Kesalahan Umum Trader Saat Bank Holiday dan Cara Menghindarinya
Bagi sebagian trader, bank holiday sering dianggap sebagai “hari biasa” di pasar keuangan. Faktanya, momen ini justru bisa sangat berisiko. Likuiditas berkurang, volatilitas tidak menentu, eksekusi order bisa melambat, dan pergerakan harga sering kali tidak mengikuti pola biasanya. Trader yang tidak memahami kondisi ini kerap mengalami kerugian hanya karena memaksakan posisi.
Bank holiday biasanya terjadi saat bank besar di negara-negara utama — seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau kawasan Eropa — tutup. Meski market forex secara teknis tetap buka 24 jam, tidak adanya aktivitas perbankan besar membuat aliran dana berkurang secara signifikan. Akibatnya, spread melebar, volume transaksi menurun, dan harga bisa bergerak seolah “acak”.
Di sinilah kesalahan sering terjadi. Banyak trader tetap masuk pasar dengan strategi yang sama seperti hari normal — tanpa penyesuaian. Berikut adalah kesalahan umum yang sering dilakukan trader saat bank holiday, beserta cara menghindarinya.
1. Memaksakan Trading Saat Pasar Sepi
Kesalahan paling umum adalah tetap trading hanya karena merasa “harus” trading setiap hari. Padahal, saat bank holiday, peluang berkualitas umumnya lebih sedikit.
Banyak trader pemula takut kehilangan kesempatan (FOMO). Mereka berpikir:
“Kalau tidak entry, nanti ketinggalan profit.”
Sayangnya, justru di hari-hari seperti ini, market sering “menjebak”. Candle tampak bergerak, tetapi tidak punya kekuatan trend. Entry yang tampak bagus di awal tiba-tiba berbalik arah tanpa alasan jelas.
Cara menghindari:
-
Terima bahwa tidak trading juga bagian dari trading plan.
-
Fokus evaluasi jurnal trading, backtest, atau belajar materi baru.
-
Hanya entry jika setup benar-benar jelas — bukan karena bosan.
Trader profesional paham, menunggu momen terbaik lebih menguntungkan daripada memaksakan diri.
2. Mengabaikan Likuiditas dan Spread
Saat bank besar tutup, likuiditas menurun. Broker biasanya merespon dengan melebarkan spread.
Jika biasanya EURUSD punya spread 1–2 pips, saat bank holiday bisa menjadi 5–10 pips bahkan lebih. Tanpa disadari, trader membayar biaya tambahan besar, sehingga target kecil menjadi tidak realistis.
Lebih parah lagi, stop loss bisa tersentuh hanya karena pelebaran spread, bukan karena harga benar-benar bergerak melawan.
Cara menghindari:
-
Cek spread sebelum entry.
-
Hindari scalping saat bank holiday.
-
Gunakan target dan stop loss yang lebih realistis.
-
Pilih pasangan mata uang dengan likuiditas lebih stabil (misalnya, major pair).
Jika spread melebar tidak wajar, lebih baik menunggu.
3. Over-Leverage Karena Merasa Pasar “Tenang”
Banyak trader salah paham:
“Pasar sepi berarti risiko kecil.”
Faktanya sebaliknya.
Pasar sepi justru lebih rawan lonjakan tiba-tiba. Dengan leverage besar, sedikit lonjakan saja bisa menghabiskan akun.
Contoh: Trader membuka posisi terlalu besar karena merasa aman. Tiba-tiba muncul berita kecil — harga loncat (spike), margin call pun terjadi.
Cara menghindarinya:
-
Gunakan leverage kecil saat bank holiday.
-
Batasi risiko maksimal 1–2% per posisi.
-
Jangan menambah lot hanya karena market terlihat “diam”.
Leverage tinggi memang menggoda, tetapi disiplin pada manajemen risiko selalu menang dalam jangka panjang.
4. Mengandalkan Sinyal Otomatis Tanpa Validasi
Banyak trader bergantung pada robot trading, indikator, atau sinyal pihak ketiga. Masalahnya, sebagian besar algoritma dibuat untuk kondisi pasar normal — bukan likuiditas rendah.
EA atau sinyal yang biasanya akurat bisa gagal membaca anomali harga saat bank holiday.
Cara menghindari:
-
Jangan 100% bergantung pada sistem otomatis.
-
Selalu cek kondisi market secara manual sebelum mengikuti sinyal.
-
Uji robot di akun demo saat bank holiday untuk melihat performanya.
Ingat: alat hanyalah alat. Keputusan tetap harus ada di tangan trader.
5. Tidak Mengikuti Kalender Ekonomi
Banyak kerugian sebenarnya bisa dihindari hanya dengan melakukan satu hal sederhana:
✔ membuka kalender ekonomi.
Trader yang malas mengecek kalender sering terkejut melihat pasar bergerak tidak jelas — padahal penyebabnya hanya karena libur nasional di negara tertentu.
Cara menghindari:
-
Jadikan kebiasaan mengecek kalender sebelum trading.
-
Tandai tanggal-tanggal penting bank holiday besar (US, UK, EU, JP).
-
Rencanakan trading lebih awal.
Dengan perencanaan, Anda tidak akan “kaget” oleh kondisi pasar.
6. Membiarkan Posisi Menginap Tanpa Alasan Jelas
Banyak trader membiarkan posisi terbuka saat bank holiday, berharap harga bergerak sesuai prediksi.
Masalahnya:
-
volatilitas bisa melonjak tiba-tiba,
-
gap bisa muncul saat market kembali normal,
-
swap/biaya inap ikut bertambah.
Semua itu bisa menggerus akun, bahkan ketika analisa sebenarnya benar.
Cara menghindari:
-
Tutup posisi jika tidak ada alasan kuat untuk menahan.
-
Gunakan stop loss yang logis, bukan sekadar berharap.
-
Jika ingin swing, rencanakan dari awal — bukan mendadak.
Trading tanpa rencana ibarat berlayar tanpa kompas.
7. Tidak Mengevaluasi Diri dan Hanya Mengejar Profit
Banyak trader melihat bank holiday hanya dari sisi “apakah ada peluang?”. Padahal ini waktu yang sangat ideal untuk:
Trader yang matang tahu bahwa proses belajar saat pasar sepi jauh lebih berharga daripada memaksa entry.
Gunakan waktu ini untuk memperkuat dasar — bukan menambah kerugian.
Strategi Bijak Menghadapi Bank Holiday
Untuk merangkum, berikut langkah praktis yang bisa diterapkan:
-
Kurangi frekuensi trading.
-
Perkecil lot dan risiko.
-
Cek spread sebelum entry.
-
Prioritaskan analisa daripada eksekusi.
-
Gunakan jurnal trading.
-
Fokus belajar, bukan mengejar profit.
Dengan pendekatan ini, Anda bukan hanya terhindar dari kesalahan — tetapi juga lebih siap ketika pasar kembali normal.
Banyak trader gagal bukan karena strategi buruk, tetapi karena tidak memahami konteks pasar. Bank holiday bukan musuh — ia hanya kondisi berbeda yang membutuhkan penyesuaian.
Trader yang sabar, disiplin, dan mau belajar akan selalu lebih unggul.
Di momen seperti ini, belajar dari mentor dan komunitas yang tepat jauh lebih efektif dibanding berjalan sendiri. Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana mengelola risiko, membaca kondisi pasar, serta menyusun trading plan yang matang, Anda bisa mengikuti program edukasi trading yang disediakan oleh Didimax. Materinya terstruktur, mudah dipahami, dan didampingi oleh mentor berpengalaman.
Kunjungi situs resminya di [www.didimax.co.id] untuk mengetahui jadwal, kelas, dan fasilitas pembelajarannya. Dengan edukasi yang tepat, Anda bisa mengurangi kesalahan saat bank holiday — dan membangun fondasi trading yang lebih aman dan konsisten.