Saat Bitcoin Bergejolak, Apakah Emas Jadi Pelarian Favorit Trader?

Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin kerap menjadi pusat perhatian pasar keuangan global. Volatilitasnya yang ekstrem menghadirkan peluang besar sekaligus risiko yang tidak kecil. Harga bisa melonjak ribuan dolar dalam hitungan jam, lalu anjlok tajam tanpa peringatan. Kondisi ini membuat Bitcoin sering disebut sebagai instrumen high risk–high return yang sangat menggoda trader agresif, tetapi juga menakutkan bagi mereka yang lebih konservatif.
Di sisi lain, emas tetap bertahan sebagai aset klasik yang sudah ratusan tahun dipercaya sebagai penyimpan nilai. Ketika pasar global dilanda ketidakpastian—mulai dari krisis geopolitik, inflasi tinggi, hingga kebijakan bank sentral yang berubah-ubah—emas hampir selalu kembali dilirik. Pertanyaannya, saat Bitcoin sedang bergejolak hebat, apakah emas benar-benar menjadi pelarian favorit trader? Atau justru keduanya memiliki peran yang berbeda dalam strategi trading modern?
Artikel ini akan membahas hubungan antara Bitcoin dan emas dari sudut pandang trader, mulai dari karakteristik volatilitas, perilaku pasar saat krisis, hingga bagaimana trader memanfaatkan keduanya secara strategis.
Karakter Bitcoin: Volatilitas Tinggi dan Psikologi Pasar
Bitcoin dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Pergerakan harga yang agresif sering kali dipicu oleh sentimen pasar, berita regulasi, pernyataan tokoh berpengaruh, hingga aksi spekulasi besar-besaran. Dalam satu hari, Bitcoin bisa bergerak puluhan persen, sesuatu yang jarang terjadi pada instrumen konvensional seperti emas atau forex mayor.
Bagi trader jangka pendek, volatilitas ini adalah “ladang emas”. Breakout cepat, momentum tajam, dan pergerakan impulsif membuka peluang profit besar dalam waktu singkat. Namun, di balik peluang tersebut tersimpan risiko yang tidak kalah besar. Banyak trader terjebak euforia, overtrading, atau bahkan panic selling saat harga berbalik arah secara tiba-tiba.
Ketika volatilitas Bitcoin meningkat secara ekstrem—misalnya akibat isu pelarangan, kebangkrutan exchange, atau sentimen makro negatif—psikologi pasar cenderung berubah drastis. Rasa takut (fear) mulai mengalahkan keserakahan (greed). Pada fase inilah banyak trader mulai mencari aset yang dianggap lebih “aman”.
Emas sebagai Safe Haven Klasik
Emas memiliki reputasi panjang sebagai safe haven. Dalam teori keuangan, safe haven adalah aset yang cenderung mempertahankan nilai atau bahkan menguat ketika pasar berisiko mengalami tekanan. Sejarah menunjukkan bahwa emas sering menguat saat terjadi krisis ekonomi, inflasi tinggi, atau ketidakpastian geopolitik.
Berbeda dengan Bitcoin yang masih relatif muda, emas telah melewati berbagai siklus krisis global, mulai dari perang dunia, krisis finansial 2008, hingga pandemi. Karakteristik inilah yang membuat banyak investor institusi dan trader konservatif menempatkan emas sebagai aset lindung nilai (hedging).
Ketika Bitcoin mengalami koreksi tajam dan sentimen pasar kripto memburuk, arus dana sering kali berpindah ke aset yang dianggap lebih stabil, salah satunya emas. Fenomena ini bukan berarti emas selalu naik saat Bitcoin turun, tetapi korelasi negatif atau rendah di antara keduanya sering dimanfaatkan trader untuk diversifikasi.
Apakah Trader Selalu Berpindah dari Bitcoin ke Emas?
Menariknya, tidak semua trader otomatis “lari” ke emas ketika Bitcoin bergejolak. Hal ini sangat bergantung pada gaya trading, time frame, dan tujuan masing-masing trader.
Trader jangka pendek atau day trader kripto justru sering menunggu volatilitas tinggi. Bagi mereka, gejolak adalah peluang. Selama ada likuiditas dan pergerakan harga yang jelas, Bitcoin tetap menjadi instrumen favorit. Namun, trader yang memiliki pendekatan swing trading atau position trading cenderung lebih berhati-hati. Ketika volatilitas dianggap tidak sehat atau terlalu sulit diprediksi, mereka mulai mengurangi eksposur di kripto.
Pada kondisi seperti inilah emas sering masuk ke radar. Emas dianggap lebih “tenang”, memiliki struktur teknikal yang relatif lebih rapi, dan dipengaruhi oleh faktor fundamental yang lebih jelas seperti suku bunga, inflasi, dan nilai dolar AS. Bagi trader yang mengutamakan stabilitas dan konsistensi, emas bisa menjadi alternatif menarik.
Perbedaan Pola Pergerakan Bitcoin dan Emas
Dari sisi teknikal, Bitcoin dan emas memiliki karakter pergerakan yang cukup berbeda. Bitcoin sering membentuk spike tajam, false breakout, dan pergerakan ekstrem dalam waktu singkat. Pola teknikalnya sering kali dipengaruhi oleh volume besar dari pemain institusi maupun whale.
Emas, meskipun bisa volatil pada momen tertentu (misalnya saat rilis data ekonomi penting), cenderung bergerak lebih terstruktur. Support dan resistance pada emas sering dihormati dengan lebih baik. Hal ini membuat emas relatif lebih “ramah” bagi trader yang mengandalkan analisis teknikal klasik seperti trendline, moving average, dan price action.
Bagi trader yang sudah lelah menghadapi pergerakan liar Bitcoin, emas sering terasa lebih logis dan terukur. Namun, bagi trader yang sudah terbiasa dengan ritme cepat kripto, emas terkadang dianggap terlalu lambat dan kurang menantang.
Faktor Makro yang Mempengaruhi Pilihan Trader
Pilihan antara Bitcoin dan emas juga sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global. Ketika inflasi meningkat dan kepercayaan terhadap mata uang fiat menurun, baik Bitcoin maupun emas sama-sama diuntungkan sebagai alternatif penyimpan nilai.
Namun, saat bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif, emas sering kali mendapat tekanan karena tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, Bitcoin juga bisa tertekan karena aset berisiko cenderung ditinggalkan. Pada fase ini, trader harus lebih selektif dan tidak hanya mengandalkan satu narasi.
Ketika ketidakpastian global meningkat—misalnya konflik geopolitik atau krisis sistem keuangan—emas biasanya lebih cepat mendapatkan kepercayaan pasar. Bitcoin, meskipun sering disebut “emas digital”, masih dipandang sebagai aset spekulatif oleh banyak pelaku pasar besar.
Strategi Trader: Memilih atau Mengombinasikan?
Trader berpengalaman jarang berpikir secara hitam-putih. Mereka tidak sekadar memilih antara Bitcoin atau emas, tetapi memahami peran masing-masing instrumen dalam portofolio trading.
Bitcoin sering digunakan untuk mengejar pertumbuhan agresif, memanfaatkan momentum, dan volatilitas tinggi. Emas, di sisi lain, digunakan untuk menjaga keseimbangan, mengurangi risiko, dan menghadapi fase pasar yang penuh ketidakpastian.
Beberapa trader bahkan memanfaatkan korelasi rendah antara Bitcoin dan emas untuk melakukan diversifikasi. Ketika satu instrumen mengalami tekanan, instrumen lain bisa menjadi penyeimbang. Pendekatan ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang market, manajemen risiko, dan disiplin eksekusi.
Kesalahan Umum Trader Saat Beralih dari Bitcoin ke Emas
Salah satu kesalahan umum trader adalah berpindah instrumen secara emosional. Saat mengalami kerugian di Bitcoin, mereka buru-buru masuk ke emas dengan harapan “balas dendam”. Tanpa analisis yang matang, strategi seperti ini justru sering berujung pada kerugian lanjutan.
Baik Bitcoin maupun emas tetap membutuhkan pendekatan yang sama: analisis yang jelas, manajemen risiko ketat, dan mindset disiplin. Menganggap emas selalu aman tanpa risiko adalah kesalahan besar. Emas tetap bisa bergerak melawan posisi trader jika analisis dan timing tidak tepat.
Jadi, Apakah Emas Pelarian Favorit Trader?
Jawabannya: tergantung. Saat Bitcoin bergejolak hebat dan sentimen pasar kripto memburuk, emas memang sering menjadi alternatif yang menarik bagi banyak trader, terutama mereka yang mengutamakan stabilitas. Namun, emas bukan “pelarian otomatis” bagi semua trader.
Trader yang memahami karakter masing-masing instrumen akan lebih fleksibel dalam mengambil keputusan. Mereka tidak terjebak fanatisme pada satu aset, tetapi fokus pada probabilitas, peluang, dan manajemen risiko. Dalam dunia trading, adaptasi adalah kunci bertahan jangka panjang.
Pada akhirnya, baik Bitcoin maupun emas hanyalah alat. Yang menentukan hasil trading bukan instrumennya, melainkan kemampuan trader membaca market, mengelola risiko, dan mengendalikan emosi.
Jika kamu ingin memahami cara membaca arah market dengan lebih objektif, tidak emosional, dan bisa diterapkan di berbagai instrumen seperti emas, forex, maupun indeks, mengikuti program edukasi trading yang terstruktur adalah langkah bijak. Melalui pembelajaran yang tepat, kamu bisa memahami karakter market secara menyeluruh dan tidak mudah terombang-ambing oleh gejolak harga.
Didimax menyediakan program edukasi trading yang dirancang untuk membantu trader membangun mindset disiplin, memahami analisa teknikal dan fundamental, serta menerapkan manajemen risiko secara konsisten. Dengan bimbingan mentor berpengalaman dan materi yang aplikatif, kamu bisa meningkatkan kualitas keputusan trading dan melangkah lebih percaya diri di tengah dinamika market. Kunjungi www.didimax.co.id dan mulai perjalanan tradingmu dengan fondasi yang lebih kuat.