Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Scalping vs Swing Trading di Akhir Tahun 2025

Scalping vs Swing Trading di Akhir Tahun 2025

by Muhammad

Scalping vs Swing Trading di Akhir Tahun 2025

Di penghujung tahun 2025, pasar keuangan kembali menghadirkan dinamika menarik. Pergerakan harga yang semakin cepat, perubahan kebijakan ekonomi global, hingga reaksi investor yang kadang emosional, membuat trader harus benar-benar bijak memilih strategi. Dua gaya trading yang paling sering dibandingkan — dan kerap menjadi perdebatan — adalah scalping dan swing trading.

Keduanya sama-sama bertujuan menghasilkan profit, tetapi memiliki cara kerja, kebutuhan waktu, psikologi, dan risiko yang berbeda. Di akhir tahun seperti sekarang, ketika volatilitas meningkat dan likuiditas kadang tidak stabil karena libur panjang, memahami perbedaan ini menjadi sangat penting.

Artikel ini akan membahas secara mendalam: apa itu scalping, apa itu swing trading, kelebihan dan kekurangannya, serta strategi memilih mana yang paling cocok untuk kondisi akhir tahun 2025 — dan tentu saja, cocok dengan karakter Anda sendiri sebagai trader.


Apa Itu Scalping?

Scalping adalah strategi trading jangka sangat pendek. Trader membuka dan menutup posisi dalam hitungan menit bahkan detik. Target profit biasanya kecil — misalnya 5–20 pips — namun dilakukan berkali-kali dalam sehari.

Scalper tidak menunggu tren besar. Mereka memanfaatkan:

  • fluktuasi kecil harga,

  • reaksi pasar terhadap berita,

  • breakout singkat,

  • atau pergerakan harga di sesi tertentu.

Karena waktunya singkat, scalper biasanya banyak bergantung pada:

  • timeframe M1, M5, M15,

  • indikator cepat seperti Moving Average, Bollinger Bands, dan RSI,

  • eksekusi yang cepat dan spread rendah.

Di akhir tahun, scalping bisa terlihat menarik karena volatilitas sering meningkat. Namun volatilitas yang tinggi berarti harga bisa bergerak cepat ke arah yang tidak terduga — profit bisa besar, tapi kerugian juga bisa menghantam dalam waktu sangat singkat.


Kelebihan Scalping

  1. Perputaran profit cepat
    Tidak perlu menunggu berhari-hari. Dalam waktu singkat, hasil sudah terlihat.

  2. Tidak terlalu bergantung pada tren besar
    Bahkan pasar sideways pun bisa dimanfaatkan.

  3. Banyak peluang dalam sehari
    Hampir setiap sesi trading memberi peluang scalping.


Kekurangan Scalping

  1. Stress tinggi
    Membutuhkan fokus penuh, reaksi cepat, dan mental kuat.

  2. Butuh disiplin ketat pada money management
    Kesalahan kecil bisa membesar karena entry terlalu sering.

  3. Bergantung pada broker dan kondisi market
    Spread melebar di akhir tahun, server lambat, atau slippage dapat merusak strategi.

Scalping bukan sekadar “masuk cepat – keluar cepat”. Tanpa pengalaman, bisa berakhir sebagai aktivitas spekulatif yang melelahkan.


Apa Itu Swing Trading?

Berbeda dengan scalping, swing trading berfokus pada pergerakan harga jangka menengah. Trader menahan posisi selama:

  • beberapa hari,

  • hingga beberapa minggu.

Swing trader mengejar gelombang harga — naik dan turunnya pasar dalam struktur tren yang lebih besar. Mereka mengamati:

  • support dan resistance,

  • tren jangka menengah,

  • pola candlestick,

  • indikator seperti MACD, RSI, atau Fibonacci.

Di akhir tahun, swing trading sering dianggap lebih stabil karena tidak terlalu terpengaruh noise kecil. Namun, tetap ada risiko: berita besar akhir tahun atau perubahan sentimen mendadak bisa mengganggu posisi yang sedang terbuka.


Kelebihan Swing Trading

  1. Tidak perlu memantau chart terus-menerus
    Cocok untuk trader yang punya aktivitas lain.

  2. Target profit lebih besar
    Mengikuti tren memberi peluang profit lebih “bersih”.

  3. Lebih tenang secara psikologis
    Tidak terjebak dalam keputusan impulsif tiap menit.


Kekurangan Swing Trading

  1. Butuh kesabaran tinggi
    Menunggu setup valid kadang memakan waktu.

  2. Butuh analisis mendalam
    Trader harus memahami tren, fundamental, dan sentimen.

  3. Menahan floating
    Market sering retest sebelum melanjutkan tren — mental harus kuat.

Swing trading membangun mindset investor yang lebih sabar. Namun tanpa rencana jelas, justru bisa menimbulkan keraguan dan panik saat harga bergerak berlawanan.


Mana yang Lebih Cocok di Akhir Tahun 2025?

Jawabannya tidak satu. Semuanya kembali pada:

  • kondisi market,

  • strategi,

  • kepribadian,

  • dan pengalaman.

Namun mari kita lihat beberapa hal penting.

1. Volatilitas Tinggi = Risiko Tinggi

Akhir tahun identik dengan:

  • perubahan likuiditas,

  • bank holiday,

  • tutup buku institusi besar,

  • potensi news mendadak.

Bagi scalper, ini bisa berarti:

peluang besar, sekaligus jebakan besar.

Sementara swing trader mungkin lebih aman jika menunggu konfirmasi kuat sebelum entry.

2. Spread Melebar

Broker sering memperlebar spread saat market sepi atau terlalu volatile.

Bagi scalper:

  • spread besar = target kecil jadi tidak realistis.

Bagi swing trader:

  • spread masih bisa ditoleransi karena target lebih panjang.

3. Psikologi Akhir Tahun

Banyak trader:

  • ingin mengejar profit penutup tahun,

  • ingin “balas dendam” dari kerugian,

  • atau trading hanya karena takut ketinggalan momentum.

Dalam kondisi seperti ini, strategi yang terlalu agresif (tanpa pengalaman) sangat berbahaya.


Cara Menentukan Pilihan: Scalping atau Swing?

Gunakan pertanyaan sederhana ini:

✔ Apakah Anda sabar?

Jika tidak sabar, Anda cenderung cocok scalping — tapi hanya jika disiplin tinggi.

✔ Apakah Anda punya banyak waktu di depan chart?

Jika tidak, swing trading lebih realistis.

✔ Apakah Anda nyaman menahan floating?

Jika tidak nyaman, scalping mungkin terasa lebih aman — meski risikonya tetap ada.

✔ Seberapa paham Anda dengan analisis?

Swing trading membutuhkan analisis lebih luas.

Idealnya, banyak trader berpengalaman akhirnya menggabungkan keduanya:

  • swing sebagai core strategy,

  • scalping sebagai tambahan — bukan utama.


Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi

  1. Memilih strategi hanya karena ikut-ikutan

  2. Tidak punya rencana exit yang jelas

  3. Overtrade saat market tidak mendukung

  4. Tidak menghitung risiko

  5. Mengubah strategi di tengah jalan karena emosi

Tanpa mindset yang benar, strategi terbaik pun menjadi berbahaya.


Di penghujung tahun 2025 ini, momentum pasar memang menggoda. Namun trading bukan soal cepat kaya, melainkan soal membangun kebiasaan yang disiplin, aman, dan konsisten.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam bagaimana menyusun strategi scalping atau swing trading yang benar — lengkap dengan praktik, simulasi, hingga pendampingan — Anda tidak harus belajar sendirian. Didimax menyediakan program edukasi trading yang dirancang untuk membantu trader dari berbagai level memahami market dengan cara yang sistematis dan realistis. Melalui materi, bimbingan, dan diskusi, Anda bisa belajar bagaimana mengelola risiko, memilih strategi sesuai karakter, serta membaca peluang market dengan lebih percaya diri.

Bergabung dalam program edukasi di [www.didimax.co.id] dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kualitas trading Anda. Alih-alih menebak-nebak dan sering terjebak dalam kesalahan yang sama, Anda bisa belajar langsung dari mentor dan komunitas yang sudah berpengalaman. Di akhir tahun ini, jadikan proses belajar sebagai investasi terbaik — bukan hanya untuk menutup tahun, tetapi juga untuk mempersiapkan perjalanan trading yang lebih matang di tahun-tahun berikutnya.