Mengapa Data Unemployment Rate Sering Memicu Lonjakan Spread di Pasar Forex
Dalam dunia forex, spread adalah salah satu elemen yang sering jadi perhatian trader—apalagi trader scalping atau day trading yang sangat sensitif terhadap perubahan biaya transaksi. Salah satu momen yang paling sering memicu lonjakan spread adalah saat rilis data ekonomi besar, dan salah satu data yang paling berpengaruh adalah Unemployment Rate atau tingkat pengangguran. Banyak trader pemula bertanya-tanya, “Kenapa sih setiap rilis unemployment rate, spread tiba-tiba melebar gila-gilaan?” Jawabannya tidak sesederhana “karena datanya penting,” tetapi melibatkan kombinasi faktor fundamental, likuiditas, sentimen pasar, dan mekanisme kerja broker maupun liquidity provider.
Artikel ini akan membedah tuntas alasan-alasan di balik lonjakan spread saat rilis data unemployment rate agar trader, terutama yang bergerak di sesi news, bisa memahami risiko dan mengambil keputusan dengan lebih cerdas.
1. Unemployment Rate adalah Data yang Sangat Sensitif Terhadap Kebijakan Moneter
Data tingkat pengangguran merupakan salah satu indikator utama yang dipantau oleh bank sentral seperti Federal Reserve. Tingkat pengangguran yang tinggi biasanya mencerminkan pelemahan ekonomi, dan bisa mendorong bank sentral melakukan kebijakan pelonggaran seperti menurunkan suku bunga atau meningkatkan stimulus.
Sebaliknya, tingkat pengangguran rendah menunjukkan ekonomi kuat dan mencerminkan peluang kenaikan suku bunga.
Karena kebijakan moneter sangat erat kaitannya dengan nilai mata uang, setiap rilis angka pengangguran dapat menjadi pemicu volatilitas ekstrem. Broker dan liquidity provider sadar bahwa volatilitas tinggi menciptakan risiko besar dalam proses eksekusi harga, sehingga mereka melebarkan spread untuk melindungi diri dari potensi kerugian.
2. Likuiditas Menyusut Tajam Menjelang dan Sesaat Setelah Rilis Data
Salah satu alasan paling kuat mengapa spread melebar adalah menyusutnya likuiditas. Menjelang rilis data ekonomi besar seperti unemployment rate, banyak pelaku pasar—baik bank besar, institusi, maupun market maker—menarik order mereka untuk mengurangi risiko.
Bayangkan pasar seperti jalan tol. Biasanya ramai dan lancar. Tapi menjelang rilis data penting, jalan tol itu tiba-tiba kosong karena semua mobil minggir. Nah, saat tidak banyak “mobil” atau order di order book, harga jadi lebih mudah melompat ke level tertentu tanpa ada penahan. Inilah yang menyebabkan broker melebaran spread untuk menjaga kestabilan harga yang mereka tawarkan ke trader.
Setelah data dirilis, volatilitas tinggi dan order book masih tipis, sehingga spread bisa tetap melebar selama beberapa detik hingga menit.
3. Ketidakpastian Tinggi Membuat Market Maker Mengurangi Risiko
Market maker dan liquidity provider adalah penjaga stabilitas likuiditas di pasar. Namun, ketika rilis data high-impact terjadi, mereka menghadapi risiko besar: harga bisa melompat dalam hitungan millisecond dan mereka bisa menanggung kerugian jika memberikan harga yang salah.
Untuk mengatasi risiko tersebut, mereka tidak menutup jasa sama sekali—tetapi melakukan yang paling aman: menaikkan spread.
Dengan spread lebih besar, LP masih bisa mengalirkan likuiditas sambil tetap menjaga margin risiko mereka. Ini adalah mekanisme proteksi yang normal, tetapi sangat terasa oleh trader retail yang mendadak melihat spread melebar beberapa kali lipat.
4. Volatilitas Ekstrem Memicu Slippage dan Spread Melebar Secara Alami
Rilis data unemployment rate bisa menyebabkan volatilitas meningkat drastis. Pergerakan harga yang cepat sering mengakibatkan:
Saat volatilitas ekstrem, gap antara bid dan ask memang cenderung melebar secara alami. Kombinasi dari order tipis dan kecepatan pergerakan harga membuat spread menjadi tidak stabil, bahkan tanpa intervensi broker.
5. Reaksi Pasar yang Terpecah Memperburuk Lonjakan Spread
Data pengangguran juga unik karena interpretasinya bisa sangat variatif. Misalnya:
-
Angka lebih buruk dari perkiraan → biasanya USD melemah.
-
Angka lebih baik dari perkiraan → USD menguat.
-
Tapi jika angka lebih baik namun inflasi sedang tinggi → pasar bisa bingung.
Saat reaksi pasar tidak konsisten, order bisa datang dari dua arah dalam jumlah besar secara bersamaan. Ketidakseimbangan ini membuat harga bolak-balik liar, dan spread otomatis melebar untuk mengikuti dinamika tersebut.
6. Banyak Trader Eksekusi Order Secara Agresif (Panic dan Greed Effect)
News trading, terutama saat unemployment rate, menarik banyak trader untuk masuk karena berharap profit besar dalam waktu singkat. Masalahnya, banyak trader mengeksekusi order secara bersamaan dengan:
-
Market order
-
Buy stop dan sell stop
-
Pending order breakout
-
Hedging agresif
Lonjakan order besar dalam satu waktu memberikan tekanan tambahan pada likuiditas, sehingga spread semakin melebar.
7. Broker Memberikan Proteksi dari Lonjakan Harga Tidak Normal
Broker, terutama yang berbasis STP/ECN, sangat bergantung pada harga dari liquidity provider. Namun broker harus tetap menjaga stabilitas sistem dan melindungi trader dari eksekusi harga yang “tidak wajar”.
Untuk mengurangi risiko dispute, requote, dan manipulasi harga, broker sering:
-
menaikkan spread sementara,
-
menahan eksekusi di level tertentu,
-
mengizinkan slippage yang lebih besar.
Ini semua dilakukan untuk menjaga ekosistem tetap sehat, meskipun dampaknya dirasakan langsung oleh trader.
8. Unemployment Rate Punya Efek Domino Terhadap Data Fundamental Lain
Data pengangguran sering menjadi acuan terhadap:
Karena efek domino tersebut, pasar tidak hanya merespons angka unemployment, tetapi juga spekulasi terhadap data-data lain yang berpotensi ikut berubah. Reaksi berantai inilah yang membuat spread bertahan lebar lebih lama daripada rilis data fundamental lainnya.
9. Perbedaan Data Aktual vs. Forecast Menjadi Pemicu Utama Lonjakan Spread
Semakin besar selisih antara angka aktual dengan angka prediksi analis, semakin besar pula volatilitas dan pelebaran spread yang terjadi. Misalnya:
-
Forecast: 3.9%
-
Actual: 4.5%
Lonjakan selisih semacam ini bisa membuat harga bergerak puluhan hingga ratusan pip hanya dalam hitungan detik. Spread pun bisa melebar sangat jauh untuk mengimbangi perubahan yang terjadi secara instan.
10. Peran AI Trading, Algoritmic Trading, dan Bot dalam Memicu Spread Melebar
Dalam hitungan milidetik setelah data rilis, sistem algoritma trading global akan bereaksi berdasarkan data yang muncul. Jumlah order dari sistem otomatis ini bisa sangat besar dan memicu volatilitas ekstrem.
Ketika bot-bot besar masuk ke pasar:
-
order book menjadi sangat dinamis,
-
likuiditas “menghilang dan muncul” secara cepat,
-
spread bergerak liar mengikuti perubahan order.
Fenomena ini terjadi hampir setiap rilis unemployment rate.
Penutup
Lonjakan spread saat rilis data unemployment rate adalah fenomena yang normal dan merupakan bagian dari dinamika pasar forex modern. Hal ini dipicu oleh kombinasi antara likuiditas tipis, risiko tinggi, aksi pelaku pasar besar, serta interpretasi data yang kompleks terhadap kebijakan moneter. Namun dengan memahami mekanisme ini, trader bisa lebih siap mengelola risiko, mengatur strategi entry, dan menghindari kerugian akibat spread melebar secara tiba-tiba.