Pusat Edukasi

Rumah Pusat Edukasi Belajar Forex Pusat Edukasi Gratis Uji apakah emosi mempengaruhi entry di waktu tertentu

Uji apakah emosi mempengaruhi entry di waktu tertentu

by rizki

Uji apakah emosi mempengaruhi entry di waktu tertentu

Dalam dunia trading, banyak trader fokus pada strategi teknikal, indikator, dan sistem entry–exit yang kompleks. Namun, satu faktor yang sering diabaikan padahal sangat menentukan hasil jangka panjang adalah emosi. Emosi tidak hanya memengaruhi keputusan beli atau jual, tetapi juga kapan keputusan itu diambil. Waktu entry sering kali bukan sekadar soal sinyal market, melainkan juga kondisi psikologis trader pada jam tertentu. Oleh karena itu, penting untuk melakukan uji dan observasi secara sadar: apakah emosi mempengaruhi entry di waktu tertentu?

Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana emosi bekerja dalam diri trader, mengapa waktu tertentu lebih rentan memicu keputusan emosional, serta bagaimana cara menguji dan mengendalikan pengaruh tersebut secara sistematis.


Mengapa emosi sangat berpengaruh dalam trading

Trading adalah aktivitas dengan tekanan psikologis tinggi. Setiap keputusan melibatkan risiko kehilangan uang, harapan profit, dan ketidakpastian hasil. Otak manusia secara alami tidak dirancang untuk menghadapi ketidakpastian berulang dalam waktu singkat. Akibatnya, emosi seperti takut, serakah, cemas, marah, dan euforia sering muncul tanpa disadari.

Masalahnya, emosi ini jarang muncul secara acak. Biasanya, emosi dipicu oleh kondisi tertentu, seperti:

  • Setelah mengalami loss berturut-turut

  • Setelah profit besar dalam waktu singkat

  • Saat market bergerak sangat cepat

  • Saat trader sedang lelah atau stres

  • Pada jam-jam tertentu dalam rutinitas harian

Dari sinilah muncul pertanyaan penting: apakah ada waktu tertentu di mana emosi trader lebih dominan dan akhirnya mempengaruhi kualitas entry?


Hubungan antara waktu dan kondisi psikologis trader

Setiap trader memiliki ritme biologis dan rutinitas harian yang berbeda. Kondisi mental pada pagi hari tentu tidak sama dengan malam hari. Beberapa contoh umum yang sering terjadi:

  1. Pagi hari
    Sebagian trader merasa lebih segar, fokus, dan objektif. Namun, ada juga yang justru terburu-buru karena ingin “memulai hari dengan profit”. Dorongan untuk segera entry sering kali bukan karena setup jelas, tetapi karena ekspektasi emosional.

  2. Siang hari
    Di jam ini, kelelahan mulai muncul. Konsentrasi menurun, apalagi jika trader juga memiliki aktivitas lain. Entry yang dilakukan di jam ini sering dipengaruhi rasa bosan atau keinginan “sekadar trading”.

  3. Sore hingga malam hari
    Emosi cenderung lebih kompleks. Ada trader yang merasa lebih tenang, tetapi banyak juga yang mengalami tekanan setelah melihat hasil trading seharian. Jika pagi atau siang mengalami loss, malam hari sering menjadi waktu balas dendam (revenge trading).

  4. Larut malam
    Kondisi fisik yang lelah membuat kontrol emosi menurun. Entry di jam ini sering tidak berdasarkan rencana, melainkan impuls.

Dari gambaran ini, jelas bahwa waktu sangat berkaitan erat dengan kondisi emosi.


Emosi yang paling sering mempengaruhi entry di waktu tertentu

Untuk melakukan uji yang efektif, trader perlu mengenali jenis emosi yang muncul dan kapan emosi tersebut paling sering terjadi.

Fear (takut)
Biasanya muncul setelah loss. Trader menjadi ragu-ragu, terlambat entry, atau justru entry terlalu cepat karena takut ketinggalan.

Greed (serakah)
Sering muncul setelah profit, terutama di jam aktif market. Trader merasa “market sedang mudah” dan mulai entry tanpa filter ketat.

FOMO (fear of missing out)
Sangat sering terjadi saat market bergerak cepat di jam tertentu. Trader entry bukan karena setup, tetapi karena tidak ingin ketinggalan peluang.

Anger dan frustration
Muncul setelah kesalahan atau stop loss yang dirasa “tidak adil”. Emosi ini sering memuncak di waktu tertentu, misalnya setelah jam kerja atau di malam hari.


Cara menguji apakah emosi mempengaruhi entry berdasarkan waktu

Uji ini tidak bisa dilakukan hanya dengan perasaan. Diperlukan pendekatan terstruktur dan objektif.

1. Membuat jurnal trading berbasis waktu dan emosi
Setiap entry harus dicatat dengan detail:

  • Jam entry

  • Kondisi market

  • Alasan entry (sesuai setup atau tidak)

  • Kondisi emosi sebelum entry

  • Hasil trade

Dalam kolom emosi, tuliskan secara jujur: tenang, terburu-buru, takut, percaya diri berlebihan, lelah, atau emosi lainnya.

2. Kategorikan waktu trading
Misalnya:

  • Pagi (06.00–10.00)

  • Siang (10.00–15.00)

  • Sore (15.00–18.00)

  • Malam (18.00–23.00)

Tujuannya agar mudah melihat pola.

3. Bandingkan kualitas entry, bukan hanya hasil
Trade profit belum tentu entry yang baik. Fokus pada:

  • Apakah entry sesuai rencana

  • Apakah ada pelanggaran aturan

  • Apakah entry dipicu emosi

Sering kali trader menemukan bahwa entry di jam tertentu lebih sering melanggar rules meskipun kadang profit.

4. Evaluasi setelah periode tertentu
Lakukan uji minimal 2–4 minggu. Setelah itu, analisis:

  • Di jam mana paling banyak entry impulsif

  • Di jam mana emosi paling dominan

  • Di jam mana disiplin paling terjaga


Hasil umum yang sering ditemukan trader

Banyak trader yang melakukan uji ini menemukan pola menarik, seperti:

  • Entry pagi lebih disiplin dan terencana

  • Entry malam lebih emosional dan impulsif

  • Loss terbanyak bukan karena strategi, tetapi karena entry di waktu emosional

  • Profit konsisten justru datang dari jam trading yang lebih sedikit

Kesimpulan ini sering mengejutkan, karena sebelumnya trader mengira masalah ada pada sistem, padahal akar masalahnya adalah waktu dan emosi.


Cara mengurangi pengaruh emosi pada waktu rawan

Setelah mengetahui waktu mana yang paling berisiko secara emosional, langkah selanjutnya adalah pengendalian.

Batasi jam trading
Tidak semua jam harus ditradingkan. Fokus hanya pada jam di mana kondisi mental paling stabil.

Gunakan checklist sebelum entry
Checklist membantu memutus impuls. Jika satu poin tidak terpenuhi, entry dilarang.

Pasang jeda waktu (cooling down)
Jika emosi meningkat, berhenti trading 15–30 menit sebelum mengambil keputusan baru.

Terima bahwa tidak semua peluang harus diambil
Kehilangan peluang lebih baik daripada entry dengan emosi yang salah.


Mengubah fokus dari “kapan market bergerak” menjadi “kapan saya siap”

Trader profesional tidak hanya bertanya, “Apakah market sedang bagus?”, tetapi juga, “Apakah saya sedang dalam kondisi terbaik untuk trading?”. Kesadaran ini menjadi pembeda antara trader yang bertahan lama dan trader yang terus mengulang kesalahan.

Dengan menguji pengaruh emosi terhadap entry di waktu tertentu, trader belajar mengenali dirinya sendiri. Trading bukan lagi sekadar adu indikator, tetapi proses pengelolaan diri.


Menguasai aspek psikologi trading seperti ini membutuhkan bimbingan yang tepat, latihan terstruktur, dan lingkungan belajar yang mendukung. Program edukasi trading yang komprehensif akan membantu trader memahami bukan hanya cara membaca market, tetapi juga cara membaca emosi diri sendiri secara objektif dan disiplin.

Jika Anda ingin meningkatkan kualitas keputusan trading dan membangun kebiasaan yang lebih terkontrol, mengikuti program edukasi trading dari Didimax dapat menjadi langkah strategis. Melalui materi, simulasi, dan pendampingan yang sistematis, Anda akan dibimbing untuk menjadi trader yang tidak hanya paham strategi, tetapi juga kuat secara mental. Kunjungi www.didimax.co.id dan mulai perjalanan Anda menuju trading yang lebih terarah dan profesional.