Apa yang terjadi di pasar
Kenaikan pesat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kini bukan sekadar masalah bagi pemerintah dan tumpukan utangnya yang mencapai $40 triliun. Naiknya yield ini mengancam akan menaikkan biaya pinjaman secara meluas, mulai dari kredit pemilikan rumah (KPR/hipotek) hingga kartu kredit, sekaligus memberikan keuntungan bagi penabung dan memicu kejatuhan di pasar saham. Pada perdagangan Rabu, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Obligasi acuan tenor 10 tahun mencatatkan yield hingga 5,135%, level tertinggi sejak pertengahan 2007. Sementara itu, obligasi tenor 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga acuan, naik melewati 4,9%. Lonjakan ini dipicu oleh akumulasi beberapa factor, antara lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, lemahnya permintaan lelang obligasi: lelang obligasi tenor 5 tahun dan sentiment kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan hubungan AS-Iran turut memperbesar kekhawatiran inflasi. Langkah likuiditas terbaru dari Menteri Keuangan Scott Bessent, termasuk peningkatan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang, sejauh ini belum mampu meredam gejolak pasar. Kenaikan imbal hasil obligasi umumnya langsung mentransmisikan tekanan ke suku bunga pinjaman di sektor riil. Hal ini berpotensi menghantam konsumen AS yang menopang hampir 70% aktivitas ekonomi nasional dan saat ini memegang total utang hingga $19 triliun. Pasar memperkirakan peluang sebesar 73% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir Oktober mendatang. Ekspektasi ini makin kuat setelah Gubernur Fed Michael Barr mengindikasikan perlunya pengetatan kebijakan lebih lanjut. Naiknya imbal hasil obligasi dan kekhawatiran atas kenaikan suku bunga lanjutan membuat bursa saham Wall Street ditutup melemah pada hari Rabu. Di tengah tingginya dinamika pasar, fokus investor kini tertuju pada kebijakan perdagangan dan energi Presiden Donald Trump, termasuk wacana pembatasan ekspor diesel serta perkembangan diplomasi terkait situasi Selat Hormuz dengan Iran yang berpotensi memengaruhi laju inflasi global ke depan.
Ekspektasi Pasar
Dengan melihat Fenomena yang terjadi saat ini maka diprediksi XAUUSD = Sideways Cenderung Netral - XAGUSD = Sideways Cenderung Netral – AUDUSD = Sideways Cenderung Netral
Trading Plan :
XAUUSD: SIDEWAYS
Buy Limit: 4154 – 4236 dengan target 4318 – 4410
Stoploss 4010
Grafik XAUUSD time frame D1

XAGUSD: SIDEWAYS
Buy Limit: 59.16 – 62.37 dengan target 65.94 – 68.57
Stoploss 54.59
Grafik XAGUSD time frame D1

AUDUSD: SIDEWAYS
Buy Limit: 0.6922 – 0.6977 dengan target 0.7072 – 0.7116
Stoploss 0.6844
Grafik AUDUSD time frame D1

Disclaimer
Fundamental bukanlah teknikal yang dapat berubah dalam hitungan menit bahkan jam, tetapi fundamental merupakan suatu gambaran besar atas pandangan kedepan yang dapat terjadi dalam rentang waktu yang lebih panjang. Perhitungkan money management sangat diperlukan sebelum melakukan transaksi mengingat setiap transaksi dalam forex dapat berakibat habisnya dana yang ditransaksikan. Trading pada prinsipnya adalah Risk Management dan bukan Profitabilitas semata.
