Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Kenapa Trader Suka Menambah Posisi Saat Kalah?

Kenapa Trader Suka Menambah Posisi Saat Kalah?

by Rizka

Kenapa Trader Suka Menambah Posisi Saat Kalah?

Dalam dunia trading, salah satu perilaku yang paling umum namun paling berbahaya adalah kebiasaan menambah posisi saat sedang kalah. Pola ini sering disebut sebagai averaging down atau martingale, dan banyak trader—baik pemula maupun yang sudah berpengalaman—tanpa sadar terjebak dalam siklusnya. Meski terlihat seperti strategi “menurunkan harga rata-rata agar lebih mudah balik modal”, kenyataannya kebiasaan ini bisa membawa dampak fatal pada psikologi maupun akun trading.

Pertanyaannya: Mengapa perilaku ini terus terjadi meski sudah tahu risikonya? Mengapa trader yang sebenarnya sudah paham bahaya averaging down tetap mengulangi hal yang sama berulang kali? Apa dorongan psikologis dan mental yang memicu keputusan impulsif ini? Untuk memahami jawabannya, kita perlu masuk ke mekanisme mental di balik layar, bukan hanya bicara soal teknikal atau strategi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam berbagai faktor psikologis, emosional, dan perilaku yang membuat trader suka menambah posisi saat kalah. Kita juga akan menguraikan efek jangka panjang, cara mengatasi kebiasaan ini, dan bagaimana memperbaiki mindset agar lebih stabil dalam mengambil keputusan trading.


1. Ilusi "Harga Pasti Kembali"

Banyak trader yang menambah posisi saat kalah karena terjebak dalam keyakinan bahwa harga pasti akan kembali ke arah yang mereka prediksi. Ini adalah bias psikologis bernama mean reversion bias, yaitu kecenderungan untuk percaya bahwa harga akan kembali ke nilai rata-rata. Sayangnya, pasar tidak bekerja seperti itu.

Market bisa:

  • trending kuat tanpa retracement besar,

  • bergerak panjang satu arah karena faktor fundamental,

  • mengalami percepatan volatilitas yang memperbesar kerugian.

Ketika trader terlalu yakin bahwa harga akan berbalik, mereka merasa “aman” menambah posisi. Padahal, yang terjadi justru kebalikan: risiko semakin membesar tanpa kepastian bahwa pasar akan berbalik arah.


2. Efek Penolakan Terhadap Kerugian (Loss Aversion)

Secara psikologis, manusia lebih takut kehilangan dibanding mendapatkan keuntungan. Dalam konteks trading, hal ini membuat trader sulit menerima kenyataan bahwa analisa mereka salah. Sebagai gantinya, mereka mencoba memperbaiki situasi dengan menambah posisi, berharap kerugiannya mengecil ketika harga berbalik.

Loss aversion membuat trader:

  • menolak menutup posisi rugi,

  • merasa “tidak rela” kehilangan uang,

  • berusaha mengontrol pasar dengan menambah posisi.

Padahal, semakin besar posisi, semakin besar tekanan psikologis dan potensi kehancuran akun.


3. Terjebak Emosi Balas Dendam (Revenge Trading)

Ketika mengalami kerugian, banyak trader merasakan dorongan untuk segera membalas kalahnya. Mereka ingin “ambil kembali” uang yang hilang secepat mungkin. Ini membuat fokus analisa hilang dan digantikan oleh emosi.

Tanda-tanda revenge trading:

  • entry tanpa rencana,

  • menambah posisi tanpa konfirmasi,

  • trading berkali-kali tanpa mempertimbangkan risiko,

  • memaksa pasar memberikan profit.

Menambah posisi saat kalah merupakan bentuk balas dendam yang tidak disadari, di mana trader ingin “mengalahkan” market, padahal market tidak bisa dilawan.


4. Overconfidence dan Terlalu Percaya pada Analisa Sendiri

Ketika trader merasa sangat yakin dengan analisa mereka sendiri, kepercayaan diri itu bisa berubah menjadi overconfidence. Rasa “pasti benar” membuat trader berpikir bahwa penurunan harga hanyalah koreksi kecil.

Overconfidence menyebabkan trader:

  • mengabaikan tanda-tanda market berubah,

  • tetap menambah posisi meski tren jelas berlawanan,

  • meremehkan risiko penurunan lebih lanjut.

Keyakinan berlebihan membuat trader kehilangan objektivitas, dan keputusan tidak lagi berdasarkan data, melainkan ego.


5. Pengaruh Adrenalin dan Sensasi Emosional

Banyak yang tidak sadar bahwa trading memicu pelepasan hormon seperti dopamin dan adrenalin. Saat dalam posisi rugi, tubuh merespons dengan stres dan ketegangan. Anehnya, sebagian trader justru merasa terdorong untuk menambah posisi sebagai respons emosional, bukan logika.

Adrenalin membuat trader:

  • bereaksi cepat tanpa berpikir panjang,

  • mengambil risiko besar untuk “sensasi”,

  • sulit berhenti meski sudah sadar salah.

Secara neurologis, ini mirip dengan perilaku kecanduan, di mana otak terus mencari “reward” meski hasilnya merugikan.


6. Menambah Posisi Memberi Ilusi Kontrol

Saat trader dalam keadaan rugi, menambah posisi membuat mereka merasa “melakukan sesuatu” untuk mengendalikan situasi. Ini adalah ilusi kontrol, padahal yang sebenarnya terjadi adalah trader hanya memperbesar risiko.

Ilusi kontrol membuat trader percaya bahwa:

  • dengan menambah lot, mereka bisa mengatur hasil,

  • mereka bisa “menyelamatkan” posisi yang salah,

  • keputusan mereka dapat memaksa market berubah.

Padahal, satu-satunya hal yang bisa dikendalikan trader hanyalah risiko, bukan arah pasar.


7. Kurangnya Perencanaan dan Money Management

Trader yang menambah posisi saat kalah biasanya tidak memiliki:

  • batasan risiko yang jelas,

  • rencana entry dan exit yang terukur,

  • stop loss yang konsisten,

  • tabel money management yang disiplin.

Tanpa perencanaan yang matang, keputusan trading berubah menjadi impulsif dan emosional.

Banyak trader bahkan tidak mengetahui batas maksimal kerugian yang bisa diterima dalam satu hari atau minggu, sehingga mereka terus menambah posisi hingga akhirnya margin call.


8. Pengaruh Sosial Media dan Contoh yang Salah

Di media sosial banyak konten trading yang menunjukkan hasil besar dari teknik martingale atau averaging. Hal ini menciptakan persepsi bahwa strategi tersebut aman dan bisa menghasilkan profit besar.

Padahal kenyataannya:

  • konten tersebut tidak menunjukkan kerugian di belakang layar,

  • teknik tersebut hanya terlihat bagus saat market sedang sideway,

  • sekali salah arah, akun bisa habis dalam hitungan jam.

Trader yang terpengaruh oleh “edukasi instan” cenderung meniru pola berbahaya tersebut tanpa memahami risikonya.


9. Ketidakmampuan Mengakui Kesalahan

Trading bukan hanya soal analisa, tetapi juga mentalitas. Banyak trader merasa bahwa mengakui kerugian berarti mengakui kelemahan. Ego yang kuat membuat mereka tidak mau menerima sinyal bahwa market sedang tidak sesuai prediksi.

Ego membuat trader:

  • mempertahankan posisi meski sinyal memburuk,

  • menambah lot untuk membuktikan diri,

  • menghindari stop loss karena takut dianggap "salah".

Padahal dalam trading, mengakui kesalahan adalah bagian penting dari manajemen risiko.


10. Lingkaran Setan dari Kebiasaan Averaging Down

Menambah posisi saat kalah bisa menciptakan lingkaran berbahaya:

  1. Entry pertama salah

  2. Tambah posisi untuk mengecilkan kerugian

  3. Market makin berlawanan

  4. Tambah posisi lagi

  5. Margin semakin kecil

  6. Panik dan stres meningkat

  7. Tambah posisi lagi karena putus asa

  8. Akhirnya margin call

Pola ini seperti bom waktu yang menunggu saat meledak. Banyak trader yang baru berhenti ketika sudah terlambat dan akun mereka habis.


Cara Mengatasi Kebiasaan Menambah Posisi Saat Kalah

Untuk menghentikan kebiasaan ini, trader harus memperbaiki mindset, disiplin, dan strategi. Berikut langkah-langkah pentingnya:

1. Gunakan Stop Loss Tanpa Digeser

Stop loss adalah penyelamat akun. Disiplin menjalankan SL akan memotong kerugian kecil agar tidak menjadi besar.

2. Buat Batas Maksimal Kerugian Harian

Tentukan limit: misalnya 2%–3% per hari. Jika sudah tercapai, berhenti trading. Ini melatih kontrol emosi.

3. Batasi Jumlah Posisi Terbuka

Selalu batasi maksimal 1–2 posisi. Hindari membuka banyak posisi hanya untuk mengejar kerugian.

4. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Trading bukan tentang seberapa sering entry, tapi seberapa berkualitas keputusan setiap entry.

5. Jurnal Trading untuk Evaluasi

Catat alasan entry, hasilnya, dan emosinya. Hal ini membantu mengidentifikasi kebiasaan buruk.

6. Latihan Mindfulness dan Pengendalian Emosi

Belajar menenangkan pikiran sebelum membuat keputusan trading.


Penutup

Menambah posisi saat kalah adalah masalah yang sangat umum terjadi dalam trading. Penyebabnya bukan hanya teknikal atau strategi, tetapi lebih pada psikologi, bias, dan emosi manusia. Dengan memahami mekanismenya, trader dapat lebih waspada terhadap jebakan mental yang memicu keputusan berbahaya ini.

Trader yang sukses bukanlah yang selalu benar, tetapi yang mampu mengelola kesalahan dengan bijak dan disiplin. Menjaga risiko tetap kecil dan terukur jauh lebih penting daripada berusaha memperbaiki posisi yang salah.


Di dunia trading, edukasi dan pembinaan sangat penting untuk membantu trader mengelola emosi, mengembangkan mental yang kuat, dan membangun strategi yang disiplin. Jika Anda ingin meningkatkan kemampuan trading secara menyeluruh—baik dari sisi teknikal, money management, maupun psikologi—Anda bisa bergabung dalam program edukasi trading bersama Didimax. Anda akan mendapatkan panduan langsung dari mentor profesional, latihan intensif, dan pendampingan yang membantu Anda memahami market dengan lebih jernih dan terarah.

Program edukasi Didimax juga menyediakan kelas offline maupun online, analisa harian, live trading session, hingga bimbingan personal untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang sering merusak akun. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk belajar trading secara serius, terstruktur, dan berkelanjutan. Kunjungi https://didimax.co.id/ untuk informasi lengkap dan mulai perjalanan trading yang lebih konsisten serta lebih terarah.