Kenapa Trader Berpengalaman Saja Hati-Hati Saat Rilis News?

Di dunia trading, khususnya di market yang volatil seperti emas (XAUUSD), momen rilis news besar sering dianggap sebagai “ladang emas” bagi banyak trader. Candle bergerak cepat, range melebar, dan dalam hitungan menit harga bisa melesat puluhan bahkan ratusan poin. Bagi trader pemula, kondisi ini terlihat seperti peluang emas untuk mendapatkan profit besar dalam waktu singkat.
Namun menariknya, justru trader berpengalaman—yang sudah bertahun-tahun terjun di market—cenderung lebih berhati-hati saat rilis news. Mereka tidak asal entry, tidak sembarang buy atau sell, bahkan sering kali memilih untuk tidak trading sama sekali di momen tersebut.
Kenapa bisa begitu? Bukankah pengalaman seharusnya membuat mereka lebih percaya diri menghadapi volatilitas tinggi?
Jawabannya tidak sesederhana “takut rugi”. Ada alasan mendasar dan sangat logis di balik sikap hati-hati trader profesional saat news dirilis.
1. Volatilitas Tinggi Bukan Selalu Berarti Peluang Besar
Banyak orang menyamakan volatilitas dengan peluang. Memang benar, semakin besar pergerakan harga, semakin besar potensi profit. Tapi yang sering dilupakan adalah: semakin besar potensi profit, semakin besar pula potensi kerugian.
Saat rilis news berdampak tinggi seperti Non-Farm Payroll (NFP), CPI, FOMC, atau data suku bunga, market bisa bergerak sangat liar. Spread melebar, slippage sering terjadi, dan harga bisa meloncat tanpa menyentuh level-level teknikal yang biasanya dihormati.
Trader berpengalaman memahami bahwa di momen seperti ini, market sering kali tidak “rasional” dalam jangka pendek. Harga bisa bergerak sangat cepat ke satu arah, lalu berbalik tajam dalam hitungan detik. Pola teknikal yang sebelumnya valid bisa menjadi tidak relevan.
Karena itulah, mereka tidak serta-merta melihat volatilitas sebagai peluang, tetapi sebagai risiko yang harus dikelola dengan ekstra hati-hati.
2. Slippage dan Spread Melebar Itu Nyata
Salah satu risiko terbesar saat rilis news adalah slippage. Anda mungkin sudah memasang stop loss di level tertentu, tetapi ketika news dirilis dan harga melonjak cepat, order Anda bisa tereksekusi jauh dari harga yang direncanakan.
Begitu juga dengan spread yang melebar drastis. Dalam kondisi normal, spread mungkin hanya beberapa poin. Namun saat news besar, spread bisa melebar berkali-kali lipat. Ini membuat entry dan exit menjadi tidak efisien.
Trader pemula sering kali tidak memperhitungkan hal ini. Mereka fokus pada arah harga, tapi lupa bahwa eksekusi juga sangat menentukan hasil akhir trading.
Trader berpengalaman tahu bahwa sistem trading yang bagus sekalipun bisa “rusak” oleh kondisi eksekusi yang tidak ideal. Oleh karena itu, mereka lebih selektif dalam mengambil keputusan saat kondisi market tidak stabil.
3. News Tidak Selalu Bergerak Sesuai Logika
Secara teori, jika data ekonomi lebih baik dari ekspektasi, mata uang negara tersebut akan menguat. Jika data lebih buruk, mata uang akan melemah. Namun dalam praktiknya, market sering bergerak berlawanan dengan logika dasar tersebut.
Kenapa? Karena market bergerak berdasarkan ekspektasi, positioning pelaku besar, dan sentimen yang sudah terbentuk sebelumnya. Terkadang, hasil news sudah “priced in” sebelum data dirilis.
Contohnya, data dirilis sangat bagus, tetapi harga justru turun karena pelaku besar sudah lebih dulu buy sebelum news dan memilih take profit saat rilis.
Trader berpengalaman memahami bahwa mereka tidak hanya berhadapan dengan data, tetapi dengan psikologi massal dan strategi institusi besar. Itulah sebabnya mereka tidak terburu-buru mengambil posisi hanya karena melihat angka yang keluar di layar.
4. Market Bisa Menjebak dengan Fake Breakout
Salah satu fenomena yang sering terjadi saat news adalah fake breakout. Harga menembus level support atau resistance penting dengan sangat kuat, membuat banyak trader masuk mengikuti arah breakout. Namun tidak lama kemudian, harga berbalik arah dan menjebak mereka.
Trader profesional sudah sering melihat pola ini. Mereka tahu bahwa pergerakan awal saat news sering kali bukan arah sesungguhnya, melainkan “liquidity grab” untuk menyapu stop loss trader ritel.
Karena pengalaman inilah mereka lebih memilih menunggu market tenang, melihat struktur yang lebih jelas, dan baru kemudian mempertimbangkan entry.
Bagi mereka, kehilangan satu peluang jauh lebih baik daripada masuk dalam jebakan yang bisa menggerus modal secara signifikan.
5. Fokus Utama Mereka Adalah Konsistensi, Bukan Sensasi
Trader pemula sering mencari sensasi: entry cepat, profit besar, screenshot hasil trading fantastis. Sementara trader berpengalaman fokus pada satu hal: konsistensi jangka panjang.
Mereka sadar bahwa satu momen news tidak akan menentukan kesuksesan karier trading mereka. Justru keputusan emosional di momen volatil bisa merusak performa yang sudah dibangun dengan disiplin.
Trader profesional tidak tertarik pada “hero moment”. Mereka lebih tertarik menjaga equity curve tetap stabil dan bertumbuh secara konsisten.
Karena itu, mereka bertanya pada diri sendiri: Apakah entry saat news ini sesuai dengan rencana trading saya? Apakah risiko bisa dikontrol? Apakah ini bagian dari sistem saya, atau hanya dorongan emosi?
Jika jawabannya tidak jelas, mereka lebih memilih tidak trading.
6. Pengalaman Mengajarkan Harga Sebuah Kesalahan
Trader berpengalaman bukan berarti tidak pernah rugi. Justru sebaliknya, mereka sudah mengalami berbagai kesalahan mahal di masa lalu. Mereka pernah overconfidence saat news, pernah terkena slippage besar, pernah melihat floating minus membengkak dalam hitungan detik.
Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk sikap hati-hati.
Mereka tahu bahwa market tidak bisa diprediksi sepenuhnya, terutama saat rilis data besar. Mereka tahu bahwa melawan volatilitas tanpa rencana yang matang sama saja dengan berjudi.
Dan yang paling penting, mereka tahu bahwa menjaga modal lebih penting daripada mengejar peluang yang belum tentu bisa dikendalikan.
7. Mereka Punya Rencana, Bukan Reaksi
Perbedaan utama antara trader pemula dan trader berpengalaman saat rilis news adalah: reaksi vs rencana.
Trader pemula cenderung bereaksi. Melihat candle besar, langsung ikut. Melihat harga melonjak, langsung FOMO. Melihat breakout, langsung entry tanpa konfirmasi.
Trader berpengalaman bertindak berdasarkan rencana. Jika strategi mereka memang mengizinkan trading saat news dengan aturan tertentu, mereka akan mengikuti aturan tersebut dengan disiplin. Jika tidak, mereka akan menunggu.
Tidak ada keputusan impulsif.
Mereka sadar bahwa market akan selalu ada besok, minggu depan, dan bulan depan. Tidak perlu memaksakan diri mengambil risiko tinggi hanya karena takut ketinggalan momen.
8. Psikologi Market Saat News Sangat Ekstrem
Saat news dirilis, emosi market memuncak. Ketakutan dan keserakahan bergerak dalam intensitas tinggi. Dalam kondisi seperti ini, trader yang tidak siap secara mental sangat mudah terseret arus.
Trader berpengalaman memahami bahwa menjaga kestabilan psikologi adalah kunci. Mereka tahu bahwa volatilitas ekstrem bisa memicu overtrading, revenge trading, dan keputusan tidak rasional.
Dengan memilih lebih hati-hati saat news, mereka sebenarnya sedang melindungi kondisi mental mereka sendiri.
Karena sekali psikologi terganggu, dampaknya bisa berantai dan merusak performa trading untuk waktu yang cukup lama.
9. Mereka Menghargai Risk Management di Atas Segalanya
Bagi trader profesional, risk management adalah fondasi utama. Tanpa manajemen risiko yang baik, strategi sehebat apa pun akan runtuh.
Saat news dirilis, banyak variabel menjadi sulit dikontrol: spread, slippage, lonjakan volatilitas, dan perubahan sentimen mendadak. Semua ini membuat manajemen risiko menjadi lebih kompleks.
Jika kondisi tidak memungkinkan untuk mengontrol risiko dengan baik, trader berpengalaman lebih memilih mundur sejenak.
Bukan karena takut, tetapi karena disiplin.
10. Hati-Hati Bukan Berarti Tidak Berani
Ada anggapan bahwa trader yang tidak trading saat news berarti tidak berani mengambil risiko. Padahal kenyataannya, justru dibutuhkan keberanian untuk berkata “tidak” pada peluang yang tidak sesuai dengan sistem.
Hati-hati adalah bentuk kedewasaan dalam trading.
Trader berpengalaman tahu kapan harus agresif dan kapan harus defensif. Mereka tidak selalu ingin berada di market. Mereka ingin berada di market pada waktu yang tepat.
Karena dalam trading, bukan seberapa sering Anda entry yang menentukan hasil, tetapi seberapa berkualitas keputusan yang Anda ambil.
Rilis news memang bisa menghadirkan peluang besar. Tetapi di balik peluang tersebut, tersimpan risiko yang tidak kecil. Itulah sebabnya trader berpengalaman memilih bersikap lebih hati-hati. Mereka memahami bahwa tujuan utama trading bukanlah menang besar sesekali, melainkan bertahan dan bertumbuh dalam jangka panjang.
Jika Anda ingin memahami bagaimana cara membaca market dengan lebih objektif, mengelola risiko dengan disiplin, serta membangun mindset trader profesional yang tidak mudah terpancing volatilitas saat news, penting untuk belajar dari mentor dan sistem yang sudah teruji.
Anda bisa mulai mengembangkan kemampuan trading Anda dengan mengikuti program edukasi trading di www.didimax.co.id. Dengan bimbingan yang tepat, materi yang terstruktur, dan komunitas yang suportif, Anda dapat belajar bagaimana menjadi trader yang tidak hanya mengejar peluang, tetapi juga mampu mengelola risiko secara profesional dan konsisten.