbeda. Dalam situasi news, keunggulan teknologi menjadi sangat menentukan.

Itulah sebabnya banyak trader profesional justru memilih untuk menunggu market tenang kembali. Mereka sadar bahwa bersaing langsung dengan algoritma saat rilis news bukanlah permainan yang seimbang.

5. Psikologi yang Tidak Siap Menghadapi Tekanan Ekstrem

Selain faktor teknikal dan likuiditas, faktor psikologis juga menjadi alasan utama kenapa market terasa brutal saat news.

Pergerakan cepat memicu adrenalin. Detak jantung meningkat. Pikiran menjadi tidak rasional. Keputusan diambil secara impulsif.

Bagi pemula, tekanan ini sangat sulit dikendalikan. Mereka belum memiliki pengalaman cukup untuk tetap tenang saat candle bergerak puluhan hingga ratusan pips dalam waktu singkat.

Trading bukan hanya soal strategi, tetapi soal kemampuan mengelola emosi. Saat news, tekanan emosi meningkat drastis. Tanpa kontrol diri yang kuat, keputusan yang diambil hampir pasti didorong oleh rasa takut atau serakah.

Dan kombinasi fear + greed dalam market volatil adalah resep sempurna untuk kerugian besar.

6. Ilusi Peluang Besar yang Menyesatkan

News memang menciptakan pergerakan besar. Dan pergerakan besar identik dengan peluang profit besar. Namun di balik itu, risiko juga membesar.

Banyak pemula hanya melihat potensi profit tanpa menghitung probabilitas dan risiko tersembunyi. Mereka tidak memperhitungkan:

  • Ketidakpastian arah awal

  • Potensi reversal cepat

  • Eksekusi yang tidak ideal

  • Spread melebar

  • Slippage

Trader profesional selalu bertanya: apakah risk-reward sepadan? Apakah kondisi ini sesuai dengan sistem saya?

Jika jawabannya tidak jelas, mereka memilih tidak entry.

Tidak trading juga adalah keputusan trading.

7. Menghindar Bukan Berarti Takut

Banyak pemula berpikir bahwa menghindari market saat news berarti penakut atau tidak berani ambil peluang. Padahal dalam dunia profesional, disiplin untuk tidak masuk adalah bentuk kedewasaan.

Trader profesional tidak merasa harus selalu ada di market. Mereka tahu bahwa tujuan utama bukan mencari sensasi, tetapi menjaga konsistensi jangka panjang.

Menghindari news bukan berarti anti volatilitas. Tetapi lebih kepada memilih kondisi yang lebih terukur dan sesuai dengan sistem yang sudah teruji.

Karena dalam trading, yang paling penting bukan satu kali profit besar, tetapi kemampuan bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

8. Strategi Bijak Menghadapi News

Bagi pemula, ada beberapa pendekatan yang jauh lebih aman dibanding nekat entry saat rilis news:

  1. Hindari entry 15–30 menit sebelum dan sesudah news besar.

  2. Tunggu struktur market kembali terbentuk dengan jelas.

  3. Biarkan volatilitas awal mereda sebelum mencari peluang.

  4. Gunakan lot kecil jika tetap ingin mencoba, dan pastikan risiko terukur.

  5. Pahami kalender ekonomi dan jadwalkan trading Anda.

Dengan pendekatan seperti ini, Anda tidak perlu melawan badai. Anda cukup menunggu sampai ombak lebih bersahabat.

9. Fokus pada Proses, Bukan Sensasi

Market yang brutal memang terlihat menarik. Candle panjang sering memicu rasa “ingin ikut.” Namun trading bukanlah permainan mengejar sensasi.

Trader yang sukses adalah mereka yang konsisten menjalankan sistem. Mereka tahu kapan harus masuk dan kapan harus menepi.

Pemula sering gagal bukan karena tidak bisa membaca chart, tetapi karena tidak sabar menunggu momen yang sesuai dengan rencana.

Jika Anda ingin bertahan lama di dunia trading, belajarlah untuk menghargai proses. Biarkan market bergerak sesukanya saat news. Anda tidak wajib ikut setiap pergerakan.

10. Kesimpulan: Bertahan Lebih Penting daripada Menang Sekali

Market menjadi brutal saat news karena kombinasi ledakan volume, algoritma berkecepatan tinggi, likuiditas yang tidak stabil, dan reaksi emosional massal. Dalam kondisi ini, risiko meningkat tajam dan sering kali sulit dikendalikan.

Bagi trader pemula, masuk saat rilis news tanpa pengalaman dan sistem yang matang ibarat mengendarai mobil balap di tengah badai tanpa sabuk pengaman.

Menghindar bukan kelemahan. Justru itu adalah bentuk manajemen risiko yang cerdas.

Karena dalam trading, yang membuat Anda sukses bukan satu kali profit besar saat news, melainkan kemampuan menjaga akun tetap aman dan bertumbuh secara konsisten dalam jangka panjang.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana membaca market dengan benar, mengelola risiko secara profesional, serta membangun mindset trader yang disiplin dan konsisten, Anda perlu belajar dari mentor yang tepat dan sistem yang terarah. Edukasi yang komprehensif akan membantu Anda menghindari kesalahan umum pemula dan membangun fondasi trading yang kuat sejak awal.

Daripada terus berspekulasi tanpa arah dan mempertaruhkan modal di momen-momen berisiko tinggi seperti rilis news besar, lebih baik tingkatkan skill Anda melalui program edukasi trading yang terstruktur di www.didimax.co.id. Dengan bimbingan yang tepat, Anda tidak hanya belajar cara entry, tetapi juga memahami kapan waktu terbaik untuk menahan diri demi menjaga konsistensi profit jangka panjang.